f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
mencuci piring

Laki-laki yang Mencuci Piring

Sepertinya banyak, termasuk aku, bahkan barangkali semua laki-laki menjejali diri dengan keyakinan. Memupuk tumbuhnya pengakuan dari orang lain, yakni perempuan-perempuan, untuk memvalidasi. Bahwa laki-laki adalah spesies andal. Makhluk perkasa, lagi diberkahi kecerdasan. Melayani bukan dilayani. Berpengaruh, bukan pesuruh. Berjiwa kelayan, bukan seorang pelayan.

Jika perlu luapkan amarah, sebab tidak mengesankan, jika ia lemah. Sebab, laki-laki bukan makhluk pencuci piring di rumahnya sendiri. Itulah stigma laki-laki. Konon..

Saat aku mencuci piring saat sendirian (1)

Pada malam yang larut di rumah, tanpa lain orang. Membuka kran wastafel, meresapi gemericik air mengalir. Memegang spons, merasakan busa di jari-jari. Mendengarkan gesekan piring, gelas atau sendok, juga denting benturan. Menghimpun ampas-ampas dalam kantong plastik untuk dipindah dalam wadah sampah. Semua menjelma musik yang membangkitkan ingatan.

Tergugah ingatan saat aku anak-anak. Tentang ibuku. Tiap kali aku, puteranya, hendak sarapan. Piring-piring itu telah tertata di meja. Sudah kalis, tanpa tahu kapan dibereskan. Hanya sekali anak laki-lakinya kebetulan melihatnya. Atau sekadar menduga-duga. Sebab jelas nyaris tak benar-benar hadir di sana. Saat ia mengerjakannya. Yang terang, siangnya telah tertib di rak sederhana. Banyak hal yang kulupakan. Banyak detail yang terlewatkan. Detail-detail yang hanya disentuh perempuan.

Saat aku mencuci piring saat sendirian (2)

Mewujud sebuah keharuan. Terngiang waktu ibuku mengerjakan. Oh, tidak, sesungguhnya aku melihatnya sekilas, pergi sambil berlalu. Sementara ibu bergegas mencuci bekas-bekas. Piring, sendok, garpu, sendok nasi, panci, wajan, juga gelas. Segala piranti dan perkakas.

Ada kalanya mungkin hatinya mendesah. Melihat remah-remah yang tersisa banyak. Betapa tak pendek semua residu hidangan itu melewati perlakuan, sejak disiapkan. Harus dibuang.

Pasti saat piring-piring itu dilap, aku sudah lenyap. Beranjak ke kamar atau lekas pergi keluar. Tahu-tahu, saat jam makan malam tiba. Piring bermotif kembang dan mangkok berornamen gambar jago telah tertata. Siap di meja. Entah, kapan tepatnya dilakukan. Urusanku, makan kenyang begitu saja. Di mana-mana seorang ibu selalu menganggap anak laki-laki adalah pangeran. Kandidat seorang raja.

Baca Juga  Teruntuk Semuanya yang Telah Berlalu, Terima Kasih Sudah Bertahan Sampai Saat Ini

Sesaat laparku telah dilayani. Aku sudah tak peduli. Membuka buku. Seringnya, sekadar mencorat coret lembar kosong. Lebih kerap lagi, malah sibuk dengan angan-angan. Dari balik tembok, aku hanya mendengar suara gemercik air. Atau dentang piring atau gelas beradu. Mungkin ibuku melakukan ritual itu, sembari bersalawat. Memanjatkan doa anaknya menjadi tumpuan harapan.

Memang nyaris sangat jarang, tapi bukan berarti tak pernah. Terdengar piring yang pecah. Terbelah. Bahkan berdenting keras. Jika itu terjadi, pasti itu kecelakaan kecil saja. Tetapi jika aku mendengar berkali-kali. Tandanya ibu lelah.

Ah, tidak. Pasti sedikit menahan marah atas ulah dan buruknya pekertiku. Jahatnya, pada saat yang sama aku duduk-duduk bersenda gurau hingga larut, bersama teman-teman di atas jembatan.

Ya, mencuci piring sendirian. Adalah saat mengikuti teladan yang diberikan perempuan, yaitu kesabaran.

Puluhan tahun. Ya, tiap hari. Melakukannya tanpa ada protes. Tak ada tawar menawar. Aku lupa, lelaki lupa, itu tak pernah dicatat sebagai pencapaian. Sementara anaknya mengejar prestasi. Prestasi pribadi?

Saat aku mencuci piring saat sendirian (3)

Terbuka lagi jendela kenangan. Peristiwa yang seakan berkelebat cepat, saat harus belajar hidup jauh. Aku mengutuk diri karena tak terlatih, melakukan ritual perempuan. Aku melakukannya, hanya ketika piring itu hendak digunakan. Betapa biasa, membiarkan residu kopi itu. Berhari-hari mengering di gelas.

Saat aku tengah mencuci piring sendirian. Teringat istriku. Aku terlalu egois untuk tidak memuji. Memang tak pernah dinyatakan. Tetapi laki-laki sepertiku, kerap bergumam meremehkan. Apa susahnya mencuci piring.

Saat kini harus mencuci piring sendirian. Di rumahku sendiri. Artinya, istriku pergi keluar kota, satu hari atau beberapa lama. Juga, tatkala raganya tak sehat. Saat aku menjalani hari yang tak biasa. Bukan hari-hari biasa tatkala dia sibuk memastikan sarapanku. Ditambah ini itu, menyiapkan semua perlu anak perempuanku. Agar aku bisa pergi sebelum jam setengah tujuh.

Baca Juga  Masalah dalam Rumah Tangga; Meretakkan atau Merekatkan Hubungan?

Aku alpa, tak bertanya. Aku terlambat tahu, apakah dia sempatkan sarapan. Sebab iapun harus sampai ditempatnya berkarya sebelum malu atau mendapat teguran.

Biasanya dia mencuci piring begitu selesai aku makan malam. Lalu, aku sudah kembali ke meja. Di depan laptopku, dekat buku-buku. Sesekali, sekadar bersua bersama bapak-bapak tetangga.

Saat aku mencuci sendirian. Terbayang wajah anak perempuanku. Berharap suatu saat ia cekatan. Mewariskan, tepatnya belajar kesabaran. Saat mencuci sendirian, adalah saat aku berdoa. Suatu ketika, kamu, anakku mempunyai seorang lelaki pendamping hidup. Jauh lebih hebat dari ayahmu. Mencuci priring adalah saat harapan dipanjatkan.

Saat aku mencuci piring saat sendirian (4)

Saat aku mencuci piring sendirian. Tembok dapur dan ruang tempatku membaca, bersebelahan. Tetapi, aku terlambat untuk menyadari. Bahwa piring tak mengambil jarak. Bukankah piring-piring itu tak pernah bertanya, jenis kelaminmu. Tak mewajibkan perempuan. Atau meminta laki-laki. Ia tak pernah memaksa.  

Ketika aku mencuci piring. Aku ingat perempuan-perempuanku. Ibuku, istriku, anak perempuanku. Memastikan ada gas tersedia. Menjamin api harus menyala. Memastikan magic jar tersambung. Mengecek listrik masih mengairkan daya. Menastikan air mengalir. Memastikan semua terlunaskan.

Saat aku mencuci sendirian. Bagi banyak lelaki itu membutuhkan keberanian. Keberanian untuk mencuci piring di rumahnya sendiri. Agar tidak berpaling. Atau hanya sibuk mengesankan dirinya sebagai makhluk yang mengandalkan kehebatan, kekuatan, serta kecerdasan.

Mencuci piring adalah jalan panjang. Nyaris tanpa putus-putus. Ia seperti garis normal, tak pernah dilirik. Hanya sebagai sambil lalu saja. Laki-laki menganggap itu ritual, garis perempuan.

Saat aku mencuci piring sendirian. Ada Kesedihan, kesepian dan sara-suara yang mengabarkan. Bukan musik yang bising. Melainkankan musik yang membisikkan :

Baca Juga  Menyikapi Kepahitan Hidup dengan Rasa Iman

“Lelaki, harusnya sering-sering mencuci piring. Pekerjaan yang membutuhkan kesetiaan, kesabaran, kepasrahan dan kasih sayang. Paling tidak, wajibkan dirinya menghadirkan kegembiraan yang berulang-ulang, tanpa jeda.

Ketika mencuci piring sendirian. Seorang lelaki malu. Saat masih menyembunyikan kecurangan, pemaksaaan atau ketidakmautahuan”

Dan, saat mencuci piring sendirian. Aku tertunduk berharap  perempuan-perempuanku memaafkan. Sepanjang ini aku belum turut memainkannya sebagai musik kegembiraan.

Mencuci piring bukan sekadar ritual perempuan, melainkan hari-hari, saat lelaki ikut merayakan. 

Bagikan
Post a Comment