Menyulam Kasih di Tengah Kesibukan: Menciptakan Keluarga Sakinah di Era Modern
Dalam kehidupan modern yang penuh dengan tekanan dan tantangan, penciptaan sebuah keluarga sakinah—yaitu keluarga yang harmonis, damai, dan penuh kasih—menjadi tujuan yang sangat penting. Istilah “sakinah” dalam bahasa Arab berarti ketenangan dan kedamaian, dan dalam konteks keluarga, ini mencerminkan harapan akan hubungan yang penuh kebahagiaan, kehangatan, dan kestabilan. Prinsip-prinsip parenting dalam Islam dapat menjadi panduan yang sangat berguna untuk mencapai tujuan ini, mengarahkan kita menuju pola asuh yang mendukung kesejahteraan keluarga secara holistik.
Salah satu fondasi utama dalam menciptakan keluarga sakinah adalah kasih sayang yang mendalam dan kepedulian antar anggota keluarga. Nabi Muhammad Saw. menekankan pentingnya menunjukkan kasih sayang dalam rumah tangga. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda, “الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ اللَّهُ “Kasih sayang kepada orang lain adalah salah satu tanda kasih sayang Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Ini menggarisbawahi bahwa kasih sayang bukan hanya tindakan emosional tetapi juga cerminan dari hubungan kita dengan Tuhan.
Parenting yang baik dalam Islam menekankan pentingnya mengungkapkan kasih sayang secara nyata, baik dalam bentuk verbal maupun tindakan. Memeluk anak, memberi pujian, dan menunjukkan empati saat mereka mengalami kesulitan adalah bentuk-bentuk kasih sayang yang dapat memperkuat ikatan keluarga dan menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman bagi anak-anak untuk berkembang.
Dalam Islam, mendidik anak tidak hanya melalui perkataan tetapi juga melalui teladan. Nabi Muhammad Saw. adalah contoh utama dalam hal ini. Beliau tidak hanya mengajarkan nilai-nilai agama melalui ceramah, tetapi juga dengan menunjukkan perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam Surah Al-Ahzab ayat 21, Allah berfirman,
قَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (Q.S Al-Ahzab [33]: 21).
Ini menunjukkan bahwa tindakan dan perilaku orang tua memiliki dampak besar pada pembentukan karakter anak-anak.
Orang tua yang ingin menciptakan keluarga sakinah harus berusaha untuk menjadi contoh yang baik dalam setiap aspek kehidupan mereka. Ini termasuk menunjukkan sikap sabar, jujur, dan adil, serta berkomitmen untuk menjalankan ajaran agama dengan konsisten. Anak-anak cenderung meniru perilaku orang tua mereka, jadi menjadi teladan yang baik adalah salah satu metode parenting yang paling efektif.
Komunikasi yang sehat dan terbuka adalah kunci untuk membangun hubungan keluarga yang kuat dan harmonis. Dalam Islam, komunikasi harus dilakukan dengan penuh adab dan saling menghormati. Rasulullah Saw. menekankan pentingnya berbicara dengan baik dan menghindari kata-kata kasar.
Dalam Surah Al-Isra’ ayat 53, Allah berfirman,
وَقُلْ لِّعِبَادِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوًّا مُّبِيْنًا
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengatakan perkataan yang lebih baik Sungguh, setan itu (selalu) menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sungguh, setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (Q.S Al-Isra’ [17]: 53).
Ini mengajarkan kita untuk memilih kata-kata kita dengan hati-hati dan berbicara dengan cara yang membangun, bukan merusak.
Di rumah, komunikasi harus dilakukan dengan cara yang membangun kepercayaan dan keterbukaan. Orang tua harus memberikan ruang bagi anak-anak untuk berbicara dan mengekspresikan perasaan mereka tanpa takut dihakimi. Hal ini tidak hanya memperkuat hubungan keluarga tetapi juga membantu anak-anak merasa lebih dihargai dan didengarkan.
Pendidikan agama adalah bagian integral dari parenting dalam Islam. Menanamkan nilai-nilai agama sejak dini membantu anak-anak memahami prinsip-prinsip moral dan etika yang akan membimbing mereka sepanjang hidup. Dalam Surah Al-Luqman ayat 13, Allah berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, sedang ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik adalah kedzaliman yang besar.”
Orang tua harus melibatkan anak-anak dalam kegiatan religius seperti salat bersama, membaca Alquran, dan menghadiri kajian agama. Ini membantu anak-anak memahami dan menghargai ajaran Islam serta membangun hubungan mereka dengan Tuhan. Mengajarkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kasih sayang merupakan bagian penting dari pendidikan agama yang dapat membantu mereka menjadi individu yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat.
Dalam dunia modern yang sering kali sibuk, penting bagi orang tua untuk menjaga keseimbangan antara waktu yang dihabiskan untuk keluarga dan pekerjaan. Rasulullah Saw. menekankan pentingnya waktu berkualitas bersama keluarga. Beliau bersabda خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku” (HR. Al-Tirmidzi).
Menjaga keseimbangan ini melibatkan perencanaan waktu yang efektif dan prioritas yang jelas. Meluangkan waktu untuk berkumpul, berbicara, dan beraktivitas bersama keluarga membantu memperkuat ikatan dan memastikan bahwa setiap anggota keluarga merasa diperhatikan dan dihargai. Menciptakan keluarga sakinah melalui parenting dalam Islam melibatkan penerapan prinsip-prinsip kasih sayang, teladan, komunikasi efektif, nilai-nilai agama, dan keseimbangan kehidupan. Dengan mengikuti panduan-panduan ini, orang tua dapat membangun lingkungan yang mendukung perkembangan dan kesejahteraan semua anggota keluarga. Keluarga yang harmonis tidak hanya meningkatkan kebahagiaan individu tetapi juga membentuk masyarakat yang lebih baik dan lebih kuat. Dalam upaya ini, orang tua tidak hanya menjadi pendidik tetapi juga menjadi teladan dan pilar utama dalam menciptakan keluarga yang penuh dengan cinta, kedamaian, dan keimanan.
Mahasantri Ma’had Aly Situbondo, minat kajian Fikih dan Ushul Fikih.
