Baku Jaga dalam Membesarkan Anak
Suatu ketika saya bertemu dengan seorang teman yang sebentar lagi akan menempuh hidup baru, teman saya ini adalah seorang perempuan yang sangat aktif dibdunia publik. Dia adalah seorang peneliti disalah satu lembaga pemerintah yang dalam sebulan pasti harus melakukan kunjungan lapangan untuk kepentingan penelitian. Perbincangan kami tidak jauh dari suka duka berumah tangga bagi seorang working mom. Dia menanyakan bagaimana saya mengatur porsi waktu antara mengurus anak dan bekerja. Kesulitan apa yang saya rasakan dan bagaimana saya mengatasinya.
Hal ini memang kerap menjadi masalah dalam sebuah rumah tangga; perempuan harus selalu diperhadapkan dengan pilihan antara menjadi ibu yang baik dan menjadi perempuan yang sukses bekerja di luar rumah. Sangat jarang perempuan yang bisa menjalani keduanya. Hal itu sangat tergantung dukungan dari pasangan dalam mengerjakan segala hal yang sifatnya domestik termasuk pengasuhan anak mulai dari yang teknis hingga subtantif.
***
Salah satu komitmen yang harus didiskusikan bersama pasangan sebelum menikah adalah tentang konsep mendidik anak. Anak adalah anugrah dari Yang Mahakuasa oleh karena itu dalam mendidik dan membersarkan dibutuhkan kerjasama yang seimbang antara kedua orang tua. Tidak sedikit di antara masyarakat yang menganggap bahwa tanggung jawab pengasuhan hanyalah tanggung jawab istri. Hal ini terutama jika istri melakoni sebagai ibu rumah tangga seutuhnya; sehingga segala persoalan domestik dan pengasuhan anak diserahkan sepenuhnya kepada mereka.
Sementara suami memiliki tugas utama untuk mencari rezeki di luar rumah terkadang merasa tidak perlu turut bertanggung jawab dalam pengasuhan anak – anaknya di rumah. Sering sekali kita temui di masyarakat ketika ada anak yang mendapatkan masalah baik itu secara fisik maupun psikis; saat anak bermasalah di sekolah, di tempat bermain, bahkan ketika anak terluka karena masalah tertentu maka orang nomor satu yang disalahkan adalah ibunya. Bahkan cenderung suami pun turut serta menyalahkan istrinya atas apa yang dialami oleh anaknya. Sebaliknya, jika anak mendapatkan prestasi tertentu maka orang pertama yang ditanyakan adalah siapa bapaknya. Hal ini menjadi sesuatu yang lumrah dalam masyarakat kita.
Kesalingan dalam pengasuhan bukan hanya persoalan berbagi pekerjaan antara suami dan istri saja; namun secara lebih substansial kesalingan orang tua dalam pengasuhan sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak. Kedua orang tua memiliki porsi yang sama-sama penting yang tidak bisa digantikan dengan alasan kesibukan. Misalnya, seorang suami yang harus melakukan pekerjaan dari pagi hingga sore, 6 hari dalam seminggu, bahkan kadang-kadang harus membawa pekerjaan kantor pulang ke rumah.
Apapun kesibukannya, ketika sudah sampai di rumah maka ayah harus mengambil peran dalam mengasuh anak – anaknya. Bukan hanya sekedar bercengkrama dan bermain tetapi harus ambil bagian mulai dari aspek teknis hingga hal penting seperti bercerita dan berinteraksi dengan anak secara lebih dalam.
***
Seyogyanya tidak boleh ada dominasi dalam membangun rumah tangga terutama dalam hal mendidik anak. Dominasi hanya akan melahirkan perasaan siapa yang harus mempengaruhi siapa; akan ada konotasi siapa yang lebih berhak untuk melakukan apa, siapa yang lebih bertanggung jawab terhadap apa dan siapa yang lebih berhak memutuskan apa. Realitasnya dalam hal pengasuhan terhadap anak banyak orang tua yang tidak menerapkan konsep kesalingan. Efeknya terhadap anak mungkin tidak dilihat saat itu juga, tetapi dalam waktu yang lama. Setelah anak-anak tumbuh dewasa mereka akan menyimpulkan siapa yang paling berjasa dalam hidupnya dan akan mempengaruhi sikap mereka terhadap orang tuanya di masa yang akan datang.
Secara psikologis dukungan suami dalam pengasuhan anak akan sangat mempengaruhi karakter anak. Sebuah penelitian mahasiswa Universitas Atmajaya tentang keterlibatan ayah dalam pengasuhan menggambarkan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan meliputi lima komponen, yaitu (a) activity engagement; (b) warmth- responsiveness; (c) control; (d) indirect care; dan (e) process responsibility. Pada remaja perempuan, peran ayah dapat membangun harga diri positif dan menumbuhkan keinginan berprestasi. Pada remaja laki-laki, peran ayah mampu mengembangkan motivasi untuk sukses dan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.
Activity engagement adalah adanya interaksi yang intens antara ayah dan anak dalam kehidupan sehari-hari. Warmth- responsiveness lebih kepada adanya kehangatan dalam komunikasi antara ayah dan anak, sehingga anak merasa nyaman. Control dimaknai sebagai partisipasi ayah dalam membuat aturan, melakukan monitoring terhadap pelaksanaan aturanaturan tersebut, dan membuat keputusan terkait dengan aturan-aturan tersebut.
Sedangkan indirect care adalah berbagai aktivitas yang dilakukan oleh ayah untuk memenuhi kesejahteraan anak, namun tidak melibatkan interaksi secara langsung dengan anak; dan process responsibility. Komponen ini menjelaskan bahwa dalam pengelolaan rumah tangga dan pengasuhan anak bersama pasangan, ayah memiliki kepekaan untuk melihat adanya kebutuhan-kebutuhan dan berinisiatif untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu.
***
Hal ini dimulai dengan langkah sederhana, misalkan mengatur jadwal dengan pasangan. Seorang suami bisa berpartisipasi dalam mengurus anak pagi hari sebelum berangkat bekerja; sepulang dari kantor bisa kembali berdiskusi dengan istri terkait hal apa saja yang sudah lalui bersama anak hari itu. Tawarkan bantuan dan solusi terbaik pada setiap kendala dalam mengurus anak di rumah. Serta selalulah mengedepankan komunikasi yang terbuka pada keluarga.
Baik ibu maupun ayah tidak boleh lepas tangan dalam segala aktivitas yang berkaitan dengan anak karena urusan pekerjaan. Sejak awal tugas mengurus anak harus proporsional dan professional oleh keduanya, terlebih jika kedua orang tua berkerja . Yah jika sehari ada 24 jam maka porsinya 12: 12. Dengan demikian kita bisa baku jaga agar tidak ada yang merasa lebih banyak berkorban.
Dosen Uin Alauddin Makassar

Mia ELbugis
Baku Jaga Baku sayang….
Meisil
MasyaAllah like it