f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ki nyi hadjar

Bukan Siapa Menuruti Siapa: Refleksi Romansa Ki dan Nyi Hadjar Dewantara

“Silakan kalau Ki Hadjar mau terjun kembali ke gelanggang kepartaian, tapi saya tidak akan ikut.”

Tegang! Mungkin kesan semacam itu yang terasa ketika Nyi Hadjar Dewantara yang biasanya tampak anggun dan penyayang bertutur demikian pada sang suami. Jauh sebelum dinobatkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara memang lebih gethol berjuang di ranah politik. Tidak terhitung berapa kali ia harus keluar masuk penjara karena tulisan-tulisannya yang menampar wajah pemerintah kolonial.

Seiring berjalannya waktu, beliau dan istrinya kemudian tergerak membangun jalan perjuangan baru; yakni di dunia pendidikan dengan mendirikan sebuah sekolah perguruan Tamansiswa. Namun siapa sangka, saat kondisi pergerakan bangsa kita menjadi terpecah belah di tahun 1930-an, Ki Hadjar tergelitik kembali untuk berjuang di ranah politik. Pada saat itulah, Nyi Hadjar Dewantara tegas mengangkat suara.

Siapa Menuruti Siapa?

Kerap terjadi dalam budaya kita sehari-hari bahwa segala persoalan rumah tangga harus diputuskan solusinya oleh kepala keluarga, yang umumnya dipegang oleh sang suami. Dalam menentukan mau tinggal di mana, punya anak berapa, gimana karier istrinya, dan sebagainya, sang suami punya kekuasaan mutlak di dalamnya. Sayangnya tidak sedikit pandangan yang menggunakan narasi soal “kewajiban taat pada suami” untuk menyudutkan para istri supaya mau menerima bulat dan tinggal menuruti segala keputusan sesuai keinginan suaminya.

Sedangkan pada kenyataannya, ada banyak pengalaman membuktikan bahwa seorang istri; dalam hal ini perempuan, bisa turut memberikan perspektif lain yang penting untuk dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan keluarga. Bahkan tidak jarang, pendapat itulah yang lebih masuk akal untuk dijadikan landasan membuat keputusan. Kisah Ki Hadjar Dewantara dan Nyi Hadjar Dewantara bisa menjadi salah satu refleksi bagi kita. Ketika Ki Hadjar berniat kembali berjuang di dunia politik, sang istri mencoba menahannya dengan memberikan pendapatnya.

Baca Juga  Bisakah Perempuan sebagai Aktor Resolusi Konflik ?

“Prajurit-prajurit di garis depan bisa saja gugur satu demi satu sebagai pahlawan, medan perjuangan bisa pula berantakan, akan tetapi selama Tamansiswa sebagai sumber Candrabirawa masih tegak, maka prajurit-prajurit pejuang kemerdekaan akan terus dilahirkan, mati satu tumbuh seribu, dan front depan akan tersusun kembali.”

***

Begitulah kira-kira tuturan tegas tapi halus dari seorang Nyi Hadjar Dewantara yang termaktub dalam buku biografi yang ditulis oleh putranya. Beliau memberikan gambaran betapa rapuhnya situasi politik saat itu dan menyatakan bahwa perjuangan di dunia pendidikan adalah yang paling strategis untuk dilakukan. Apalagi mengingat sudah banyak pejuang bangsa yang terjun di medan pergerakan; biarlah Ki Hadjar Dewantara fokus untuk mempersiapkan para penerus perjuangan dengan mendidiknya di bangku sekolah.

Oleh karena keteguhan hati sang istri itulah, akhirnya Ki Hadjar Dewantara merelakan keinginannya kembali ke dunia politik. Ini menunjukkan kebesaran hati seorang suami yang mau mendengarkan pendapat istrinya. Kita diingatkan bahwa ikatan pernikahan suami-istri bukanlah soal siapa yang nantinya menuruti siapa; melainkan bagaimana setiap insan bisa saling menghargai dan saling mengingatkan, termasuk dalam membuat keputusan bersama. Sebab keduanya diciptakan utuh sebagai manusia yang bisa saling mengisi satu sama lainnya.

Sebagaimana dalam banyak undangan manten yang dikirimkan kepada kita (hihihi, atau malah sudah pernah mengirimkan?), sering ditemukan ayat; “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu kasih dan sayang.”

Soal Membicarakan Perbedaan

Perbedaan meski kadang kesannya menjadi penghalang, sebetulnya kerap sekali memberikan kekayaan cara pandang. Sering kali orang takut untuk membicarakan pendapat berbeda karena dikhawatirkan akan timbul benturan atau hal-hal yang tidak mengasyikkan. Padahal itu masih asumsi. Selain itu, yang lebih penting, siapa tahu dari perbedaan tersebut, ada alternatif baru untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Baca Juga  Belajar dari Rasa Kehilangan Amanah Tuhan

Kalau dipikir-pikir, apabila Nyi Hadjar Dewantara tidak menyampaikan keresahannya, mungkin ia tidak akan enak hati menjalani kehidupan setelah itu. Juga sang suami tidak mendapat perspektif lain yang ternyata lebih masuk akal di tengah kondisi politik yang tak tentu. Beruntunglah Nyi Hadjar Dewantara begitu tegas menuturkan, “Saya tidak akan ikut. Saya akan tetap tinggal di sini dan bekerja keras untuk membesarkan Tamansiswa.”

Mungkin tidak betul-betul Nyi Hadjar ingin berpisah dengan Ki Hadjar Dewantara; namun ia ingin menegaskan ketetapan hatinya bahwa perjuangan di pendidikan-lah yang menurutnya tepat dilakukan. Suaminya pun mengubah arah layar kapal di batinnya. Buah dari keteguhan hati sang istri itu muncul pada salah satu kutipan pidato Ki Hadjar Dewantara saat menerima gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada; “Aku tak tahu apa yang akan terjadi dengan hari kemudian apabila tiada Nyi Hajar.”

Sebegitu besar cinta dan penghargaan beliau terhadap istrinya. Bulan April ini menjadi momen yang khidmat untuk mengambil refleksi dari kisah cinta dua sosok pahlawan tersebut; mengingat Nyi Hadjar Dewantara dan Ki Hadjar Dewantara berpulang masing-masing pada tanggal 16 April dan 26 April di tahun yang berbeda. Semoga kita sama-sama bisa belajar dari keduanya.

Bagikan
Comments
  • Jarwati Susiloningsih

    Bagus inspiratif mengena

    April 5, 2021
  • Muryani Jalasutra

    Bagus mb cantik. Inspiratif.

    April 6, 2021
    • Aamiin. Terima kasih Bu Pandi. Doanya semoga mau belajar lebih🙏😊

      April 6, 2021
  • Srie Herislina

    Keren,,,, menginspirasi saya sebagai seorang perempuan

    April 6, 2021
    • Terima kasih Bu Heris yg selalu penuh semangat dan suportif🙏😊

      April 6, 2021
  • Yuli Kuswandari

    Tulisan yang sangat inspiratif dan luarrr biasa.

    April 7, 2021
  • Maesaroh

    Bagus tulisan yg sangat luar biasa

    April 7, 2021
  • Mimi Chandra

    MasyaAllah, indah dan mengharukan tulisan ananda Wardah ini, mungkin banyak yang baru tahu (terutama saya), ternyata dibalik kelembutan Nyi Hajar Dewantara ada ketegasan yang sangat berguna sampai saat ini dan Ki Hajar Dewantara berjiwa besar menerimanya pendapat istrinya yang sangat fenomenal.
    Sepertinya tulisan andan mb. Wardah mengingatkan juga bulan depan tepatnya 02 Mei adalah peringatan HARI PENDIDIKAN NASIONAL, yang juga hari lahir Ki Hajar Dewantara.
    Majulah pendidikan Indonesia.

    April 8, 2021
  • Mimi Chandra

    MasyaAllah, indah dan mengharukan tulisan ananda Wardah ini, mungkin banyak yang baru tahu (terutama saya), ternyata dibalik kelembutan Nyi Hajar Dewantara ada ketegasan yang sangat berguna sampai saat ini dan Ki Hajar Dewantara berjiwa besar menerimanya pendapat istrinya yang fenomenal.
    Sepertinya tulisan andan mb. Wardah mengingatkan juga bulan depan tepatnya 02 Mei adalah peringatan HARI PENDIDIKAN NASIONAL, yang juga hari lahir Ki Hajar Dewantara.
    Majulah pendidikan Indonesia.

    April 8, 2021
  • Debby

    Wah keren banget ini tulisannya!!

    April 8, 2021
Post a Comment