Menjadi Orang Tua di Negeri Orang: Bagaimana Jerman Ikut Membesarkan Anak
Saat akan merantau ke Jerman, kekhawatiran paling besar sebenarnya bukan soal adaptasi terhadap budayanya atau makanan. Akan tetapi soal bagaimana saya dan pasangan akan benar-benar menjalankan peran full-time parenting berdua saja. Sebab katanya “it takes a village to raise a kid” yang artinya membesarkan anak itu perlu gotong royong sekampung. Apakah bisa kami membesarkan anak berdua saja tanpa bantuan keluarga besar, tetangga, ataupun teman?
Ada perasaan semacam FOMO (Fears of Missing Out) dalam makna yang berbeda. Gimana ya nanti kalau tumbuh kembang anakku nggak sesuai dengan anak-anak seusianya di Indonesia? Takut banget ketinggalan. Gimana ya biar anakku bisa tetap catch-up dengan anak-anak seusianya sepulang ke Indonesia nanti? Gimana ya biar anakku bisa berkomunikasi dan berbahasa dengan baik? Dan gimana ya nanti model pengasuhan yang ideal?
Kekhawatiran tersebut muncul karena saya harus membesarkan anak, di usia-usia pertamanya, dalam kondisi jauh dari kampung halaman. Selain itu, saya juga harus jauh dari support system yang familiar. Tidak ada keluarga yang bisa dimintai tolong atau ditanya jika kebingungan, tidak ada masakan rumah yang enak dan hangat, tidak ada playdate dengan teman yang juga sudah menjadi orang tua.
Tidak ada komunitas orang tua baru yang bisa ngumpul dan berbagi cerita secara langsung. Sebenarnya bisa saja saya mengikuti komunitas melalui platform online di grup Whatsapp, tetapi tentu akan terasa kurang relevan karena kondisi dan sistem yang saya hadapi secara riil berbeda. Jika mau bergaul, saya memiliki kendala bahasa Jerman sehingga tidak bisa ‘nimbrung’ dengan orang tua lokal lainnya.
Namun seiring berjalannya waktu, kekhawatiran itu berangsur menghilang. Jika dipikirkan kembali, kampung halaman yang saya pikirkan itu tetap ada, hanya berubah bentuk.
Infrastruktur Publik yang Ramah Anak
Bagi seorang orang tua baru, membawa anak keluar rumah sering kali menjadi perjuangan mental yang melelahkan. Kekhawatirannya banyak, perlengkapannya menumpuk, dan segalanya bisa jadi repot jika fasilitas umum tidak memadai. Namun, di Jerman, saya melihat kota-kota didesain justru agar para ibu tidak terisolasi di dalam kamar. Saya merasa iklim yang ramah terhadap ibu dan anak di sini sudah terbentuk dengan sangat baik.
Hal ini misalnya terlihat dari trotoar dibuat ramah dan mulus untuk Kinderwagen (stroller), transportasi publik memiliki ruang luas khusus kereta bayi, dan Spielplatz (taman bermain) yang ada di setiap sudut pemukiman. Saya tidak takut untuk berpergian dengan transportasi umum karena fasilitasnya yang nyaman. Pintu masuk bus didesain sebaik mungkin agar bisa dimasuki stroller atau kursi roda, lalu diberikan tempat khusus. Siapapun pasti akan secara otomatis memberikan ruang untuk orang tua yang membawa anaknya.
Undang-undang Jerman mewajibkan penyediaan taman bermain anak di setiap area pemukiman. Taman bermain di Jerman dirancang sangat aman, merangsang motorik (menggunakan pasir, kayu, tali) dan rajin dibersihkan secara berkala. Di taman bermain itulah anak diajak untuk bermain, menghirup udara segar, dan berinteraksi dengan dunia luar. Menariknya, kenyamanan psikologis di ruang publik ini juga diimbangi dengan jaminan kesejahteraan lainnya.
Dukungan Finansial Secara Langsung
Jerman memberikan dukungan finansial berupa Kindergeld atau tunjangan anak. Tunjangan ini diberikan sejak anak lahir hingga usia 18 tahun. Sebagai warga negara asing yang terdaftar di sini, saya juga mendapatkan tunjangan untuk anak tanpa pengecualian. Tunjangan ini bukan untuk warga Jerman saja jadi tidak bersifat eksklusif.
Setiap anak yang telah menginjak usia 1 tahun memiliki hak hukum (Rechtsanspruch) untuk mendapatkan tempat di penitipan anak (Kita atau Tagesmutter) agar orang tua bisa kembali bekerja atau belajar dengan tenang. Biaya penitipan anak dari usia 3 tahun hingga masuk SD juga disubsidi oleh pemerintah, bahkan digratiskan sehingga orang tua hanya perlu membayar biaya makan siang anak.
Sejauh ini, tunjangan anak setiap bulan yang saya dapatkan besarannya sangat cukup. Tunjangan ini sangat membantu untuk membeli bahan MPASI yang bergizi dan kebutuhan bulanan anak. Dukungan ini membantu para orang tua untuk tetap merasa aman dan mindful dalam membersamai anak, kami didorong untuk membesarkan anak secara optimal dengan dukungan finansial yang berarti.
Sistem Kesehatan yang Terjamin dan Preventif
Di Jerman, pembayaran ke fasilitas kesehatan dilakukan dengan sistem asuransi sehingga setiap warga wajib memiliki asuransi. Hal ini ditujukan untuk memastikan pemerataan akses kesehatan. Anak-anak otomatis ikut asuransi kesehatan orang tua tanpa biaya premi tambahan sepeser pun. Semua biaya dokter anak (Kinderarzt), obat resep di apotek, perawatan rumah sakit, hingga terapi tumbuh kembang gratis total.
Sementara itu, untuk memastikan tumbuh kembang anak yang baik terdapat rangkaian pemeriksaan berkala sejak lahir hingga usia sekolah untuk memantau tumbuh kembang fisik, motorik, sosial, dan psikologis anak. Sistem ini sangat preventif untuk mendeteksi keterlambatan tumbuh kembang sejak dini.
Bagi ibu baru, ada juga layanan bidan yang datang ke rumah secara berkala pascamelahirkan. Tugasnya untuk merawat fisik ibu, memantau berat badan bayi, dan memberikan bimbingan parenting awal. Semua biayanya ditanggung asuransi dan tidak perlu ada biaya tambahan.
Jadi bisa dikatakan, kita cukup membayar asuransi kesehatan secara berkala dan kita dapat mengakses fasilitas kesehatan kapan saja dan dimana saja. Mirip BPJS tapi tidak ada kelas, sehingga baik anak pekerja atau anak direktur mendapatkan obat dan layanan kesehatan yang sama.
Sistem yang Aman untuk Menjadi Orang Tua
Untuk ibu melahirkan, periode cuti yang diberikan adalah selama 3,5 bulan dengan gaji yang tetap dibayarkan penuh oleh kantor. Cuti ini bisa diperpanjang dalam kondisi-kondisi khusus.
Namun tidak hanya cuti melahirkan, tetapi juga terdapat Elternzeit atau cuti mengasuh anak yang diperuntukkan bagi ayah dan ibu hingga maksimal 3 tahun per anak. Cuti ini bisa diambil oleh ibu saja, ayah saja, atau dibagi berdua (misalnya diambil bergantian atau bersamaan). Selama masa ini, tempat kerja secara hukum tidak boleh memecat karyawan dan wajib memberikan posisi kerja yang setara saat masa cuti habis. Selama mengambil cuti mengasuh anak, orang tua tidak digaji oleh kantor, tetapi mendapat tunjangan orang tua dari negara sebagaimana yang sebelumnya sudah dijelaskan (Elterngeld).
Dengan sistem ini, saya bisa membayangkan bahwa ibu tidak perlu dihadapkan pada pilihan dilematis seperti bekerja atau mengasuh anak, karena dua-duanya sama-sama dijamin dan didukung oleh negara.
Merayakan Hari Anak Nasional di Jerman menjadi momen sekaligus pengalaman yang berharga. Saya mengamini ungkapan “it takes a village to raise a kid” , bahwa pengasuhan tidak hanya bisa dibebankan kepada orang tua saja karena ia sangat terkait dengan ekosistem yang melingkupinya. Anak yang bahagia dan sejahtera dibesarkan oleh orang tua yang waras serta lingkungan dan sistem yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Namun lagi-lagi cerita ini bukanlah untuk perbandingan karena saya yakin bahwa setiap tempat punya local wisdom-nya masing-masing dalam membentuk sistem pengasuhan anak. Di Indonesia, sistem pengasuhan yang berjalan lebih bersifat kultural, gotong royong, dan kekeluargaan. Di Jerman, sistem pengasuhan yang berjalan bertumpu pada kemandirian namun dijamin secara institusional.
Saya menyadari bahwa “village” saya saat ini mungkin tidak berbentuk relasi antar manusia yang khas, tetapi adalah sistem yang melindungi dan merawat.
Selamat Hari Anak Nasional, dan selamat hari ulang tahun yang pertama untuk putri saya, Balqis Amartya Kinasih.

Redaktur Rahma.ID, Ketua Bidang Ipmawati Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah 2021-2023
