f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
telat menikah

Orang Tua Bahagia di Usia Senja

“Aku di sini saja. Pulanglah kalian semua,” suara Budhe terdengar dalam dan bergetar. Budhe mengucapkan kalimat itu pada dua anaknya yang datang menjemput, Sabtu sore lalu. Bagai senjata pamungkas, kedua sepupu saya menghentikan bujukan mengajak orang tua mereka pulang.

Budhe adalah satu-satunya kakak perempuan almarhum ayah saya. Saat ini usianya menjelang 80 tahun. Bude masih termasuk sehat di usia yang senja. Hanya kesulitan berjalan – mengharuskannya menggunakan tongkat dan katup kandung kemihnya yang aus sehingga harus memakai diaper. Selebihnya, semua masih relatif baik.

Sudah 3 hari Budhe tinggal bersama kami . “Aku ingin anak-anak ikhlas merawatku. Kalau aku bicara seperti ini ke mereka, nanti jadinya salah,” keluhnya setiap kali saya menemani rebahan di tempat tidur.

Saya sendiri yakin keempat anak Bude menyayangi ibunya. Tetapi mungkin mereka tidak selalu sepakat tentang bagaimana cara merawat orang tua yang telah memasuki usia senja.

Cerita Usia Senja

Ini sebenarnya cerita umum yang sering terjadi sekarang. Bapak atau Ibu yang lanjut usia membutuhkan bantuan sang anak agar mampu merawatnya. Zaman modern yang saat ini serba cepat dan menawarkan kemandirian, belum lagi kesibukan bekerja, mengurus anak, urusan ini-itu, secara tak sadar dan perlahan membuat “batas” dengan keluarga. Ketika orang tua membutuhkan bantuan, baru akan teruji kualitas hubungan kita dengan mereka.

**

Agama mengajarkan mengurus keluarga tergolong ibadah paling tinggi derajatnya. Bahkan lebih utama mengurus mereka daripada berjihad. Hanya segelintir orang muda zaman now yang memberikan perhatian kepada orang tua, apalagi merawat sendiri tatkala sakit atau sudah tidak berdaya. Anak memilih menggunakan jasa perawat bahkan mengirimkannya ke panti wreda dianggap sebuah solusi dalam menyiasati keterbatasan waktu merawat dengan mengeluarkan sejumlah uang.

Baca Juga  Seberapa Penting Perjanjian Pranikah?

Di sisi lain, sebagian besar orang tua enggan merepotkan anaknya. Ketika menghadapi masalah,  mereka menelpon si anak itupun jika benar-benar parah. Umumnya permasalahan terbesar adalah  kesehatan.  “Ibu hanya capek. Dibawa tidur nanti juga sembuh. Kamu tidak perlu khawatir,” kilahnya agar si anak tenang.

Reaksi pun beragam, jika dalam keluarga mempunyai beberapa orang anak. Ada yang hanya menanyakan siapa yang bisa pulang. Ada yang berfikir mengirim uang saja cukup, sebagai bentuk perhatian. Yang lain beralasan sedang dikejar deadline dan tidak ada yang bisa menggantikan. Juga ada yang dengan tulus hati langsung pulang, tidak peduli dengan sikap saudaranya yang lain. Serta banyak tipe lainnya.

Sebenarnya yang menjadi benang merah bukanlah anak bisa pulang atau tidak. Tetapi seberapa penting nilai hubungan dalam keluarga. Keluarga harus kita tempatkan pada porsi yang penting – penting untuk diperhatikan, dipikirkan, didengarkan, dipertimbangkan, didoakan bahkan diperjuangkan.

Dalam prosesnya, sebaiknya kita selaku anak jangan membawa embel-embel kesibukan, pekerjaan, pasangan dan hal lainnya, sebab akan mengaburkan dan menggeser arah dari proses yang sedang dibangun.

Merawat Orang Tua

Terlepas dari latar belakang dan pengalaman bersama keluarga dari kecil hingga dewasa, merawat orangtua harus dijadikan target hidup. Menurut saya, merawat orang tua adalah salah satu sekolah kehidupan. Tidak ada tutorial dan literaturnya. Parenting yang ada saat ini adalah cara merawat dan mengasuh anak. Bagaimana dengan merawat dan mengasuh orang tua di usia senja?

Siklus hidup yang berulang adalah hal yang harus disadari anak saat merawat keluarga. Waktu kecil, orang tua merawat dan meladeni kerewelan kita. Kini, keadaan berbalik. Karakter orang lanjut usia akan kembali menjadi anak-anak dan lebih rewel karena pada dasarnya mereka ingin dianggap penting, mampu dan diperhatikan.

Baca Juga  Perempuan dan Kaitannya dengan Keluarga Sakinah, ma Waddah, wa Rahmah

Relasi kita dengan keluarga di usia senja sangat dipengaruhi oleh relasi kita dengannya dimasa lalu. Itu sebabnya dalam merawat orangtua kita mesti mempertimbangkan faktor kedekatan kita dengannya. Kita harus bersikap realistis sehingga dapat menjaga keseimbangan antara pengabdian dan keterbatasan.

Sebagai anak kita juga harus memandang dan menerima orang tua apa adanya. Apa yang menjadi karakternya di masa lalu akan tetap menjadi karakternya di masa sekarang. Berhentilah menuntutnya untuk menjadi seperti yang kita harapkan.

 Menyikapi Hubungan Anak dan Keluarga

Orang tua juga bukan malaikat, beberapa suka memanipulasi agar kita melakukan apa yang dikehendakinya. Kadang mengadu domba dengan adik atau kakak kita. Ada juga yang sengaja memecah belah hubungan kita dengan suami atau istri. Buatlah batas yang jelas supaya orang tua tahu sejauh mana kita siap menoleransi perilakunya. Tentu tidak perlu dengan marah-marah menjelaskannya.

Itulah mengapa ketika merawat orang tua tidak hanya belajar merawat fisik, sebab kita juga melatih karakter diri melalui setiap proses yang dijalani. Ada beberapa orang tua yang menderita sakit fisik juga psikis seperti paranoid, dimensia dan sebagainya. Jika diberi kesempatan melayani orang tua dalam kondisi demikian, kita harus berjuang untuk melayani mereka dengan senang hati. Kita dilatih untuk banyak bersabar, memahami kondisi, mendengarkan keluhan serta menjadi penyemangatnya.

Pastinya tidak gampang merawat orangtua yang sepuh dan punya sederet penyakit. Memiliki banyak stok kesabaran karena acap kali emosi dan perasaan terkuras, adalah sebuah keharusan. Jika kelelahan dan kesabaran berada di titik terendah, mengenang masa terbaik dengan orangtua bisa menjadi obat untuk kembali semangat merawat mereka.

Kasih dan Sayang untuk Orang Tua

Mengutip terjemahan surah Al Baqorah : 83 ,  “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa.” Kendati perintah ini berlaku untuk anak dan orangtua segala usia, namun sesungguhnya perintah ini sangat relevan pada saat orang tua telah berusia senja serta tidak berdaya. 

Baca Juga  Mewujudkan Keluarga Sakinah Menurut Hukum Islam

Amat mudah menghormati orang tua semasa mereka gagah dan berjaya. Menjadi sulit menghormati orang tua pada saat mereka tidak lagi produktif dan sakit-sakitan.

Tuhan meminta kita menghormati orangtua bukan saja lewat perkataan tetapi juga melalui perbuatan. Merawat mereka pada masa senja dan sepenuhnya menjadi beban, adalah kesempatan terakhir dan cara termulia untuk menghormatinya.

Pada momen itu, hormat berubah menjadi sayang. Dari rasa sayang itulah yang dapat memampukan kita untuk terus memberi tanpa pamrih.

Bagikan
Post a Comment