Broken Home, Apa Penyebabnya?
Apa yang kamu pikirkan dengan dua kata dari judul di atas? Apakah kamu mendefinisikan keluarga yang broken home adalah keluarga yang berantakan akibat perceraian kedua orang tua? Sehingga hal ini mempengaruhi tumbuh kembang anak. Hmm, pengertian ini memang tidak salah. Namun terdapt konsep yang lebih luas lagi dalam menjabarkan hal tersebut.
Ibu Dian Fitriaswaty, M.Psi, seorang psikolog dan pendiri komunitas Cafe Psikologi (instagram @cafepsikologi) pernah membahas tentang tema ini di sebuah webinar beberapa waktu lalu. Mengutip pendapat beliau soal pengertian broken home,“Broken home adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suasana keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalannya kondisi keluarga yang rukun dan sejahtera yang menyebabkan terjadinya konflik dan perpecahan dalam keluarga tersebut.”
Poinnya adalah rumah bukan lagi tempat yang bisa menjadi tempat yang nyaman untuk pulang. Tempat melepaskan segala kepenatan. Tempat yang tak lagi ramah untuk singgah. Di dalamnya ada hati anak-anak yang patah karena perilaku kedua orang tuanya. Anak melihat, anak mendengar, anak juga merasakan saat terjadi ketidakberesan di dalam suatu keluarga. Inilah bibit yang ditanam dalam hati seorang anak yang terluka karena orangtuanya.
Penyebab Terjadinya Broken Home
Sinyal adanya ketidakberesan dalam rumah tangga adalah terjadinya konflik yang membuat suasana keluarga menjadi tidak harmonis. Sering terjadi pertengkaran, perpecahan, setiap hari atau sering hal ini terjadi. Masalah ini jika tak segera diatasi, tentu saja anak yang akan jadi korbannya.
Lalu, apa saja sebenarnya penyebab terjadinya broken home? Menurut Ibu Dian, inilah 4 hal di antaranya:
1. Perceraian
Perceraian sering terjadi karena adanya disorientasi antara suami istri dalam membangun sebuah rumah tangga. Memang tak semua kasus perceraian mengakibatkan broken home. Tapi akan selalu ada sesuatu yang berkurang pada kebutuhan anak terkait dengan kedua orangtuanya yang tak lagi sama seperti sebelumnya. Apalagi jika kebencian itu, atau ketidakcocokan di antara pasangan itu mereka tunjukkan di hadapan anaknya. Seorang anak akan melihat orangtua bertengkar di hadapannya pasti akan membekas di hatinya menjadi sebuah trauma.
2. Kebudayaan Bisu
Nah, ini. Ketika tidak adanya dialog dan komunikasi antara anggota keluarga satu dan yang lainnya, ini juga jadi pemicu utama penyebab broken home. Jika rumah bukan lagi tempat yang nyaman untuk berbagi cerita dan pengalaman, menyelesaikan persoalan yang dihadapi bersama-sama, terlebih anak membutuhkan nasihat kedua orangtuanya. Jika jawabannya bukan rumah, lantas ke mana anak-anak akan mencurahkan isi hatinya?
3. Ketidakdewasaan sikap orangtua
Sikap ketidakdewasaan orang tua bisa ditunjukkan dengan orangtua yang hanya memikirkan dirinya sendiri daripada anak. Akibatnya anak jadi teracuhkan. Kasih sayang yang diharapkan dari orangtua jadi berkurang. Merasa diabaikan dan tidak ada yang peduli bahkan di rumahnya sendiri.
4. Orangtua yang kurang rasa tanggungjawab dengan alasan kesibukan bekerja
Sebagai orangtua, tentunya menyadari bahwa kebutuhan anak bukan hanya soal materi saja. Tanggungjawab sebagai ibu dan ayah di rumah adalah waktu dan momentum bersama anak, memperhatikan tumbuh kembangnya. Tak ada salahnya dalam hal bekerja, tapi anak tetap punya hak atas orangtuanya. Tak semua hal bisa dibeli dengan materi. Kasih sayang dan cinta dari orangtualah yang jauh lebih berharga.
Selain pada empat hal yang disampaikan di atas, ada beberapa penyebab tambahan yang jua sering menjadi pemicu broken home dalam sebuah keluarga. Berikut uraian singkatnya:
- Perang dingin dalam sebuah keluarga akibat perselisihan atau rasa benci
- Kurang mendekatkan diri pada Allah Swt., sehingga membuat orangtua belum bisa memenuhi pendidikan anak dari segi keagamaan
- Masalah ekonomi yang tidak jarang memicu adanya pertengkaran dan berakhir dengan perceraian.
- Masalah pendidikan, kurangnya pengetahuan suami atau istri terhadap keluarga sendiri.
Saya sebagai seorang anak juga pernah merasakan dampak dari terjadinya broken home dalam keluarga. Meskipun saya bukan berasal dari keluarga yang orangtuanya bercerai. Tetapi seperti yang saya uraikan di atas, sejak bertumbuhnya saya dengan keluarga sejak kecil dulu, ada luka-luka yang membekas di hati saya. Memang semua tampak baik-baik saja, tetapi ada semacam trauma dan ketidakberesan terkait hubungan dengan orangtua.
Rumah bagaikan tempat perlindungan bagi anak dari dunia luar. Rumah jadi tempat pertama seorang anak belajar tentang kehidupan, serta menjadi tempat teraman, ternyaman, dan harapannya terekam memori tentang hal-hal menyenangkan di antara penghuni dalam sebuah keluarga. Jika bukan seperti itu keadaan yang seorang anak dapat dalam keluarganya, lantas bagaimana ia bisa menyikapi dunia yang sesungguhnya di luar sana?
Apa saja sebenarnya dampak broken home pada anak? Hal ini akan kita bahas pada artikel selanjutnya ya, insyaallah. 😊
Lifelong Learner, content writer, recipe writer, blogger. Blog Pribadi martinamuliadewi.wordpress.com
