Merawat Pernikahan sampai Mati
Wajah di hadapan saya agak terkejut, tetapi dalam sepersekian detik sebuah senyuman menggantikan ekspresi kaget tersebut. Kemudian, ucapan selamat mengalir deras dari mulutnya diikuti doa agar pernikahan kami langgeng hingga maut memisahkan. Saya mengamini.
Ya, saya baru saja mengabarkan kepada seorang kawan lama bahwa usia pernikahan kami telah memasuki tahun ke-9. Sebuah kabar yang sebetulnya biasa-biasa saja. Mau umurnya 3, 4 atau 5 tahun menurutku tidak ada bedanya. Masalah dalam rumah tangga selalu ada, datang silih berganti, hanya beda kemasan.
Tapi tidak bagi teman saya itu. Menurutnya, saya baru saja melewati periode krusial dalam rumah tangga. Periode krusial yang dia maksud adalah usia 7 tahun pertama pernikahan. Katanya, banyak pasangan yang kandas sebelum tiba di penghujung tahun ke-7 pernikahan.
Tentu teman saya tidak asal ngomong, ia mengingatkan soal sahabat-sahabat kami yang gagal di awal-awal membina rumah tangga. Berpanjang-panjang dia bercerita yang sebagian kisahnya sudah pernah saya dengar. Ia juga menyitir istilah “seven-year itch” yang suka dipakai para psikolog. Saya nggak mudeng.
Dalam perjalanan pulang, mendadak teringat seorang teman yang saya kenal sejak SMP. Hubungan pertemanan kami tidak dekat-dekat amat, juga tidak jauh-jauh amat, biasa saja. Setelah lulus SMA, kami hilang kontak. Dan kembali dipertemukan saat Facebook meluncurkan fitur ‘Teman yang mungkin Anda kenal’.
***
Memperhatikan postingan-postingannya saya tahu bahwa dia belum menikah. Hingga suatu ketika dia mengganti status hubungan dari ‘single’ menjadi ‘engagement’, dan beberapa bulan kemudian mengunggah album wedding di Facebook. Setelah itu, foto pamer kemesraan dengan istrinya membanjiri timeline Facebooknya. Saya senang melihatnya, pertanda dia bahagia.
Namun, ketika anaknya memasuki umur 2 tahun, ada yang beda dengan gaya menulisnya. Jika dulu romantis bak pujangga, kini berubah macam motivator MLM. “Badai pasi berlalu” dan “Di balik kesulitan ada kemudahan” selalu dijadikan tagar di akhir tulisannya. Jarang sekali disertai foto. Jikapun ada, kebanyakan dengan gaya selfie, sendirian.
Namun, alih-alih postingannya menggugah semangat, saya melihatnya justru tak lebih dari jeritan patah hati. Pikiran suuzon melintas di benak. Dan benar saja, suuzon saya terkonfirmasi saat ada reuni alumni. Sahabat saya itu sudah pecah kongsi saat usia perkawinannya belum genap empat tahun. Mirisnya lagi, anak semata wayangnya dibawa kabur mantan istrinya.
Durasi jalinan perkawinan teman saya di atas bisa dikatakan masih lebih baik jika dibandingkan teman saya yang satunya lagi. Lebih tragis. Bertahan hanya dalam hitungan bulan, tidak sampai full 1 tahun, sejak ijab kabul. Gara-garanya, gaji suaminya lebih kecil daripada gajinya. Begitulah gosip yang saya dengar. Tidak dipungkiri, masalah keuangan seringkali menjadi pemicu konflik paling lumrah dalam rumah tangga.
Sampai di sini saya setuju dengan argumen teman saya. Masih membekas dalam ingatan saya saat pertama kali istri ngambek, yaitu ketika masih menyandang status pengantin baru. Rasanya aneh sekali. Kok bisa sengambek itu? Padahal, menurut saya, pencetusnya sangat sepele, hanya candaan sehari-hari. Butuh waktu bagi saya untuk mencerna apa sesungguhnya yang sedang terjadi.
***
Mulai saat itu, saya tersadar. Oh, ternyata gini rasanya seorang istri lagi ngambek. Kata maaf atau berlagak mengakui kesalahan tidak cukup untuk mencairkan kebekuan. Berbeda dengan masa berpacaran, dalam ikatan yang lebih intim ini sudah tidak ada lagi rasa pakewuh untuk menyatakan ketidaksetujuan atau ketidaksukaan. Sekat abstrak yang membatasi aku-kamu sudah tidak ada lagi. Membuat masing-masing pasangan bebas keluar masuk ke ruang-ruang yang sebelumnya tak terjamah.
Berusaha memahami ruang-ruang asing inilah yang teman saya maksud sebagai fase krusial. Kalau boleh memperkirakan, periode krusial dalam rumah tangga kami berjalan kira-kira sampai tahun ketiga. Saya berani mengatakan demikian lantaran gesekan-gesekan sudah berkurang drastis, terlebih yang disebabkan persoalan tersier. Kami sudah cukup terlatih untuk menahan diri dari komentar atau sikap yang berpotensi menimbulkan konflik.
Kembali ke ucapan selamat dan doa teman tadi. Apakah saya senang? Tentu. Saya bersyukur sekali punya teman baik, benar-benar suatu kemewahan. Namun hal itu tidak lantas membuat saya euforia atau merasa menang. Sebab, saya punya banyak kenalan yang secara teori seharusnya sudah matang dalam tata kelola berumah tangga, tetapi justru terseok-seok dan akhirnya harus berpisah di usia yang tidak muda lagi.
Kisah yang pertama datang dari seorang teman yang menikah ketika baru lulus kuliah. Umur calon istrinya satu tahun lebih muda. Sungguh pasangan yang ideal. Namun, hingga belasan tahun berlalu pasangan ini tidak kunjung dikaruniai anak. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk mendapatkan momongan, mulai dari pengobatan alternatif hingga mencoba bayi tabung atas saran seorang dokter. Namanya belum rezeki, usaha-usaha tadi belum juga mewujudkan harapan.
***
Sungguh ajaib. Suatu pagi tiba-tiba mata saya tertumbuk pada unggahan “strip dua” di WA status teman saya. Kabar bahagia sekaligus mengharukan. Saat itu, usia teman saya sudah memasuki kepala empat. Sedangkan rumah tangganya telah berjalan kira-kira 16 tahun. Penantian panjang ini hampir membuat teman saya frustasi dan hilang harapan. Bahkan, ia sedikit demi sedikit sudah belajar ikhlas jika memang takdirnya tidak mendapat keturunan.
Sejak unggahan “strip dua” itu, hari-hari teman saya selalu diselimuti suka cita yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Surprised sekali. Siapa sangka ia akan mendapat momongan di last minutes, saat umumnya pasangan sudah menghentikan aktivitas reproduksi mereka. Dan tibalah momen yang paling dinantikan itu: kelahiran.
Namun sayang, kehadiran sang buah hati yang seharusnya menebalkan kasih sayang dalam keluarga, justru menjadi babak baru konflik yang tidak terduga. Selanjutnya, peristiwa yang paling tidak diinginkan terjadi, yakni perceraian. Kami, sebagai teman, tidak habis mengerti relasi macam apa yang terjadi pada teman saya itu. Seharusnya, sekarang ini waktunya memetik buah kesabaran yang telah mereka jalani selama belasan tahun. Kenyataan kadang susah dimengerti.
Kisah kedua lebih dramatis lagi. Seorang kenalan diceraikan suaminya ketika usianya 50 tahun. Waktu itu mereka hampir saja menjadi pasangan kakek-nenek karena tengah menanti kelahiran cucu dari anak pertama. Gosip bahwa pasangan ini sudah tidak harmonis sudah lama kami dengar. Mereka berusaha tetap bertahan meski dalam kesehariannya sudah berjalan sendiri-sendiri. Cucu pertama yang akan segera lahir rupanya tidak mempan untuk memperbaiki keadaan, minimal terlihat baik-baik saja.
*
Dua cerita terakhir inilah yang membuat saya merasa biasa-biasa saja ketika kawan lama itu memberi selamat kepada saya. Ikatan pernikahan yang berumur 5 tahun, 7 tahun, 12 tahun atau bahkan 20 tahun sekalipun, itu hanyalah batasan imajiner yang berfungsi sebagai rest area untuk melakukan refleksi sudah sejauh mana proses pemahaman satu terhadap yang lain itu berlangsung.
Bahkan sesungguhnya merawat pernikahan itu sebuah perjalanan tanpa batas. Proses pengenalan satu sama lain tidak akan pernah selesai, meskipun sudah mencapai kakek-nenek. Bagaikan mengejar kaki langit, selalu tersisa wilayah yang kita tidak mampu menjangkau untuk memahaminya. Karena setiap orang memiliki misteri dan juga imajinasi yang selalu berkembang dan berubah.
Website pribadi: www.jalanjalanenak.com
