Beberapa Ruang yang Cukup Terang, tapi Satu Jumlahnya
Apa yang sebenarnya menjadikan hidup ini rumit? Hal apa yang paling fundamental dalam kehidupan manusia sehingga menjadikan dirinya; makhluk yang selalu lekat dengan permasalahan, kesedihan hingga hal-hal gelap yang menyelimuti kehidupannya?
Apakah memang dunia – hunian para manusia itu – sudah muak menampung dan “menghidupi” perilaku-perilaku buruk para penghuninya; sehingga berkah dan “hal-hal baik” perlahan mulai memudar? Mungkin, rentetan pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan terus berlanjut, memanjang dan bercabang, hingga menuju pada satu ujung jawaban; KEMATIAN!
Sebuah Renungan
Tahun 2021 sudah memasuki minggu ketiga. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada satu tahun ke depan. Transisi perpindahan tahun 2020 ke tahun 2021 terasa hambar dan biasa-biasa saja. Tidak banyak orang yang berlomba-lomba membuat resolusi atau menanyakanya seperti tradisi-tradisi pada tahun-tahun sebelumnya. Orang-orang lebih memilih mengatakan; “Masih diberi kesempatan hidup sampai sekarang, sudah Alhamdulillah”.
Saya tidak menganggap hal tersebut adalah sebuah kemunduran atau bentuk pesimisme akibat ironi yang telah kita semua rasakan pada tahun 2020. Malahan, saya menganggap hal-hal seperti tidak membuat resolusi atau memiliki angan-angan yang ndakik pada tahun 2021 adalah sebuah keputusan yang sangat tepat. Sebab bagi saya, hal yang perlu kita perbaiki ke depannya bukanlah memenuhi ekspetasi yang belum tercapai, tetapi menghindari dan memberangus sifat pongah dalam diri kita (manusia).
Dalam catatan yang rumit dan melelahkan ini, saya mencoba merunut ulang hal-hal yang telah saya lalui pada tahun 2020. Mungkin catatan ini bagi Anda terhitung terlambat, atau bahkan tidak penting sama sekali. Sebab kebanyakan orang cenderung lebih mudah (atau malah lebih suka) meninggalkan dan melupakan hal-hal yang mungkin sudah terhitung lama daripada menuliskan (merawat); menceritakan atau mengambil hikmah dari peristiwa-peristiwa tersebut.
Mengapa demikian? Alasannya sederhana; orang-orang menganggapnya sebagai perbuatan yang membuang-buang waktu.
Perjalanan Penulis I
Tahun 2020 adalah tahun terbaik yang pernah saya lalui. Setidaknya untuk saat ini. Sekitar pertengahan Maret saya mendapatkan rezeki dari Allah sebuah beasiswa yang cukup untuk membiayai uang jajan saya dan adik saya selama beberapa bulan ke depan.
Sebenarnya beasiswa tersebut telah diumumkan sejak bulan Desember 2019. Karena penanganan yang sangat lambat, pemberian pun baru pada bulan Maret 2020. Saya sebenarnya tidak terlalu mengetahui bagaimana cara kampus mengelolah sebuah proyek beasiswa itu. Yang terpenting, hak saya dan para penerima beasiswa dapat terpenuhidengan cukup tanpa berkurang sedikit pun.
Di penghujung tahun 2019, saya juga sempat mendapat kebahagiaan kecil. Saya dihubungi oleh salah satu event organizer untuk diajak kerjasama dalam suatu proyek buku antologi cerpen bergenre thriller.
Dalam proses kerjasama tersebut, dia mengatakan bahwa cerpen yang pernah saya ikutkan dalam perlombaan yang mereka adakan adalah jenis cerpen yang telah memenuhi kreteria untuk dimasukkan dalam proyek antologi mereka. “Kan cerpen saya dulu tidak sempat memenangkan perlombaan, apakah pantas untuk masuk dalam buku antologi Anda yang selanjutnya akan dibukukan?” Jawab saya kepada admin EO tersebut.
“Jelas pantas, Kak. Sebab kami mencari cerpen bergenre thriller seperti cerpen milik kakak. Bukan cerpen yang memenangkan perlombaan.” jawabnya dengan jelas. Mengetahui jawaban tersebut, saya langsung menanggapi tawaran itu dengan senang hati; “Siap, Kak!”.
Setelah beberapa bulan menunggu buku itu dalam proses percetakan, akhirnya pada pertengahan bulan Maret 2020 buku tersebut sudah mendarat dengan aman di rumah saya. Dan tentunya, saya sangat senang dengan kedatangan buku tersebut.
Perjalanan Penulis II
Seperti halnya para penulis pemula lainnya, yang ketika tulisannya dibukukan kemudian dicetak; semangat saya dalam mengikuti event-event serupa (yang mengumpulkan para penulis kemudian membukukan tulisannnya secara berjamaah), semakin melejit berkali-kali lipat.
Saya pun berinisiatif untuk mencari informasi tersebut di beranda Instagram. Setelah berhari-hari saya scroll Instagram, saya mendapatkan banyak sekali event menulis buku antologi bersama. Namun tak satu pun saya tertarik dengan tema yang ada. Terutama yang mengangkat tema cinta. Saya kurang tertarik.
Hingga akhirnya, EO yang sebelumnya sempat menghubungi saya dalam proyek buku antologinya; ternyata sedang mengadakan event yang saya inginkan. Tidak berfikir lama, saya pun memutuskan untuk mengikutinya.
Singkat cerita, dalam perjalanan mengikuti event tersebut, semua berjalan dengan lancar. Saya mengumpulkan berkas dan semua persyaratan tepat waktu. Bahkan cerpen saya mendapatkan peringkat kedua dari jumlah peserta kurang lebih 45 orang. Yang pasti saya bahagia sekali. Seperti bahagianya saya ketika mendapatkan beasiswa kala itu.
…
Sayangnya, EO adalah sebatas event yang dilaksanakan oleh sekelompok manusia. Sebagaimana manusia pada umumnya, mereka selalu memiliki hasrat untuk mengelabui, menipu dan “mengakali”. Mulai dari pendaftaran hingga transaksi pembelian buku selesai. Buku yang telah dijanjikan akan selesai cetak pada bulan Juli 2020, sampai sekarang pun tak ada kabar sama sekali.
Saya berusaha menghubungi admin EO tersebut lewat Instagram, namun tidak direspon. Lewat WhatsApp pun juga seperti itu, tidak direspons. Bahkan lebih agresif lagi, saya menelepon nomor WhatsApp mereka nyaris sepanjang hari. Sialnya, tetap saja saya tidak mendapatkan respons sama sekali.
Saya tidak memperhitungkan berapa nominal yang telah saya keluarkan untuk mengganti buku yang mungkin bisa saya banggakan itu. Semua bisa diganti pada waktu dan tempat yang lain. Namun yang saya sayangkan di situ adalah usaha licik mereka dalam mencari rezeki lewat alibi “semangat literasi”.
Bagi saya, perbuatan tersebut adalah perbuatan memalukan yang pernah saya temui. Apakah Anda pernah mendengar atau membaca bahwa pasar buku di Irak, buku-buku bacaan di sana dibiarkan tetap terbuka sampai malam, meski para penjaganya pulang ke rumah dan membiarkan buku-buku tersebut tetap berada di luar tokonya.
Alasan mereka logis; para pembaca tidak akan mencuri dan para pencuri tidak akan membaca. Tidak perlu saya jelaskan apa maksud dari pernyataan tersebut, karena saya yakin Anda mampu menyimpulkannya.
Perjalanan Penulis III
Seperti halnya manusia Indonesia pada umumnya, lebih tepatnya manusia Jawa. Saya mengenal ajaran untuk menjalani hidup dengan legowo. Menerima keadaan dengan lapang dada. Hal-hal rumit dan mengecewakan yang mampir dalam kehidupan kita sebaiknya jadi pelajaran saja; tidak perlu diratapi dan disesali. Begitulah orang-orang tua di daerah saya mengajarkan hidup bahagia dengan cara yang sederhana.
Sebenarnya catatan (atau tulisan) ini masih panjang dan cukup banyak peristiwa yang belum sempat saya cantumkan. Namun saya rasa cuilan peristiwa yang telah saya tuangkan pada paragraf-paragraf sebelumnya sudah sangat cukup untuk “merawat” peristiwa yang seliweran dalam kehidupan saya.
Jika saya mendapat kesempatan oleh Yang Maha Adil untuk melanjutkan catatan yang rumit dan melelahkan ini, maka saya akan berusaha mencatat lagi setiap minggunya. Atau jika saya terlalu (merasa) sibuk, maka akan menuliskannya pada dua minggu sekali. Jika masih saja (merasa) sibuk, maka sekuarang-kurangnya saya akan menuliskan selama sebulan sekali.
Di penghujung paragraf ini, saya ingin memungkasinya dengan sebuah pertanyaan; apa yang sebenarnya perlu kita perbaiki di awal tahun 2021 ini? Mengingat sudah berbagai macam bencana yang terjadi di awal tahun 2021; banjir, gempa, gunung meletus, kecelakaan pesawat hingga bencana yang paling besar; wafatnya para Ulama’. Pernahkan Anda mendengar bahwa ketika para Ulama’ (orang-orang alim) telah dipanggil oleh Yang Maha Hidup, di situ pula “berkah kehidupan” yang ada juga perlahan mulai memudar.
Lebih jauh lagi, ada analogi seperti ini; jika ada sebuah rumah yang rusak atau terkena bencana, maka yang akan diselamatkan terlebih dahulu adalah barang-barang yang berharga. Begitu pula para Ulama yang telah mendahului kita. Orang-orang yang mulia akan diambil, dipanggil dan diselamatkan terlebih dahulu.
Lantas apa lagi yang perlu kita perbaiki (upgrade) kalau bukan amal dan kualitas iman? Meski ada beberapa ruang (harapan) yang cukup terang, tapi tetap satu jumlahnya; menjadi hamba yang lebih baik lagi. Wallahu’allam.
Bocah Angon di Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa (LKP2M) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
