“Menjual” Sekolah Agar Tidak Punah
Sudah dua tahun ini saya dan beberapa kolega diminta menjadi mentor sebuah program peningkatan mutu pendidikan. Program ini didanai oleh sebuah lembaga amal zakat infaq shadaqah (LAZIS). Kami berenam mendampingi enam sekolah dasar (SD) berbeda di wilayah DIY.
Sekolah yang kami dampingi boleh dibilang adalah sekolah swasta yang bersahaja. Terletak di pelosok-pelosok DIY dengan topografi wilayah yang beraneka macam. Ada yang di dekat pantai, dengan akses jalan yang sudah baik, tapi gedung sekolahnya sangat minimalis. Ada yang posisinya di puncak gunung, dengan medan jalan menanjak tanpa landaian, sungguh sebuah tantangan bagi mentor yang setiap bulan harus ke sana.
Sekolah-sekolah itu memang sebelumnya ikut sebuah kompetisi. Dari 100an sekolah, 6 sekolah ini terpilih dan memang layak mendapatkan hibah. Mereka mampu mendeskripsikan analisis SWOTnya dengan sangat baik. Mereka sadar punya kekurangan, tapi mereka optimis punya kelebihan yang belum terasah. Selama satu tahun, mereka akan didampingi mentor untuk menyeleseikan permasalahan yang mereka hadapi di sekolah dengan tujuan meningkatkan mutu sekolah.
***
Hal yang menarik dan sama-sama menjadi permasalahan di sekolah-sekolah ini adalah, mereka terancam beberapa tahun ke depan akan tidak bisa lagi menyelenggarakan proses pembelajaran dengan lengkap, dari kelas 1 hingga kelas 6. Pasalnya, setiap tahun jumlah siswa yang mendaftar ke sekolah mereka semakin menurun. Bahkan pernah hanya 2 orang siswa baru yang mereka peroleh, itupun dari TK terdekat.
Mereka bukannya tidak pernah berusaha untuk mendapatkan murid sebanyak-banyaknya. Tetapi memang kondisinya, sebagai sekolah swasta, mereka punya saingan ketat yaitu sekolah Negeri. Selain itu, jumlah sekolah dasar swasta di kecamatan itu sangat banyak. Semakin beratlah persaingan yang mereka hadapi.
Kondisi semacam ini sebenarnya tidak hanya dihadapi sekolah-sekolah swasta yang berada di pedesaan. Jangan salah, setiap sekolah pasti merasakan bahwa persaingan mendapatkan siswa baru setiap tahunnya sangatlah ketat. Apalagi untuk sekolah swasta yang sumber dananya terbatas. Lain cerita, untuk sekolah-sekolah swasta dengan model franchise yang sudah punya merk, tinggal memoles sedikit saja maka peminat die hardnya akan segera berdatangan.
Ternyata, sekolah pun harus “ditawarkan” atau bisa juga disebut bahwa sekolah juga harus bisa “dijual”. Sesuatu yang layak dijual paling tidak dia harus punya keunikan. Keunikan ini bisa datang dari proses produksinya, produknya sendiri, atau dari cara menawarkannya.
Sama-sama jual gorengan, misalnya, pedagang pertama menjual gorengannya dengan porsi lebih besar, meskipun rasanya biasa saja. Pedagang kedua menjual dengan porsi standard, tetapi rasanya gurih, mantap, dengan bonus cabe ceplusan melimpah. Keduanya barangkali akan menemukan konsumennya masing-masing.
***
Konsumen yang tidak mementingkan rasa, tapi sangat mempedulikan porsi tentu akan lebih sering membeli gorengan di penjual pertama. Karena bagi konsumen ini, semua makanan muaranya adalah rasa kenyang, jadi soal rasa itu nomer dua, nomer satunya adalah porsi. Sedangkan konsumen yang menganggap ritual makan adalah sebuah kenikmatan, maka dia akan mendatangai penjual kedua. Meskipun ukurannya standar tetapi bisa menikmati gorengan hangat yang gurih tanpa perlu risau kehabisan cabai yang menemani setiap gigitannya.
Demikian juga sekolah. Anggapan bahwa sekolah Negeri akan aman dari persaingan mencari murid baru itu sesungguhnya menyesatkan. Di beberapa daerah saya menemui adanya merger dua sekolah negeri karena jumlah murid barunya yang tidak memenuhi kuota. Barangkali yang boleh merasa sedikit aman adalah sekolah level tinggi seperti SMA maupun Perguruan Tinggi Negeri, karena masih banyak peminatnya. Tetapi sekolah swasta TK hingga SD adalah sekolah-sekolah yang apabila manajemen pemasarannya tidak dikelola dengan baik maka bisa jadi beberapa tahun ke depan akan mengalami apa yang dialami sekolah binaan kami tersebut.
Boleh jadi, beberapa tahun ke depan kita akan menemukan sekolah yang sebenarnya secara kualitas bagus, tetapi cara memasarkannya standard, akan tutup karena kehilangan peminat. Sedangkan sekolah-sekolah baru yang kualitasnya belum terbukti, akan banyak diminati karena mereka memasarkan sekolahnya dengan cara yang tepat kepada calon konsumen yang tepat.
Banyak yang jual gorengan. Kalau gorenganmu biasa saja dari segi ukuran dan rasa, kamu menjajakan dengan diam-diam, kalau ada yang beli mukamu lempeng tanpa ekspresi, lampu di lapakmu remang-remang sehingga pembeli tidak bisa melihat adonan tepungmu itu bersih apa tidak, maka jangan salah jika lama-lama lapakmu akan sepi pembeli.
***
Sekolah yang tidak mau berlari bersama cepatnya perubahan arus informasi sekarang ini, akan tertinggal jauh dengan sekolah-sekolah yang meskipun selangkah demi selangkah tapi mau ikut berlari. Mereka justru akan bisa “memasarkan” sekolahnya dengan jauh lebih baik dibanding sekolah yang kataya sudah “bermerk” tetapi jumawa dan duduk diam saja.
Bukan hanya calon konsumen tidak akan mengenalmu, tetapi pelangganmu lama-lama akan lari juga. Apabila ini dibiarkan maka, akan ada kemungkinan anak-anak yang berprestasi tidak punya kesempatan belajar di sekolah yang bagus, karena sudah terlanjur tutup. Tutupnya bukan karena sekolah itu turun kulitasnya, tetapi karena sistem pemasarannya yang tidak jalan. Ini akan sangat merugikan sekali bagi pendidikan generasi penerus bangsa.
Seorang Ibu sekaligus pendidik anak biologisnya dan anak bangsa lainnya
