Setelah Tiada Baru Terasa
Penyesalan selalu datang di akhir, memang benar kata-kata yang sering aku dengar ketika seseorang sedang mengalami penyesalan. Begitu pun aku saat ini yang sedang mengalami penyesalan yang datang di akhir juga. Setelah 40 hari kepergian ayahku, aku masih begitu merasakan duka dan kesedihan yang mendalam. Memori kenangan bersamanya di waktu masa kecilku kini kembali berputar di dalam ingatan. Masa kecilku yang penuh kebahagiaan, keceriaan, dan kehangatan bersama kedua orang tuaku.
Air mataku selalu menetes setiap mengingat semua hal tentang ayahku. Kepergian ayahku begitu mendadak, sehingga sampai detik ini pun aku tidak percaya, jika ayahku telah berpulang menghadap Ilahi. Ayahku hanya sakit sampai tidak bisa beraktivitas selama dua minggu, hingga kepulangannya. Terkadang aku masih berharap jika ayahku akan pulang ke rumah kami lagi di dunia. Saat ini pun aku hanya bisa menyesali akan kepergian ayahku. Aku menyesali beberapa bulan sebelum ia pergi aku tidak terlalu dekat dengannya. Bahkan aku tidak menyadari jika beberapa bulan terakhir ayahku begitu menahan sakit, hingga akhirnya ia sudah tidak tahan lagi, dan pergi meninggalkan keluarga yang ia kasihi.
Ayahku tidak pernah mau menunjukkan rasa sakitnya kepadaku dan juga keluarganya. Ia begitu berhasil menyembunyikannya sehingga aku merasa kepergiannya begitu mendadak. Selain itu, aku juga menyesali ketika ayahku sakit, aku jarang berada di rumah karena bekerja, dan saat itu aku tidak meninggalkan pekerjaanku karena aku baru bekerja selama satu bulan.
***
Setelah tujuh harian ayahku ternyata aku malah diberhentikan dari pekerjaan, karena alasan tidak sanggup membayar karyawan lagi. Saat itu aku merasa sangat sedih dan menyesali mengapa saat ayahku sakit, aku jarang berada di rumah dan memilih untuk bekerja. Aku tidak memiliki banyak kesempatan untuk merawatnya karena kesibukanku bekerja itu, padahal kan pekerjaan masih bisa aku cari. Andai waktu dapat diputar kembali, aku akan memanfaatkan kesempatan yang ada untuk selalu bersama ayahku dan berbuat baik kepadanya.
Awalnya aku memiliki prasangka buruk kepada Tuhan, jika Tuhan tidak menyayangi aku sebagai makhluknya. “Kalau Tuhan memang sayang kepadaku mengapa Tuhan mengambil ayahku?” “Sebenarnya apa kesalahanku? D apakah dosaku begitu besar? Mengapa Tuhan menggariskan takdir ini untukku?”
Pada suatu hari aku pun tersadar karena nasihat dari ibu, jika setiap manusia tentu juga akan dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, bahkan aku pun juga, bukan hanya ayahku saja. Aku tahu jika penyesalan dan tangisanku sampai kapanpun tidak akan ada gunanya.
Penyesalan dan tangisanku itu tidak akan pernah mengembalikan ayahku lagi ke dunia, namun bagaimanapun juga mengikhlaskan kepergian orang tersayang sangatlah sulit, terlebih lagi orang tua. Tentu membutuhkan waktu lama untuk mengikhlaskan dan menerima takdir yang Tuhan gariskan.
***
Selain itu, rasa penyesalan akan terus menyelimuti hidupku ketika tidak sempat mengucapkan kata maaf sebelum ayahku pergi. Saat itu beberapa jam sebelum kepergian ayahku aku sempat ingin meminta maaf, tetapi tidak jadi karena aku berpikir ayahku akan baik-baik saja dan masih bisa sembuh.
Sehari sebelum ayahku meninggal, kondisinya itu terlihat lebih baik dan ada tanda-tanda akan sembuh, tetapi ternyata itu justru bisa jadi tanda akan meninggal. Kalau kata tetanggaku itu disebut ninggal tresno kepada keluarga yang ditinggalkan.
Kata maaf mungkin tidak sempat aku ucapkan, tetapi aku masih merasa bersyukur di detik-detik sebelum ayahku meninggal, aku sudah berada di rumah, sehingga dapat melihatnya untuk terakhir kalinya. Selain itu, aku juga bersyukur dapat menuntun ayahku menyebut kata “Allah” sebelum ia meninggal.
Kepergian ayahku ini kadang membuatku merenung “Apa mungkin selain takdir, ini juga salah satu teguran dari Tuhan untukku ya?” Setelah ayahku pergi aku baru menyadari, ketika ia masih ada aku seperti tidak terlalu peduli dengannya. Saat ia suruh pun, aku terkadang selalu mengeluh.
Aku juga tidak tahu mengapa satu tahun terakhir sebelum ayahku meninggal, aku terasa jauh dengannya. Selain itu, sering sekali ayahku membuat anak-anak dan keluarganya kesal akan perilakunya. Apa pun yang dilakukan oleh anak-anak ataupun keluarganya seperti selalu salah di matanya.
***
Sebenarnya masih banyak sekali rencana-rencana yang ingin aku lakukan bersama ayahku. Aku ingin di masa tuanya nanti ia bisa berhenti bekerja, dan melihat anak-anaknya meraih kesuksesan beserta kebahagiaan. Aku ingin ayahku bisa melihat aku menikah dan memiliki anak suatu saat nanti.
Apalah daya itu semua hanya rencana manusia, tetapi Tuhanlah penentu takdir sesungguhnya. Mungkin ini yang terbaik bagi Tuhan untuk hidupku, karena yang terbaik bagiku belum tentu pasti yang terbaik, tetapi yang terbaik bagi Tuhan sudah tentu pasti yang terbaik.
Menyesal tentu saja menyesal, sedih tentu saja sedih, tetapi aku menyadari jika yang saat ini ayahku butuhkan untuk kehidupan di alam sana, adalah kiriman doa agar memperingan siksa kuburnya. Ibuku selalu menasihatiku seperti itu jika aku selalu menangisi ayahku, “Nak menangisi ayahmu yang sudah meninggal tidak ada gunanya, dia tidak akan bisa kembali lagi ke dunia. Dia sudah tenang di sana dan saat ini yang dibutuhkannya adalah doa agar memperingan siksa kuburnya.”
Sekarang aku sedang mencoba untuk mengikhlaskan, meskipun masih diliputi rasa penyesalan dan kesedihan. Aku mencoba untuk kembali menata hidup bersama ibuku secara perlahan, untuk bisa bangkit kembali menjalani kehidupan.
Bagaimanapun juga hidup harus terus berjalan, dan yang telah meninggal tidak akan pernah kembali lagi ke dunia. Sekarang yang harus aku lakukan adalah menyibukkan diriku, agar bisa menemukan kebahagiaan baru dan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi.
Seperti mulai dari mensyukuri apa yang masih ada, hingga menggunakan kesempatan bersama orang tua dengan sebaik-baiknya ketika masih ada, agar penyesalan yang sama tidak akan pernah terulang kembali. Untuk yang sudah meninggal tidak untuk dilupakan, tetapi selalu diingat dengan mengirimi doa.
Merupakan salah satu mahasiswa semester 4 di Jurusan Psikologi Islam, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Memiliki hobi membaca, menabung, dan berpikir. Akun Ig: luckykuuk.

Lutfiana Alfa
Sangat inspiratif ❤️❤️❤️