Optimalisasi Peran Perempuan dan Kesejahteraan Ekonomi

5 menit baca
Teks:
WhatsApp

Mengkritisi fenomena perempuan dari kisah perjalanannya maka banyak alur yang hadir menyoroti perempuan sebagai pengambil kebijakan di manapun keberadaannya. Ini ditunjukan dengan  ragam peran yang diambil perempuan sebagai torehan sejarah perempuan baik bagi perjuangan generasi maupun sejarah perempuan dalam aneka dinamika pergerakannya.

Ragam narasi mencatat bagaimana perempuan dapat mengisi ruang pekerjaan yang notabene adalah peran laki-laki seperti halnya menjadi penguat ekonomi keluarga . Selain di ranah domestik perempuan memberikan kontribusinya dalam pemenuhan kebutuhan pangan di masyarakat melalui aktivitas dan perilaku kewirausahaan.

Perempuan juga memiliki andil yang besar sebagai pengambil kebijakan publik terkait kesejahteraan; baik di lingkungan pemerintahan maupun geliat aktivitasnya dalam organisasi; terlebih lagi di lingkungan terdekatnya bernama keluarga.

Aktivitas Ekonomi Perempuan sebagai Pengambil Kebijakan Domestik dalam Penguatan Ketahanan Ekonomi

Fenomena masyarakat umum terfokus pada gencarnya produk luar yang masuk ke negeri tercinta ini, salah satunya melalui MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) yang sudah berlangsung sejak dari tahun 2015. Plus minus hadirnya lalu lintas ekonomi ini mau tidak mau siap maupun tidak harus dijalani. Menjadi dua sisi mata pisau yang bisa memberikan dampak positif atau justru menjadikan kompetisi dan ancaman bagi sejumlah produk lokal.

Bagaimana dampak/ pengaruhnya, besar/ kecilnya harus senantiasa dipantau dan menjadi perhatian khususnya menyangkut konsumsi anak negeri terhadap produk luar. Konsumsi terhadap sejumlah produk luar yang menjadikan ketergantungan kiranya menjadi PR bersama anak bangsa. Apakah benar terkait kualitas produk lokal yang masih kalah bersaing ataukah hal luar lainnya yang hadir menyertai?

Sebagai contoh, data di lapangan menyebutkan bagaimana konsumsi produk remaja saat ini dari mulai fashion mengacu ke sejumlah produk luar terlebih lagi di dukung hadirnya media yang sangat gencar mempromosikan produk juga ikut berperan dalam budaya konsumsi remaja.  Di sinilah kembali peran perempuan diperhitungkan sebagai pengambil kebijakan dalam penguatan konsumsi produk lokal.

Perempuan dari masa ke masa memiliki rekam jejak yang luar biasa. Kalau peran perempuan di lingkup domestik dari dulu hanya bersifat membantu dalam mencari rejeki namun kiranya pergeseran penilaian mulai dirasakan sejak adanya ketrampilan / kompetensi perempuan di ranah publik. Bagaimana tidak, perempuan mampu berperan ganda sebagai Ibu juga sebagai pencari nafkah keluarga. Sehingga ketahanan dan penguatan ekonomi ditentukan bagaimana peran perempuannya di dalam keluarga sebagai pengambil kebijakan.

***

Selain menjadi manajer, perempuan memiliki kekuatan atau magnet kebaikan dalam membantu mencari rejeki bagi keluarga. Pola konsumsi yang berlebihan akan menyebabkan membengkaknya nilai ekonomis kebutuhan keluarga . Screening terhadap konsumsi sebagai bagian dari aktivitas ekonomi domestik tak terlepas dari peran perempuan sebagai Ibu yang menjadi model bagi generasinya. Cerdas dalam penguatan produk apa yang selayaknya menjadi konsumsi di rumah dan apa yang menjadi kebutuhan bukan sekedar keinginan.  

Menelusuri produk luar yang banyak dilirik masyarakat lokal kita; maka belajar dari UU Perlindungan Konsumen nomer 8 tahun 1999 adanya kecermatan yang perlu diperhatikan dari segi kesehatan-keamanan konsumsi dan segi lainnya. Peran perempuan sebagai ibu berawal dari sikap hidup yang sehat, mandiri dan berperan secara aktif bagaimana baiknya mengkonsumsi produk lokal sebagai upaya kebutuhan dan bukan keinginan.

Kekuatan dari domestik inilah yang menjadi starting point dalam perempuan mengawal lingkup domestiknya supaya lebih menguatkan. Artinya sebagai pengambil kebijakan perempuan mampu berdamai dengan diri untuk senantiasa belajar dan belajar. Selain dalam pengurusan manajemen keuangan rumah tangga, perempuan memiliki andil yang besar dalam menjadikan ekonomi keluarga yang kuat dan kreatif.

Kalau kita melihat potensi besar di luar sana, masyarakat Indonesia terdiri dari banyak keanekaragaman potensi daerah dan pastinya yang tinggal di pegunungan akan berbeda lahan garap/ ekonomi nya dengan masyarakat yang tinggal di pesisir/daerah pantai. Gerakan Perempuan Nelayan atau Gerakan Perempuan Petani serta Gerakan perempuan lainnya akan semakin bertumbuh dan berkembang di negeri tercinta ini; asalkan dengan syarat meningkatnya akses dan kebijakan yang berpihak pada komunitas-komunitas perempuan yang berbasis wirausaha.

Dengan pemberdayaan dari ranah domestik menuju pemberdayaan wirausaha; perempuan melalui industri rumah tangga (UKM) yang menguat dengan jaringan melalui organisasi mampu meningkatkan kepercayaan diri. Harapannya gerakan UKM  bagi perempuan ini mampu membangkitkan semangat berdikari (kemandirian) ekonomi. Wujud nyatanya dengan membuka lapangan pekerjaan dan menghidupkan sektor ekonomi lokal atau daerah.

Pendampingan Penguatan Ekonomi Perempuan

Sebagai refleksi anak bangsa, bagaimana fenomena terkait lapangan pekerjaan menjadi perhatian bersama? Sebagaimana kita ketahui fenomena pengangguran khususnya pada perempuan angkatan produktif semakin meluas. Dan akibatnya perempuan mencari pekerjaan ke luar negeri tanpa bekal keahlian atau kompetensi sebagai daya tawar. Hal ini yang perlu dikritisi kembali baik menyangkut kesiapan tata kelola aturan/ SOP dan hal terkait lainnya. Dan tidak bisa dipungkiri aset bangsa memang sebagian dari hasil pekerjaan perempuan yang bekerja di luar negeri yang menjadi pemasukan bagi negara.

Berikut ini merupakan upaya pendampingan oleh perempuan dalam geliat UKM dari industri rumahan sampai komunitas di masyarakat yang menjadi rintisan pembangunan ekonomi nasional. Pertama, mendapatkan ijin usaha (IUMK : Ijin usaha mikro kecil) yang masih menjadi kendala bagi sebagaian usaha perempuan baik komunitas maupun individu. Kedua, peningkatan Daya Saing UMKM di ragam bidang perlu mendapat perhatian bersama,

Ketiga, meningkatkan usaha Jasa Kreasi (Industri Kreatif) di mana perhatian terhadap jasa kreatif ini sangat berpotensi bagi perempuan dalam mengambil peran di dalamnya. Keempat , peningkatan akses, sumber serta realisasi pembiayaan (KUR, PKBL, dll) menjadi Langkah strategis bagi perempuan dalam mengawali penguatan ekonomi. Kelima, peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki kompetensi/ keterampilan ,

Keenam, pemasaran terhadap sejumlah  produk unggulan UKM,  membangun kerjasama Instansi dan Internasional. Ketujuh, memperkuat kelembagaan dengan membentuk koperasi meningkatkan posisi tawar dan efisiensi kolektif para anggotanya serta komunitas usaha perempuan.

****

Dari  ragam aktivitas pendampingan tersebut perempuan bisa menjadi motivator sekaligus sebagai fasilitator. UKM menjadi salah satu fondasi ekonomi nasional yang memiliki andil sangat besar bagi keberlangsungan ekonomi bangsa.  Bersanding dengan kegiatan ekonomi kreatif  yang menggeliat maka kegiatan ini sudah menjadi bukti  dan menegaskan bahwa peran perempuan sebesar 60% dari jumlah masyarakat Indonesia berperan aktif dalam mewujudkan kemandirian ekonomi.

Bagikan:
Penulis 37 Tulisan

Dyah Pikanthi

Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Mahasiswa Program Doktoral Universitas Airlangga Surabaya

Leave a Comment