Implementasi Nilai Universal dalam Agama
Nilai universal berlaku bagi semua orang dan mecakup seluruh dunia (Kemdikbud, 2021). Universal berasal dari bahasa Inggris universe yang artinya adalah alam semesta. Dapat dipahami bahwa universal berarti yang berlaku umum, secara menyeluruh dan mendunia.
Umat Islam meyakini bahwa Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam semesta, suku dan bangsa di seluruh dunia; seperti pada Q.S Al-Anbiya 21:107, artinya : “Adalah dan Tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” Nilai universal yang ada dalam Islam diharapkan dapat diterima oleh seluruh umat manusia karena kebaikan dan manfaatnya sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai universal dalam agama Islam berasal dari kitab suci Al-Qur’an. Al-Qur’an memiliki aspek universal yang harus dipegang karena melintasi waktu dan tempat (Al Islamu Sholihun fi Kulli Makan wa Zaman). Sehingga ayat-ayat Al-Qur’an tidak dapat di pahami secara harfiah begitu saja, karena akan memjauhkan seseorang dari petunjuk yang akan diberikan oleh Al-Qur’an.
Al-Qur’an menunjukkan bahwa universalitasnya selalu sesuai dengan lingkungan kultur apapun, sebagaimana saat turunnya, yang sesuai dengan lingkungan yang ada di semenanjung Arab. Oleh karena itu, Al-Qur’an harus disesuaikan tempatnya dengan lingkungan budaya penganutnya, di manapun dan kapanpun. Terdapat delapan gagasan universal di dalam Al-Qur’an, di antaranya :
Pertama, ketundukan kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Al-Qu’ran menyebut mengenai kewajiban untuk tunduk kepada Allah. Seluruh makhluk baik yang berbicara maupun tidak, yang hidup maupun yang mati, semuanya tunduk dan menyucikan Allah dari segala kekurangan dan kelemahan, baik lisan maupun ucapan. Ketundukan kepada Tuhan ini merupakan fitrah dan kebutuhan setiap jiwa manusia.
Kedua, perasaan persamaan, kehormatan dan persaudaraan umat Islam. Manusia pada dasarnya berasal dari satu keturunan yaitu Nabi Adam A.s dan Siti Hawa. Oleh karena itu kedudukan manusia dimata Allah Swt. setara dan sederajat dan islam tidak mengenal kasta dan strata sosial. Rasa persaudaraan di antara sesama muslim hendaknya didasari karena Allah Swt. Karena akan menjadi salah satu barometer atas baik buruknya suatu hubungan. Dan hubungan sesama muslim juga harus mempunyai kewajiban untuk saling membantu satu sama lain.
Ketiga, toleransi. Toleransi yang dapat dilakukan seperti toleransi beragama yaitu saling menghormati dan berlapang dada terhadap pemeluk agama lain, tidak memaksa orang lain agar memeluk agama Islam. Tidak peduli terhadap agama apa yang dianut, setiap orang selayaknya dapat saling menghargai satu sama lain. Tujuannya yaitu untuk membuat suasana atau situasi yang harmonis antar lingkungan beragama.
Keempat, pembebasan wanita dan persamaan spiritualnya dengan laki-laki. Laki-laki dan perempaun diharapkan agar dapat bekerja sama dalam amar ma’ruf (berbuat yang baik) nahi munkar (mencegah yang buruk) seperti mendirikan salat, menunaikan zakat dan taat terhadap larangan yang diberikan Allah agar mendapat pahala yang sama.
Kelima, pembebasan dari segala jenis perbudakan, kemiskinan dan eksploitasi. Manusia pada dasarnya adalah merdeka. Meskipun satus budak telah dihapus dan perbudakan telah dilarang namun fakta sosial dalam masyarakat modern masih banyak terjadi seperti: kerja paksa, upah tidak dibayar, perdagangan manusia, kekerasan fisik, psikis dan seksual. Dengan menerapkan prinsip pembebasan terhadap perbudakan, maka umat Islam seharusnya dapat menghindari praktek-praktek yang mengeksploitasi manusia.
Keenam, kewajiban menegakkan keadilan. Keadilan dapat bersifat absolut dan bermacam-macam, sehingga tidak ada seorang yuris muslim yang pernah mengabaikan makna keadilan dalam bentuk hukumnya. Bersikap adil adalah tidak memihak kepada salah satu pihak, objektif dalam melihat perkara dan tidak pilih kasih terhadap pihak tertentu. Keadilan yang berlaku dalam suatu komunitas belum tentu adil bagi komunitas yang lain. Begitu juga apa yang dianggap adil oleh satu generasi bisa saja tidak dianggap adil oleh generasi selanjutnya. Oleh karena itu penafsiran Al-Qur’an mengenai keadilan atau nilai universal lainnya, dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman.
Ketujuh, menurunkan kesombongan yang didasarkan pada superioritas ras, warna kulit, kekayaan dan kekuasaan. Sombong pada dasarnya melihat diri sendiri lebih besar dari orang lain dan memandang rendah atau hina orang lain. Orang yang sombong tidak bisa berbuat adil dan ikhlas karena selalu meremehkan orang dan menganggap dirinya sempurna sehingga merasa dirinya paling benar. Al-Qur’an pada dasarnya mengajarkan manusia untuk bersikap rendah hati diantara manusia, saling peduli satu sama lain dan saling membantu. Sifat sombong yang dimiliki akan menghalangi seseorang dalam berbuat kebaikan dan menghilangkan sifat-sifat baik lainnya yang dimiliki oleh seseorang.
Kedelapan, penguasaan ilmu pengetahuan. Al-Qur’an mendorong umat islam untuk mencari ilmu pengetahuan. Al-Qur’an juga menyuruh manusia agar belajar dari sejarah dan mengambil perbandingan dari kejayaan dan kejatuhan umat-umat terdahulu dalam rangka menghadapi masa depan. Dengan ilmu pengetahuan ini umat islam akan dapat menggunakan akalnya untuk berpikir dan mengambil pesan pesan moral dalam Al-Qur’an dan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta.
Pesan-pesan yang terdapat dalam Al-Qur’an mengandung berbagai aspek kehidupan manusia. Secara umum kandungan pokok Al-Qur’an terdiri dari aqidah, syari’ah dan akhlak. Aqidah menuntun manusia untuk mengikuti ajaran tauhid, membersihkan diri dan hatinya dari kesyirikan. Lalu Syari’ah mengajarkan manusia untuk mengerjakan ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah, hablumminallah dan hablumminannas, sistem jual beli, pemerintahan, hukum pidana dan perdata, dan sebagainya. Dan akhlak mengajarkan manusia bagaimana bersikap dan berperilaku sopan santun terhadap orang lain, tidak sombong, berkata lemah lembut kepada orang tua, menggunakan bahasa yang lembut dalam berdakwah dan sebagainya.
Tidak semua orang mengetahui apa saja nilai-nilai universal yang terdapat dalam Al-Qur’an. Sedangkan nilai-nilai tersebut harus diterapkan dalam berbagai sisi kehidupan umat Islam. Untuk memberi pengetahuan tentang hal tersebut maka diperlukan usaha seorang pendakwah dalam menyampaikan kebenaran, mengajarkan nilai-nilai Islam dan meberi motivasi umat Islam untuk berbuat kebajikan dan beramal saleh.
Mahasiswa di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Intstagram : @afifah.puttri_ .
