Teruntuk Semuanya yang Telah Berlalu, Terima Kasih Sudah Bertahan Sampai Saat Ini
Seorang perempuan berjilab itu menitikan air mata seketika ditanyai Najwa Shihab via panggilan video perihal kematian ayahnya. Ia bilang bahwa sang ayah telah pergi untuk selamanya karena terinfeksi Covid-19. Ia tak mengira perpisahan dengan sang ayah akan secepat itu.
Di lain tempat, seorang pekerja lepas di Ibu Kota harus pulang kampung karena biaya hidup yang kian menipis, seiring dengan pandemi yang melanda Ibu Kota dan kebijakan pemerintah yang memberlakukan PSBB. Hal ini ia lakukan semata-mata demi menghemat pengeluaran dan tentunya agar tetap bertahan. Dan seorang ibu yang harus kehilangan bayinya yang baru keluar dari rahimnya oleh karena virus yang telah menginfeksi paru-paru mungil itu.
Secuil kisah di atas merupakan berita duka mendalam yang datang bertubi-tubi menimpa orang-orang yang mungkin kita kenal dekat; ataupun orang-orang di sekitar yang kita kenal baik.
Setahun sebelumnya, kita bahkan masih merayakan pesta demokrasi, melihat sesama kita saling sikut kanan-kiri; demi sebuah dukungan dan kemenangan pasangan calon yang diunggulkan. Namun kenyatannya, setahun setelahnya bencana datang dari negeri nun jauh di sana yang perlahan merangsek ke negeri ini.
Kala itu, kita semua tetap tenang seturut dengan pemerintah yang menganggap bencana itu bisa dicegah dengan cara yang sama sekali tidak masuk akal. Hingga pada bulan Maret, April, Mei, Juni, hingga kini ratusan ribu orang telah pergi untuk selamanya dan meninggalkan orang-orang terkasih yang tak mengira semuanya akan berakhir dengan duka yang mendalam.
Di lain sisi, pandemi membikin langit kembali bersih, laut kembali biru, aliran sungai pun jadi bening lagi. Dengan begitu, ikan-ikan pun kembali terlihat di aliran sungai. Pengalaman menyaksikan alam yang mengalami perbaikan secara ekologis itu membuat kita terkesima dan menikmatinya sebagai karunia Tuhan.
***
Tahun 2020 memang tahun yang panjang, tidak mudah, dan melelahkan. Tahun di mana semua luka, kecewa, kehilangan, dan kesedihan tumpah ruah menjadi satu dalam raga ini; dalam batin yang kian resah atas apa yang akan terjadi pada hari yang akan datang. Namun semuanya masih bertahan.
Namun yang patut disyukuri dan diapresiasi adalah diri ini yang mampu bertahan dan melewatinya hingga di penghujung tahun. Ini pertanda bahwa kita adalah manusia yang hebat dan beruntung. Maka jangan mudah menyerah dan terus berdoa, semoga Tuhan senantiasa membersamai langkah kecil ini.
Teruntuk Rahmania yang masih mengejar tujuan dan pencapaian hidup namun tersandung oleh keadaan yang membikin diri ini harus tersungkur; kamu tidaklah apa-apa. Bangkitlah.
Yakinlah bahwa kita masih memiliki potensi yang bisa kita perbaiki lagi dan lagi. Asah terus kemampuan itu, percantik kepribadianmu, dan perluas pergaulanmu. Dari sanalah, kita akhirnya memahami bahwa kehidupan tak sedangkal yang kita kira. Di depan sana, masih banyak permasalahan-permasalahan lain yang mengharapkanmu untuk dapat menyelesaikannya sampai tuntas.
Tak apa di tahun 2020 kita jatuh, semoga di tahun yang akan datang kita tumbuh menjadi manusia yang kuat dan dijauhkah dari segala yang buruk. Selama mentari masih bersinar, maka bunga-bunga itu tumbuh bermekaran di serat-serat dada ini, menjadikan kita manusia yang lantang menghadapi ketidakpastian yang akan datang di kemudian hari. Semoga Tuhan selalu memberi pelangi juga matahari setelah hitam putih ini.
Perihal pergantian tahun, itu hanyalah euforia sesaat, resolusi akan menguap entah ke mana, dan selanjutnya hari akan jadi seperti biasanya lagi.
Dan terakhir, teruntuk semuanya yang telah berlalu, terima kasih telah mengajarkan banyak hal, di mana hal sesederhana rebahan menjadi sesuatu yang sangat berguna bagi keberlangsungan hidup ini.

Gemar membaca dan menulis sambil dengerin lagu bergenre Pop-EDM. (IG: rvdafii_ls. E-mail: ruzdanfauzi025@gmail.com)
