f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
menggapai mimpi

Menggapai Mimpi: Pamer vs Diam-Diam

Ketika kita masih sekolah di Taman Kanak-kanak pasti Guru bertanya “Jika sudah besar mau jadi apa?” atau “Cita-citamu ketika sudah besar nanti apa?” Setelah mendapatkan jawaban kita, selanjutnya Guru pasti berkata “Kalau cita-citanya ingin tercapai maka kalian harus rajin belajar.” Betul tidak?

Jadi  semenjak anak-anak secara tidak langsung kita sudah ditanamkan pemikiran bahwa kita harus punya cita-cita, punya mimpi atau angan-angan yang ingin dicapai. Dan untuk mencapainya kita harus berusaha dengan rajin belajar.

Demikian juga saya, cita-cita pekerjaan sih sepertinya tidak sesuai dengan keinginan waktu anak-anak. Tapi seiring waktu saya punya cita-cita atau mimpi-mimpi lain. Waktu masih sekolah dasar alias tiga puluhan tahun lalu, saya berangan-angan menjadi wanita karier  dan bisa mengemudikan mobil, sepertinya keren hehehe ketika sudah bekerja, setiap bulan saya menyisihkan sebagian gaji untuk ditabung.

Mimpi ini sebenarnya agak mustahil karena nyetir sepeda onthel saja masih grathul-grathul (tidak lancar), kalaupun bisa beraninya cuma di jalan perumahan. Sedangkan mengemudikan sepeda motor juga tidak bisa, entah kenapa hingga sekarang saya masih belum punya nyali untuk itu.

Tapi di usia 38 tahun mimpi itu terwujud! Bersamaan dengan membeli mobil, walaupun agak jadul, bekas, nyicil pula, saya ikut kursus mengemudikan mobil. Dalam hitungan beberapa bulan saja saya sudah lancar dan berani bawa sendiri di jalan raya! Ketika mimpi  bisa nyetir mobil telah terwujud, saya pamerkan di  media sosial saya.

Mimpi berikutnya ketika saya mulai kuliah, sekira dua puluhan tahun lalu, adalah menjadi Editor Majalah.  Mustahil terwujud sepertinya ya,  lha wong umur sudah 42 tahun baru mulai ikut kursus-kursus menulis sana sini, baru mulai coba-coba posting tulisan di blog dan media sosial. Bedanya dengan mimpi sebelumnya adalah walaupun mimpi ini belum  terwujud tapi sudah saya umumkan di media sosial saya! Setiap langkah dan progress-nya saya update di status. PD amat yah saya ini… 

Baca Juga  Muslim dalam Algoritma Media Sosial
Progress Mimpi-Mimpi

Di saat saya mulai ikut kursus-kursus menulis, beberapa kali saya membaca kutipan yang berisi tentang jangan mem-publish apa yang menjadi rencana atau mimpimu itu, karena orang yang tidak senang denganmu akan menjadikan itu sebagai alat untuk menjatuhkanmu, atau mimpimu itu akan ditiru oleh orang lain.

Selain itu, ada artikel-artikel yang menjelaskan sebaiknya tidak menceritakan rencana atau mimpi ke orang lain karena jika ada orang yang iri dan dengki kepada kita, maka orang tersebut akan mendoakan yang buruk tentang rencana atau mimpi kita.

Tulisan-tulisan yang lain mengingatkan, jika kita menceritakan rencana atau mimpi ke orang lain apakah kita akan siap dengan respon negatif atau cerita-cerita yang justru tidak memotivasi kita. Mungkin maksud mereka mengingatkan tapi justru dampaknya menurunkan motivasi kita. Misal, orang akan merespon “wah berat kamu kalo mau memulai karir di umur 42 tahun, kalah sama yang muda-muda, mending usaha yang lain aja lah…”

Ada juga yang menyampaikan ketika rencana atau mimpi kita tidak tercapai bisa jadi kita akan merasa malu karena terlanjur menceritakan ke orang lain bahkan mem-publish di media sosial.

Awalnya saya sempat mengiyakan apa kata kutipan dan tulisan itu. Saya cemas jika nanti mimpi saya ditiru orang lain. Saya cemas jika nanti kesempatan saya diambil oleh orang lain. Sempat terpikir juga, “iya ya… jangan-jangan ‘nti aku malu karena mimpiku engga tercapai.”

Tapi kemudian saya berpikir, memangnya menggapai mimpi adalah sebuah kompetisi? Bukankah semua kembali ke bagaimana usaha masing-masing? Rasa-rasanya saya juga tidak punya musuh, tapi tidak tahu lagi kalau ada yang tidak suka dengan saya ya hehehe.

Baca Juga  Kebebasan Berekspresi di Media Sosial Menurut HAM Islam

Mungkin para pembaca status atau posting-an saya tentang upaya dan progress menggapai mimpi bertanya-tanya kenapa saya suka pamer tentang mimpi saya dan apa tujuan saya pamer? Mungkin ada juga yang bertanya-tanya memang ada manfaat apa dengan saya pamer begitu?

Proses Tidak Selalu Mudah

Jadi tentang mimpi-mimpi saya, baik yang sudah terwujud maupun yang baru proses menggapai, saya pamerkan ke para pembaca media sosial karena saya hendak memotivasi orang lain bahwa punya mimpi itu tidak salah, bahkan mungkin wajib ya karena mimpi itu bisa dijadikan tujuan hidup sehingga kita lebih semangat menjalani hidup untuk mencapai mimpi tersebut.

Mungkin ada kata terlambat tapi tidak ada kata terlalu tua untuk bermimpi dan berusaha menggapai mimpi tersebut. Peserta kursus menulis ada juga yang umurnya setua saya, yang lebih tua dari saya juga ada. Latar belakang mereka juga macam-macam, yang cuma ibu rumah tangga seperti saya juga ada.

Saya bukan orang yang hebat dan tidak bermaksud tampak hebat. Saya terus membagikan progress upaya-upaya yang saya lakukan karena hendak menunjukkan dan mengingatkan bahwa tidak ada yang instan untuk mendapatkan apa yang kita mau.

Proses yang kita jalani tidak selalu lancar, terkadang ada kendala dan gagal juga. Seperti saya, walaupun saya cuma ibu rumah tangga tapi tetap saya harus mengatur waktu agar pekerjaan rumah dan mengurus keperluan anak-anak tetap terselesaikan dengan baik. Sehingga untuk membaca dan mengerjakan tugas kursus sering harus saya lakukan di malam hari, di atas pukul 20.00 WIB. Terkadang, saya lakukan saat sedang menunggu anak terapi.

***

Lalu bagaimana jika ternyata mimpi tidak tercapai, padahal sudah terlanjur pamer di media sosial? Malu doongg…  Ini memang akan jadi tantangan tersendiri buat kita. Yah… kembalikan saja ke tujuan awal kita pamer mimpi. Bukankah tujuannya untuk memotivasi dan mengingatkan orang lain? Jika gagal maka kita harus evaluasi diri, apakah ada yang salah dalam proses usaha kita? Kita harus berbesar hati untuk mau mengakui dan tetap perlu “dipamerkan” juga sebab-sebab kegagalan kita itu supaya bisa jadi pembelajaran untuk orang lain.

Baca Juga  Pengaruh Media Sosial Terhadap Akhlak Remaja

Kita tidak bisa mengontrol respon orang lain tapi kita bisa mengontrol diri kita sendiri. Selama kita berbagi (baca: pamer) dengan niat dan tujuan serta cara-cara yang positif pasti akan berdampak positif juga. Mungkin tidak banyak orang yang merasakan dampaknya, tapi pasti ada saja orang yang terinspirasi dan tercerahkan.

Bagikan
Comments
  • Wurry Srie

    Sepakat.

    Oktober 8, 2021
  • Anne SN

    🤝 terimakasih 🤝

    Oktober 9, 2021
Post a Comment