Belajar Menjadi Penulis Seperti Bapak (Part I)
Judul ini mungkin bagi pembaca yang mengenal saya, akan terkesan mengada-ada. Ya anggapan itu tidaklah salah karena saya bukanlah anak penulis terkenal. Jangankan penulis, bapak saya menulis saja tidak. Lho, kok bisa belajar menjadi penulis dari bapak yang bukan penulis dan bahkan tidak menulis?
Oke, kita masuk ke cerita. Sejak kecil, saya dan kakak-kakak saya hidup bersama kedua orang tua, ya bapak dan emak. Keduanya adalah karakter manusia yang sangat berbeda. Dan, sejujurnya saya lebih dekat dengan emak dibandingkan dengan bapak. Bukan berarti jauh, tapi lebih ke bila ada apa-apa, nyaman untuk bilangnya ke emak, lalu emak yang sampaikan ke bapak.
Di keluarga saya, tidak ada yang berprofesi sebagai penulis atau jurnalis. Kakak-kakak saya semuanya berwirausaha, sebagiannya bahagia jadi ibu rumah tangga. Mungkin hanya saya saja yang nekat terjun ke dunia literasi ini. Ya, kalau bukan saya siapa lagi? Hehe. Lagipula kata pepatah, “Bila sudah tercebur, basahlah sekalian!” Itulah yang saya lakukan.
Latar Belakang Bapak yang Menginspirasi
Mungkin kamu penasaran dengan sosok bapak yang bagi saya telah mengajari saya menjadi penulis itu. Oke, pertama bakal saya jelaskan tentang latar belakang bapak. Bapak saya adalah seorang pedagang bambu dan aneka kerajinan bambu. Bila dihitung dari sekarang, mungkin sudah lebih dari 40 tahun bapak berdagang bambu. Pengalamannya sudah setinggi gunung dalam dunia perbambuan, pertukangan, perproyekan, dan tentu saja dalam membangun relasi dan bisnis. Bapak cuma lulusan SD, tapi bisa menghidupi keluarganya tanpa kurang. Bahkan, saya dan kakak terdekat saya sampai bisa selesai kuliah.
Bapak adalah sosok yang saya saluti. Dia pekerja keras. Bila bicara karakternya, bapak adalah lelaki yang tegas, keras, penuh canda, dan kadang mudah marah juga. Saat saya menulis ini, usia bapak mungkin sudah di atas 65 tahun. Tapi dia masih semangat berkebun di kampung. Usaha dagang bambu bapak juga masih berjalan dan kini dibantu oleh kakak-kakak saya.
Pendidikan Karakter yang Dilakukan Sang Bapak
Sewaktu kuliah dulu, di awal-awal semester, saya merasakan betul bagaimana mental kerja keras itu diajarkan bapak. Ya, bukan dengan teori. Pukul tiga pagi, saya dibangunkan untuk membantu pekerjaan bapak sampai adzan subuh menggema. Dan itu saya lakukan hampir tiap hari, sebelum akhirnya saya memutuskan untuk ngekost karena kesibukan kuliah dan berbagai aktivitas di kampus.
Tidak jarang, saya menyisakan waktu untuk tidur di bus, kadang-kadang juga ketiduran. Sedikit flashback, sebelum kuliah saya pernah ada perjanjian dengan bapak. Bila mau kuliah saya harus bantu bapak dulu selama dua tahun tanpa berharap gaji. Ya, saya jadi kuli di toko bambu bapak. Memang tidak berharap gaji, tapi hampir setiap kebutuhan saya bapak penuhi.
Bapak mengajarkan saya kerja keras dan tidak kenal lelah bila mau sesuatu. Bila punya cita-cita ya kejar dengan sepenuh hati, gapai. Niat saja tidak cukup. Ucapan saja belum cukup. Bekerja dan berusaha serta selalu berdoa, itulah yang menjadi penentu apakah kita akan berhasil mencapai cita-cita dan keinginan itu. Sampai pada akhirnya saya berhasil kuliah dan lulus.
Untuk Menjadi Penulis Perlu Proses dan Keuletan
Pada masa-masa kuliah itulah saya mulai gemar menulis. Mulai dari mengisi mading, mengirim tulisan ke media massa, sampai ikut lomba. Beberapa kali lomba menulis saya menangi. Mulai dari menulis skrip drama, menulis puisi, cerpen, sampai menulis esai. Tentu saja piagam dan piala yang saya dapatkan saya bawa dengan bangga ke hadapan bapak dan emak. Hal yang tidak pernah saya lakukan semasa sekolah.
Mungkin sudah familier di telinga kita sebuah ungkapan, “Usaha tidak akan mengkhianati hasil.” Dan itu benar-benar saya alami. Bapak adalah sosok yang, mungkin tanpa saya sadari, membuat saya selalu berusaha bekerja keras dan berupaya sekuat tenaga mencapai apa yang saya inginkan, apa yang saya cita-citakan. Dan pelan-pelan saya mencapai itu.
Nah, sampai saat ini saya memang masih perlu banyak belajar untuk menjadi penulis yang baik. Bapak bagi saya adalah guru menulis saya yang memberikan pendidikan dasarnya. Bapak mengajarkan saya akan etos bekerja keras, semangat juang, jujur, dan menanamkan cinta pada apa yang kita inginkan. Mari kita jabarkan secara singkat nilai-nilai yang bapak tanamkan dalam diri saya ini (yang meski saya sendiri kadang masih angot-angotan, he he he).
Etos Bekerja Keras
Semua orang pasti tahu makna dari bekerja keras. Tapi, dalam kesehariannya kadang lupa memaknainya dalam tindakan. Ya, sebatas teori kita hafal. Tapi praktiknya memang tak gampang. Bekerja keras adalah salah satu karakter yang diunggulkan di era sekarang ini. Dengan iklim persaingan yang makin kompetitif, etos kerja keras ini tak bisa lagi ditawar-tawar. Ya, mesti ditanamkan, meminjam ungkapan Aa Gym, mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil-kecil, dan mulai dari sekarang. Dalam menulis memang kita tak boleh merasa terpaksa atau dipaksa. Untuk yang ini jawabannya ada di poin terakhir nanti.
Namun, menulis juga bukan ajang iseng-iseng berhadiah kan? Menulis yang baik itu menulis sesuatu yang tuntas dan bisa dipertanggungjawabkan. Dalam tahap belajar menulis, etos kerja keras amat dibutuhkan. Saya contohkan begini, ketika kita mencoba mengirim tulisan ke media massa pasti tidak langsung diterima. Pasti ditolak dulu. Ada beberapa media massa yang mengonfirmasi dan memberikan keterangan tentang mengapa tulisannya tidak diterima, tapi ada juga yang tidak.
Nah, dengan risiko penolakan begitu banyak, pasti butuh banyak belajar dari makna etos kerja keras ini. Karena pada intinya di luar sana itu ada kompetisi kualitas. Inget, kompetisi kualitas. Bila tulisan kamu belum diterima media yang kamu pilih, berarti tulisanmu belum layak, belum memenuhi standar, masih ada yang perlu diperbaiki lagi. Dan tugas kita sebagai penulis yang lagi belajar adalah terus memperbaiki kualitas tulisan kita. Dengan begitu, kita juga butuh semangat juang.
Ahmad Soleh. Menulis cerpen, puisi, dan esai di berbagai media. Pendiri Penerbit Irfani, penerbit buku indie di Kota Depok. Mahasiswa S2 Uhamka ini juga merupakan awardee beasiswa MPK-SDI PP Muhammadiyah tahun 2024. Selain aktif sebagai sekretaris MPI PDM Kota Depok, ia juga aktif sebagai anggota APEBSKID Komisariat Jakarta. Aktif di Instagram ahm_soleh
