f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
algonema

Aglonema Harus Belajar Dari Anthurium !

Aglonema sedang naik daun, meski harga bombastis, tak menyurutkan para lovers untuk asyik masyuk mencumbuinya. Bahkan nafsu mereka makin menggila. Pecinta akan sangat rela menukar lembaran merah rupiahnya dari dompet atau rekening dengan lembaran daun warna warni dalam pot.

“Yang merah-merah ini berapa mba?” Iseng aku bertanya, saat cuci mata di kebun bunga Kampung sebelah. “Yang itu rongewu setengah wae mba, barusan ada orang Jakarta ambil 2, itu barangnya masih dipojokan.  Kalau mau yang masih baby, 2-3 daun, mangatusan tak kasih.”  Jawab si embak sambil sibuk menyirami koleksinya agar tampak segar.

Mak tratap, mataku tiba-tiba berkunang-kunang mendengarnya. Bunga yang wujudnya daun tanpa kembang itu, setara dengan UMR Provinsi Lampung.    Rongewu setengah, mangatusan adalah penyebutan harga dengan gaya litotes, menghilangkan tiga digit belakangnya agar harga yang sesungguhnya tidak menikam jantung pertahanan pembeli.   6-7 daun seharga 2,5 jt. Berarti 1 daun setara 400 ribu. Gilla!

Fix aku mlipir ke area bunga 20 ribuan saja sejenis krokot dan mawar aneka warna yang penuh duri. Meski berduri, tapi harganya tak ‘menyakiti’ dan satu lagi, wujudnya sungguh-sungguh bunga bukan daun.  

Daun Primadona

Sampai di rumah aku coba cari pembanding harga sama professor google. Kembali ‘mak tratap’ tapi sedikit lebih tenang dan lebih bisa menguasai diri. Bunga-bunga dari suku talas atau keladi ini memang sedang jadi primadona. Harga beragam mulai puluhan ribu hingga puluhan juta sesuai dengan kasta dan ukuran. Suku asli Aglonema harganya masih bersahabat dan ramah.

Jenis-jenis red anjamani, black maroon dan jenis-jenis Dut dibandrol dengan harga puluhan ribu hingga ratusan ribu saja. Tapi untuk jenis suku hybrid, impor dan bermutasi, harga bisa setara dengan motor atau bahkan mobil.

Tiba-tiba saya teringat salah satu tulisan Iqbal Aji Daryono, dalam buku ‘Out of The Truck Box’ tentang refleksi spiritual seorang predator. Dia bilang tentang status sosial yang dilekatkan pada hewan adalah bentuk arogansi dan sikap diskriminatif manusia yang teramat parah. Satu waktu orang membela mati-matian hak hidup hewan tertentu karena punya wajah manis dan unyu.

Tapi di waktu bersamaan membantai kelompok hewan lainnya demi memuaskan tuntutan isi perutnya. Refleksinya lengkap dengan segala perdebatan soal live-stock sebagai bahan makanan dan Pet sebagai hewan kesayangan. Saya sedang tidak ingin membahas perdebatan itu. Hanya ingin meminjam cara berpikirnya sebagai analogi.

Arogansi dan Sikap Diskriminatif

Model-model arogansi dan sikap diskriminatif manusia kembali mencuat pada kasus klepon yang tidak syar’i. Manusia seperti memiliki hak untuk menakar spritualitas dari jajan pasar. Kue klepon tidak islami dan yang islami adalah kurma. Nalar dagang yang direpresentasikan dalam foto klepon tak islami, direspon dengan gegap gempita baik secara ilmiah akademik melalui konsep makanan halalan thoyyiban maupun bentuk resistensi makanan lokal terhadap makanan impor, atau sekedar respon dengan meme-meme yang mengundang tawa. Yaa, semua tentang suka-suka manusia saja.

Hobby yang Masif di Medsos

Kembali pada nasib Aglonema yang sedang ‘berbunga-bunga’ karena mendapat status sosial kasta brahmana dari publik pecinta bunga.  Di masa pandemi yang sudah nyaris genap lima bulan dijalani, bermunculan hobby-hobby baru yang bisa saja dimaknai sebagai bentuk katarsis dari kejenuhan dalam ketidakpastian.

Bersepeda, yoga, berkebun, baking menjadi pilihan-pilihan hobby yang memenuhi ruang-ruang publik melalui media sosial, dan secara massif menular membentuk trend di masa pandemi. Seorang teman mendadak menjadi cheef handal dan memenuhi dinding story instagramnya dengan berbagai hasil makanan olahannya.

Kolega di kantor mengeluh, “Godaan laki-laki, tidak lagi harta-tahta-wanita tapi sudah bergeser menjadi harta-tahta-dan sepeda. Harga sepeda makin menggila, ditambah pernak pernik aksesoris yang lebih mahal dari sepedanya. Semua karena corona.”

Saya pun menimpali, “Kamipun (mamah-mamah muda) sedang diserang virus Aglonema, jauh lebih ganas dari Corona. Dengan Corona kami bisa cuci tangan, tapi terhadap aglonema makin kami cuci mata, rekening kami makin meronta dibuatnya”.  

Hobby bertanam Aglonema sedang menemukan momentumnya. Di saat banyak orang dipaksa untuk lebih banyak berada di dalam rumah karena PSBB ataupun local lock-down, bertanam adalah pilihan. Sosial media menjadi ruang kampanye dan provokatif paling jitu. Dinding-dinding facebook, WA, dan IG dipenuhi warna-warni aglonema yang merepresentasikan kelas pemilik akunnya. Semakin merah semakin berkelas. Virus aglonema pun menyebar tak terbendung, menyerang pertahanan dompet dan rekening di masa pandemi.

Belajar dari Anthurium

Ya, untuk petani bunga, Corona menjadi semacam blessing in disquise. Wabah yang membawa berkah.  Stok Bunga yang dibudidaya laris manis terjual.  Seiring tingginya permintaan, harga aglonema merangkak naik atau bahkan berubah harga. Harga tidak lagi sebatas sepadan dengan nilai barang tapi menjadi harga psikologis. Harga yang diminta penjual dengan menyerang psikologi pembeli, berapapun harganya akan dibayar dengan sukarela.

Fenomena harga psikologis bukan yang pertama. Sesama keluarga bunga, aglonema harus belajar pada anthurium. Sejarah mencatat bahwa anthurium pernah dipuja sebagai tanaman para raja. Anthurium merepresentasikan keteguhan, ketegasan, dan kekokohan dari bentuk dan warna daun yang tegas menjulang.

Masih lekat di ingatan kita, sekitar tahun 2007-2010, kasta anthurium juga pernah naik daun dengan harga bombastis hingga ratusan juta rupiah bahkan konon hingga milyaran. Gelombang cinta, king cobra, Jemani, keris adalah keluarga anthurium yang kini hanya menjadi warga biasa, pernah membuat banyak orang patah hati. Ratusan juta rupiah modal digelontorkan untuk budi daya, saat panen tiba, sekonyong-konyong harga raja berubah menjadi jelata.

Tak hanya keluarga bunga, burung, kucing, dan binatang-binatang reptile, juga pernah mengalami hal yang sama. Pernah dinaikkan kastanya sampai di puncak beberapa saat, dan tiba-tiba kembali menjadi rakyat biasa.

Semua Ulah Siapa?? 

Ya, ulah arogansi dan kesewenang-wenangan manusia, melekati status sosial liyan dengan kacamata kemanusiaannya. Mafia menetapkan kasta bunga dengan suka-suka untuk mengeksploitasi aglonema (lovers).  Buat aglonema, tak perlu jauh-jauh, belajarlah dari keluargamu sang anthurium. Belajar untuk tidak silau dengan propaganda status sosial buatan manusia.  Tetaplah bersahaja, cinta dan janji manis manusia itu seringkali bikin hati ambyar.  *Penulis adalah Mufliha Wijayati adalah seorang Ibu, pengajar, yang suka menulis isu-isu aktual tentang keluarga, gender dan anak

Bagikan
Post a Comment