f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
aku tak ingin

Belajar Menjadi Penulis Seperti Bapak (Part II)

Menelurkan karya tulis yang berkualitas bukanlah hasil dari tidur-tiduran sambil mimpi di siang bolong. Meskipun sekarang ini memang bisa saja kita menulis sambil rebahan. Tapi maksud saya bukan itu, melainkan tulisan itu bukan hasil dari berleha-leha, atau seperti bersantai-santai. Ingatlah, penulis yang baik itu bukan menulis di saat ada waktu luang, tetapi yang meluangkan waktunya untuk menulis.

Otomatis, kita juga mesti punya waktu untuk membaca buku dan berbagai sumber lainnya, kan. Semua itu, bila tanpa semangat juang tak akan bisa terjadi. Ya, mental malas adalah musuh terbesar bagi penulis selain waktu. Malas membaca, malas mengetik, malas menulis, dan seterusnya itu menjadi penghambat yang ada di diri kita yang bila didiamkan bakal meruak produktivitas menulis kita.

Penulis Harus Memiliki Kepribadian yang Jujur

Kita semua sepakat bahwa bohong atau dusta adalah perbuatan tercela. Penulis yang suka berbohong dalam tulisannya tentu saja tidak akan meraih kesuksesan dengan sempurna. Sekalipun ia sukses, suatu saat terbongkar kebohongannya dan semuanya akan hancur. Ya, disembunyikan seperti apa pun, bangkai akan tetap mengeluarkan bau busuk. Kebohongan-kebohongan yang diciptakan untuk tujuan tidak baik itulah yang menyebabkan munculnya kabar bohong alias hoax, plagiarism atau pencurian hak cipta, dan kepalsuan diri.

Hoax itu biasanya informasi yang mengandung kebohongan, entah itu narasinya maupun data yang ditampilkan dengan tujuan untuk membuat suasana gaduh. Dalam hal ini, karya fiksi dikecualikan ya, karena fiksi bersifat khayalan meski kadang juga merefleksikan realitas. Dan karya fiksi tak masuk dalam kategori kebohongan. Sementara plagiarisme, itu tindakan bodoh seorang penulis yang ingin menulis secara instan dengan menjiplak karya orang lain. Siapa yang rugi? Jelas, penulis aslinyalah yang menanggung rugi besar. Untuk bagian ini, kita mesti cari tahu lebih lanjut ya apa saja yang termasuk dalam tindakan plagiat ini.

Baca Juga  Tantangan dan Peluang Menjadi Seorang Penulis Perempuan
Menanamkan Rasa Cinta pada Setiap Tujuan dan Cita-Cita Kita

Seperti sebuah adagium, laut ‘kan kusebrangi, gunung pun ‘kan kudaki. Semua rintangan akan dengan mudah kita lewati bila di hati kita ada rasa cinta pada tujuan itu. Bila kita ibaratkan sebagai kekasih, maka bagaimanapun caranya, kita bakal berusaha untuk bisa bertemu dengannya, meski harus berdarah-darah dan menantang bahaya.

“Begitulah cinta, deritanya tiada akhir,” kata Panglima Tien Feng dari film Journey to The West alias Kera Sakti di Indosiar. Bila kita tarik ke dalam perspektif positif, derita itu adalah bentuk usaha-usaha keras yang kita lakukan untuk menggapai apa yang kita cintai. Jadi, konsekuensi untuk mencintai adalah berjuang dan berkorban. Perjuangan dan pengorbanan itulah yang kadang menimbulkan derita hati. Tapi lantaran cinta, derita hati itu tak jadi sesuatu yang buruk, malah jadi semacam wahana penyucian diri.

Bergerak Dari Zona Nyaman ke Zona yang Penuh Tantangan

Sebuah lagu yang dinyanyikan Fourtwenty menyerukan, “Bergeraklah dari zona nyaman.” Karena dengan tetap berdiam di zona nyaman itu bisa jadi kita terbuai dan tak melakukan apa-apa. Sementara bergerak dari zona nyaman, itu artinya kita sedang memperjuangkan sesuatu yang tentunya berharga untuk diri kita sendiri.

Nah, maka dari itu, bergeraklah dari zona nyamanmu, mari kita nikmati tantangan demi tantangan dalam menulis. Jangan takut, karena di mana-mana main game itu semakin levelnya tinggi, ya akan semakin sulit permainannya. Bukan sebaliknya. Jadi, mulai sekarang jangan jadikan menulis itu sebagai beban. Tanamkan dalam diri bahwa kita cinta menulis dan cinta terhadap karya tulis.

Itulah nilai-nilai hidup yang saya coba ringkas dari apa yang bapak ajarkan kepada saya. Dan itu bisa kita terapkan dalam menulis. Menulis itu memang bukan perkara yang gampang, ya. Meski sudah paham banyak teori tentang menulis, tetap saja ketika mencoba menulis pasti ada saja hambatannya, ada saja kendalanya. Dan bila saya punya mental tempe, pasti sudah menyerah dan bilang, “Gua emang gak bakat banget jadi penulis.” Padahal, menulis itu bukan bakat! Menulis itu keterampilan.

Baca Juga  Dua Penulis Pembakar Semangat
Menjadi Penulis yang Baik, Tidak Seperti Memasak Mie Gelas

Saya, kamu, dan mereka pun bisa menjadi penulis hebat, asalkan mau berusaha. Bila bercita-cita menjadi penulis yang produktif dan punya karya best seller, pasti butuh kerja keras dan semangat untuk berjuang. Untuk menjadi penulis hebat, kita mesti sabar dan tekun. Jangan terlalu ambisius, nikmati saja prosesnya, cintai setiap langkahnya, kemudian yakinlah mestakung. Semesta akan mendukung!

Sebagai penutup, pernahkah kamu membaca kutipan perkataan Imam Al-Ghazali yang bunyinya begini, “Bila kamu bukan anak raja dan bukan pula anak ulama besar maka menulislah.” Saya yakin kamu pernah membacanya entah di mana. Bagi saya, bapak adalah sosok yang menginspirasi dan telah mengajarkan banyak hal, termasuk keuletan yang saya terapkan dalam kegiatan menulis.

Meskipun bapak bukan raja dan bukan pula ulama besar, bahkan ulama kecil pun bukan, rasanya pantas sekali bila saya menghormatinya selayaknya raja dan ulama besar. Sebab ia adalah orang yang telah mengorbankan segalanya untuk saya. Dan dengan menulis dan berkaryalah tanda hormat dan bakti saya kepadanya. Sehat selalu bapak!

Bagikan
Post a Comment