f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
al-qur'an

Al-Qur’an sebagai Way of Life dan Solusi Problematika Hidup

Hidup dan kehidupan selalu menyajikan berbagai macam lika-liku dan skenario yang menarik, menyenangkan dan menggelitik untuk kita cermati dan pahami sebagaimana mestinya. Walaupun di satu sisi hal itu juga menimbulkan keresahan dan kesusahan yang seolah tak berpenghujung dan kita berharap hal itu secepatnya diakhiri atau ditutup dari perjalanan hidup. Pada kondisi yang lebih ekstrims lika-liku tersebut menempatkan kita pada keadaan yang seringkali di luar analisis dan prediksi kita.

Menyikapi hal tersebut tidak berlebihan ketika kita mengingat ungkapan yang populer di kalayak umum bahwa ; “kita hanya berencana dan Tuhan yang menentukan”. Ungkapan ini menjadi semacam warning supaya kita tidak terlalu larut dan terbuai dengan kesuksesan yang kita peroleh ataupun meratapi dan menyesali musibah dan kegagalan yang menimpa.

Kita harus membuang jauh dari cara pikir kita atau mindset anggapan bahwa apa yang kita peroleh sekarang adalah dari jerih payah kita sendiri tanpa ada campur tangan kekuatan yang lebih besar. Bukankah qarun juga beranggapan demikian dalam Al-Qur’an?

Dan ini adalah kesalahan yang besar karena sejatinya semua hal, baik kesuksesan ataupun kegagalan adalah pemberian Allah. Dan keaadaan tersebut bertujuan untuk membentuk kita menjadi pribadi yang senantiasa bersyukur atas kesuksesan dan karunia yang telah kita peroleh; kemudian timbul dalam diri kita untuk berbagi bagi sesama yang belum punya kesempatan memperolehnya.

Pada tahapan berikutnya, bersyukur atas nikmat yang tak terhitung jumlahnya dan tak terbilang nilainya menjadi karakter atau akhlak karimah yang harus dipertahankan dan dilestarikan.

***

Begitu pula ketika kita berhadapan dengan kenyataan kegagalan dan keterpurukan dalam hidup ini, kita harus berupaya untuk tabah dan sabar dan melihatnya sebagai ujian kita. Ujian untuk menjadi lebih baik dalam berserah dan ber-positif thinking terhadap takdir Allah. Karena takdir Allah, walaupun itu buruk di mata kita dan berat dalam persepsi kita; kita harus meyakinkan diri kita bahwa hal tersebut sebenarnya untuk memantaskan kita untuk dekat dan bersanding denganNya. Tentunya kita akan mendapatkan hikmah di balik peristiwa ataupun tragedi yang mendatangi kita. Bukankah ujian itu sebagai parameter untuk menilai setinggi apa derajat kita di sisi Allah?

Baca Juga  Mengenal Ulul Albab, Sebutan Para Ilmuan dalam Al-Qur’an

Melihat realitas hidup dan kehidupan yang dinamis dan penuh dengan tarik ulur, serta gesekan-gesekan; tentunnya kita harus punya pegangan dan pedoman untuk terus konsisten atau istiqomah di jalan yang benar dan penuh cahaya ilahi. Dalam firman Allah yang artinya “berlarilah kalian semua kepada Allah”.

Menuntun kita untuk lari dan beralih dari berat dan sulitnya permasalahan hidup kepada dzat yang menciptakan segala permasalahan yaitu; Allah. Karena dengan kita mengembalikan persepsi semua yang kita miliki atau hadapi kepada Allah; maka sekurang-kurangnya hal tersebut meredakan galau yang membara dalam hati dan menempatkan kita pada titik nol.

Dan hal itu tidak akan tercapai secara penuh kecuali dengan kembali kepada Al-qur’an dan al hadits. Kedua pusaka tersebut adalah kunci kehidupan dan pedoman hidup dan kehidupan untuk bisa sampai kepada tujuan utama kita, yaitu: mardlatillah atau ridho Allah.

Ia penuntun kita di tengah hiruk pikuk kehidupan dan gesekan sosial politik maupun sosial ekonomi. Ia penerang gelap hati kita dan kesesatan cara pandang kita tentang kehidupan dunia yang penuh dengan ambisi, frustasi, keserakahan dan kecongkakan.

***

Dalam sebuah hadist dijelaskan bahwa dengan membaca Al-Qur’an, kita bisa memperoleh syafa’at atau pertolongan besuk di hari qiyamah atau hari pembalasan; hari di mana tidak ada seorangpun yang punya kuasa atas dirinya sendiri. Lalu bagaimana dengan segudang permasalahan kehidupan dunia ini?

Apakah cukup dengan membaca Al-Qur’an kita bisa terbebas dari derita kehidupan dan problematika yang semakin menumpuk dan tak kunjung terselesaikan? Bagaimana kita benar-benar bisa menjalani hidup dan kehidupan ini dengan senantiasa dalam pedoman Al-qur’an?

Membaca merupakan instrumen awal dalam rangkaian dan tahapan kita mendapatkan mardlatillah atau rido Allah. Membaca merupakan unsur utama dalam mempeoleh ilmu pengetahuan yang menjadi arahan dalam melakukan setiap langkah; agar sesuai dengan kaidah dan norma yang ada dan berlaku termasuk kaidah agama.

Baca Juga  Matahari Pukul Sepuluh

Tidak terbatas pada apa yang tertulis saja tapi membaca pada kenyataan yang ada dan melingkupi ruang dan waktu di mana Al-Qur’an turun saat itu. Membaca harus bisa mendorong kita untuk bisa memahami dan mencermati secara lengkap, luas dan mendalam tentang kandungan yang ada dalam Al-qur’an. Dan membaca Al quran dengan tadabburul ma’na (menghayati dan menyelami arti) merupakan obat sakit hati. Obat dari segala macam kegalaun hidup.

Kemudian dengan pemahaman yang utuh dan kaffah kita mampu untuk mengaplikasikan kandungan Al-qur’an dalam kehidupan ini secara utuh dan menyeluruh pula. Bukan pemahaman parsial atau pemahaman yang tak punya landasan valid. Dan tentunya praktek amaliyah tersebut didorong oleh keimanan atau kepercayaan yang mendalam terhadap Allah sebagai Tuhan pencipta segala sesuatu.

****

Perlu diingat di sini bahwa keimanan kita merupakan nikmat yang tidak bisa dihitung baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Ia adalah anugerah yang hanya diberikan kepada orang-orang yang Allah kehendaki bukan yang lainnya. Menjaganya merupakan syukur. Dan harus senantiasa dipelihara dengan melakukan kebaikan dan kebajikan dan menyebarkan kasih sayang. Selain pemahaman utuh kita terhadap realita kehidupan yang merupakan sunatullah (ketetapan Allah yang berlaku di alam semesta)

Amaliyah atau ketaatan kita terhadap Allah dalam keseharian merupakan bukti pengabdian kita dan wujud cinta kasih kita kepada Allah dan sebuah ittiba’ (mengikuti) kita kepada Nabi Muhammad SAW. Dan totalitas kita dalam setiap amaliyah merupakan keniscayaan yang penting dan harus terjaga agar kualitas dari yang kita lakukan semakin lebih baik.

Selain tentunya kuantitas atau banyak sedikitnya amal ibadah kita juga harus senantiasa ditingkatkan. Kualitas di sini menjadi ruh atau jiwa bagi praktek ibadah yang kita lakukan. Tanpanya maka ketaatan kita berasa hambar dan hampa. Kualitas di sini penulis maksudkan sebagai keikhlasan dalam suatu amal perbuatan. Dan ia menjadi rangkaian dan rentetan dari upaya untuk mendapatkan mardlatillah seperti yang tersebut di atas.

Baca Juga  Perjumpaan-Perjumpaan yang Menjadi Anugerah

Bukankah ketika kita telah mendapatkannya dengan serta merta permasalahan hidup menjadi semakin mudah dan kita selangkah mendapatkan sa’adatud daraini (bahagia dunia akhirat)?

Bagikan
Post a Comment