f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
hilang

Meneroka Lika-Liku Perjalanan Penulis Kondang Agus Mulyadi

Bertubuh cungkring, berjanggut lengkung, jenaka dalam berkelakar dan beraksara, dan kemana-mana selalu mengenakan sandal seribu umat: swallow. Saking cintanya pada sandal swallow, ia menuliskan betapa sandal itu sangat setia kawan sekali dalam menemani jejak langkahnya.

Saat menganti swallow lama dengan yang baru–dengan penuh penghormatan yang tiada tara–ia lukiskan dalam kata-kata.

“Aku yakin, kau berhak atas perlakukan yang lebih istimewa setelah sekian lama menemani langkah kaki yang ringkih dan gontai ini, setelah sekian lama bersama-sama memanaskan lantai dansa.”

“Terima kasih swallow jingga. Jangan takut kau akan kesepian, sebab kemarin, ibuku sudah saguh untuk bersedia menjadi tuan rumahmu. Berbahagialah. Sebab surga ada di telapak kaki ibu. Dan kupercayakan surga itu kepadamu.” Begitu tulisnya dalam blog pribadinya.

Di antara keduanya, saya rasa ada semacam ikatan batin yang begitu erat layaknya Rossi dengan motor 46-nya, Pram dengan mesin ketiknya, atau Sapardi Djoko Damono dengan sajak-sajak hujannya.

Siapakah Agus Mulyadi?

Dialah Agus Mulyadi (selanjutnya ditulis Gusmul), lelaki yang bersahabat sejak lama dengan sandal seribu umat itu. Bagaimana tidak, kemana pun kaki melangkah swallow tetaplah menjadi pijakan yang siap sedia menunjang mobilitas dan melindungi kakinya dari panasnya aspal. Hal ini dapat kita lihat pada acara Kopdar blogger lintas daerah yang diikutinya pada tahun 2016 silam.

Lelaki kelahiran Magelang ini dari semenjak hidupnya yang serba tragis dan nelangsa hingga pada fase kebangkitan finansial seperti sekarang ini senantiasa mengedepankan kesederhanaan dalam hidup. Hal ini bukan tanpa sebab.

Dalam wawancaranya bersama Puthut EA selaku Kepala Suku Mojok, Gusmul pernah tinggal di Jogja selama setahun dan tidak punya pekerjaan sama sekali, padahal ia harus membayar kosan dan tentu saja untuk makan sehari-hari. Maka, satu-satunya pekerjaan yang memungkinkan untuk dilakukan hanyalah jaga warnet yang gajinya tak seberapa itu.

Baca Juga  Penulis dan Karya Fiksi

Dari sanalah kisah tragis dimulai. Awalnya ia bekerja sebagai karyawan perusahaan yang kerjaan utamanya yakni mengelem benang teh celup. Sebelumnya, ia tak mengira kalau dirinya tertipu perusahaan abal-abal. Sampai sini saja Anda–yang telah lama kenal Gusmul melalui tulisannya atau bahkan kawan lamanya–dapat membayangkan betapa ia mengelem benang teh celup dengan sangat serius dan presisi.

Setelah itu, ia mengundurkan diri lalu beralih ke perusahaan yang kerjaannya berjualan tuksedo. Ia lagi-lagi kembali tertipu perusahaan abal-abal. Tidak berhenti sampai situ, penipuan duniawi yang dialaminya berlanjut tatkala ia masuk ke institusi perguruan tinggi yang kini sudah bubar. Sebab setelah lulus, ia tak disalurkan ke lembaga atau perusahaan untuk dipekerjakan yang mana hal tersebut tak sesuai dengan perjanjian awal.

Di sinilah fase di mana seorang Gusmul tak lagi memiliki uang dan akhirnya memilih untuk minggat dari Jogja.

Pada sesi wawancara tersebut, ia bilang kalau kampus D1-nya dulu berdekatan dengan Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) yang berada di Jl. Tata Bumi, Kecamatan Godean. Sedangkan ia harus ngontel menuju rumahnya di Magelang. Ia menerangkan kalau rumahnya bersebelahan dengan kompleks perumahan Akademi Militer Angkatan Darat terbesar di Indonesia yang berada di Jl. Jend. Gatot Soebroto, Kecamatan Mertoyudan.

Di sini, kita akan mengetahui seberapa jauh jarak yang harus ditempuh Gusmul dari titik A ke B. Kasarannya saja, titik A adalah STPN dan titik B adalah Akmil. Jika dilihat di G-maps jarak antara keduanya cukup bahkan sangat jauh jika ditempuh dengan mengendarai sepeda ontel. Tak tanggung-tanggung 41 km adalah jarak dan rute tercepat yang harus dilibasnya dengan estimasi waktu tiba (lalu lintas normal) 55 menit-1 jam lebih.

Baca Juga  Sayembara Menulis; Milad 2 Tahun Rahma.ID

Jika bersepeda, saya memperkirakan Agus Mulyadi memakan waktu sekira 2 jam bahkan bisa lebih. Belum lagi momen itu terjadi pada bulan puasa. Saya pikir ini merupakan heroisme dari seorang lelaki yang kalah di medan juang dan memutuskan untuk rehat sejenak di kampung halaman sebelum kembali lagi ke medan juang. Sebuah perjalanan panjang penuh liku yang cukup tragis yang pernah dialami oleh seorang Gusmul.

Sederet pengalaman getir itulah yang kemudian menjadikan kezuhudan sebagai modal utama dalam mengarungi samudra kehidupan.

Dan kini lihatlah, betapa Gusmul telah mengalami fase kupu-kupu. Ia pun direkrut oleh Puthut EA menjadi redaktur mojok.co sebuah media daring ber-tagline “Sedikit Nakal Banyak Akal” itu dan menjadi ikon media tersebut. Bahkan pernah mengemban amanah sebagai pemimpin redaksi.

Naskah pertamanya berjudul “Pledoi Truk Boks dan Sandal Joger sebagai Jomblo Abadi” tayang di mojok pada Rabu (27/8/2014). Dan kini, lebih dari 400 artikelnya telah diterbitkan di situs media daring yang katanya sangat tidak mencerdaskan tapi sangat diperhitungkan itu terbukti ampuh mengantarkannya ke depan pintu gerbang kemerdekaan keberhasilan dalam menapaki jenjang karirnya.

Lalu, bagaimana bisa media sekaliber mojok bisa mengantarkannya pada gerbang kejayaan itu?

Untuk mengetahuinya, sekarang mari kita kalkulasi bersama. Naskah terbit sejumlah 400, satu naskah–taruhlah–berhonor 250 ribu. Jika kedua angka itu dikali maka muncul angka 100 juta! Itu artinya, butuh 6 tahun bagi Gusmul untuk mengumpulkan nafkah sebanyak itu, yang kalau dibelanjakan skinker bisa memenuhi kebutuhan tiga kelurahan. Atau membelikan bakso untuk seluruh staff DPR. Eh, tapi jangan deng. Mubadziiir!.

Belum lagi seminar dan talkshow kepenulisan yang menghadirkannya sebagai pemateri, usaha toko bukunya, ditambah lagi salah satu bukunya yang akan diadaptasi menjadi sebuah film membuat namanya akan semakin tenar di laut, darat, dan udara. Selain itu, status Agus Mulyadi yang kini tak lagi single membikin kisah hidupnya makin sempurna bersama permaisurinya, Kalis Mardiasih.

Baca Juga  Teruntuk Semuanya yang Telah Berlalu, Terima Kasih Sudah Bertahan Sampai Saat Ini

Sungguh sebuah seni kehidupan yang sangat shining, shimmering, splendid. Ya kan Rahmania?

Bagikan
Post a Comment