Relasi Suami-Istri: Laki-laki Tidak Harus Maskulin
“Mas dihabiskan dulu teh manisnya”.
“Iya, mandi dulu sebentar”.
Begitulah kurang lebih dialog setiap hari antara teman saya dan istrinya. Urusan teh manis ini pada awal pernikahannya bisa berdampak panjang jika tidak dihabiskan. Pasalnya, teman saya kadang langsung tertidur karena kelelahan atau langsung mandi sepulang bekerja. Dan seringnya, ia lupa meminum teh manis yang sudah disiapkan itu.
Sedangkan bagi teman saya, urusan teh manis ini sebenarnya tidak penting-penting amat. Tidak perlu dianggap sebagai sebuah simbol pengabdian istri. Toh, jika pun ingin teh manis, ia tinggal membuatnya sendiri tanpa harus meminta bantuan istrinya ataupun orang lain. Karena terbiasa hidup mandiri, teman saya tidak banyak bergantung pada orang lain meskipun urusan teh manis.
Keduanya sama-sama kekeuh berada di posisi masing-masing. Bagi teman saya, tak ada yang salah dengan tidak meminum teh manis. Dan ini bukanlah suatu persoalan yang besar. Sedangkan bagi istrinya, teh manis ketika diminum menjadi tanda sang suami menghargai dirinya dan sebaliknya. Posisi yang merasa sama-sama benar inilah yang akhirnya kadang menimbulkan gesekan yang tidak perlu.
Kasus teman saya tadi tidak bisa dilepaskan dari pemahaman kita mengenai peran suami istri. Ada yang mengatakan bahwa hal ini erat kaitannya dengan budaya kita sebagai orang timur. Dalam tradisi di dunia Timur, laki-laki disimbolkan sebagai pemimpin dan pencari nafkah. Sedangkan peran perempuan diletakkan pada hal-hal domestik, seperti bekerja di rumah dan menjaga keluarga.
Pada kasus teman saya tadi, sang istri memegang teguh prinsip budaya ketimuran, sedangkan sang suami lebih cuek terhadap budaya ini. Tapi apakah benar budaya ketimuran meletakan perempuan di ranah domestik? Apakah benar, budaya dapat memengaruhi relasi suami dan istri?
Antara Feminim dan Maskulin
Beberapa tahun yang lalu sebelum menikah, saya sowan untuk meminta nasihat kepada guru saya mengenai pernikahan. Kata-kata yang terucap dari guru saya itu di luar dugaan. Bukannya menceritakan hal-hal Indah mengenai pernikahan, ia justru meminta saya untuk memilih peran. Maksudnya adalah memilih posisi siapakah yang akan menjadi maskulin atau menjadi feminim antara saya dan calon istri saya.
Penawaran pilihan itu menurut saya cukup mengagetkan. Karena, ketika itu saya beranggapan bahwa laki-laki haruslah menjadi maskulin karena ia yang akan menjadi kepala keluarga. Ditambah lagi dalam penafsiran agama yang saya anut, saya memahami bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan. Dan dalam ego saya sendiri mengatakan bahwa ‘gengsi dong laki-laki kalah sama perempuan’. Begitu kira-kira cara pandang saya terhadap relasi suami-istri ketika itu.
Waktu pun berlalu dan setelah menikah saya baru menyadari mengenai arti maskulin dan feminim yang dimaksud guru saya. Pemilihan peran ini ternyata adalah aplikasi sederhana dari manajemen konflik dalam keluarga. Baik maskulin maupun feminin adalah sifat dan karakter bawaan seseorang. Sifat ini berbeda dengan jenis kelamin (sex). Jenis kelamin laki-laki atau perempuan merupakan perwujudan fisik yang tidak bisa diubah (given). Sedangkan karakter dan sifat lebih kepada perilaku yang dipengaruhi oleh berbagai macam faktor seperti keluarga, pendidikan, budaya hingga kondisi geografis dimana seseorang dilahirkan.
Unsur feminim berkaitan dengan sifat-sifat seperti kasih sayang, sabar, menerima, dan lain sebagainya. Sedangkan contoh sifat maskulin seperti mengambil keputusan, tegas, mampu memimpin, dan lain-lain. Sehingga, sejauh diskusi ini, dapat disimpulkan tidak setiap laki-laki itu maskulin dan tidak semua perempuan itu feminin. Hal ini secara tidak langsung mengubah pandangan saya tentang relasi suami-istri ini.
Banyak Perempuan Yang Menjadi Pemimpin
Sebagai contoh, kita bisa melihat misalnya perempuan yang menjadi pemimpin perusahaan. Ini artinya sifat maskulin dominan dalam dirinya. Atau sebaliknya ada laki-laki dominan sifat femininnya sehingga dia bisa di rumah saja mengurus keluarga. Kedua hal di atas adalah hal yang biasa kita temukan sehari-hari. Kedua sifat ini, baik maskulin atau feminin, bukanlah sifat bawaan tetapi terbentuk karena keadaan yang dihadapi seorang individu.
Pemilihan peran di sini menjadi penting sebagai bagian dari manajemen konflik dalam berkeluarga. Ketika istri lebih berpotensi menjalani peran sebagai pencari nafkah utama, maka suami bisa berbagi untuk meluangkan waktu lebih banyak memperhatikan keluarga. Hal ini akan menjadi masalah ketika salah satunya tidak menyadari peran masing-masing dengan kesalingan.
Konsep manajemen konflik ini sebenarnya sederhana seperti dalam konsep Yin dan Yang di tradisi Tiongkok. Yin mewakili unsur kelembutan dan feminin, sedangkan Yang mewakili maskulinitas dan ketegasan. Kedua unsur ini melambangkan keharmonisan. Jika salah satunya terlalu mendominasi maka akan timbul ketidakseimbangan.
Pun dalam menjalani rumah tangga. Jika istri terlalu dominan misalnya maka berakibat kepada suami yang seperti merasa direndahkan, dan sebaliknya jika suami terlalu dominan akan menimbulkan ketidaknyamanan. Ketidaksadaran akan berbagi peran ini bisa berimplikasi bermacam-macam dari urusan yang bersifat drama termehek-mehek, finansial bahkan hingga urusan perceraian.
Menekan Angka Trend Perceraian
Seorang teman yang juga penghulu nikah memberikan informasi mengenai tabel perceraian dalam beberapa tahun terakhir. Dalam tabel itu disebutkan trend perceraian tiga tahun belakangan cenderung naik setiap tahunnya. Misalnya kenaikan jumlah kasus perceraian di tahun 2018 lebih besar 9% dari tahun sebelumnya.
Masih dalam tabel perceraian itu, disebutkan penyebab utama terjadinya perceraian yaitu perselisihan dan pertengkaran yang tidak bisa didamaikan mencapai 49%. Dari sini kita lihat bahwa faktor utama perceraian adalah konflik yang terjadi terus menerus antara suami dan istri. Sedangkan faktor lain seperti ekonomi, KDRT hingga mabuk.
Data perceraian yang diberikan teman tadi setidaknya menggambarkan bahwa pemilihan peran ini sangat penting bagi seseorang sebelum memutuskan untuk berkeluarga. Hilangkan paradigma lama selama ini yang telalu menyanjung laki-laki atau menomorduakan perempuan. Semua bisa berbagi peran selama masing-masing pihak dapat menerima peran tersebut. Dan konflik, dapat dikelola dengan baik dimulai dari organisasi paling kecil yaitu keluarga. Wallahu a’lam.
*Penulis adalah Peminat Kajian Sosial dan Agama

Peminat Kajian Sosial dan Agama
