Kok Masih Nonton Televisi?
Rahmania, televisi merupakan media elektronik yang masih efisien dikonsumsi oleh semua kalangan di lapisan masyarakat. Apa lagi bagi mereka yang masih belum memiliki alat komunikasi, maka berkumpul di rumah tetangga untuk menonton televisi adalah hal biasa. Televisi menjadi banyak manfaatnya.
Namun berbeda halnya hari ini, acara televisi yang disajikan seringkali menampilkan keprihatinan. Berbeda dengan acara-acara televisi yang terdahulu. Hari ini, banyak muncul acara yang kurang mendidik, menampilkan unsur kekerasan, hedonisme, pergaulan bebas, dan percintaan yang berlebihan. Ini akan sangat berbahaya, jika masyarakat yang menyaksikan televisi meniru apa yang mereka saksikan dari tayangan-tayangan yang tidak mendidik tersebut.
Setting-an Acara Televisi
Acara tv yang mengandung unsur setting-an justru mendapat rating yang lebih tinggi dibandingkan acara yang menyampaikan informasi yang bersifat edukatif. Sebagai contoh adalah “Rumah Uya” yang sempat ramai dibicarakan. Tersebar video yang menunjukkan clip on yang menggantung. Padahal dalam adegan, orang tersebut sedang dipergoki berselingkuh. Selain itu, ditemukan orang yang sama dalam episode yang berbeda. Wah wah.. dengan berbagai kejanggalan, tapi kok masih banyak saja ya yang menonton acara tersebut?
Sebetulnya, banyak dari mereka mengetahui hal-hal seperti setting-an di dunia pertelevisian. Namun, beberapa di antaranya menganggap hal tersebut hanya untuk seru-seruan dan hiburan semata. Seperti yang dikatakan oleh pak Edo, seorang pegawai negeri yang baru dipensiunkan, ketika ditanya. “Pak, kenapa sih masih nonton acara seperti itu? Padahal udah kelihatan banget bohongnya.” kemudian pak Edo menjawab “Ya.. sebetulnya aku nggak suka nonton tv sih, soalnya banyak acara yang aneh-aneh sekarang. Tapi ya gimana aku bosen nggak ngapa-ngapain. Jadi, ya kutonton aja apa yang ada buat hiburan.”
Selain acara reality show setting-an, ada juga sinetron-sinetron yang tergolong berlebihan dan lebay. Salah satunya ”7 manusia harimau”. Sinetron tersebut sangat ramai ditonton bahkan dari kalangan anak anak juga. Padahal dari segi editing, sinetron tersebut jelas tidak menarik. Kemunculan binatang seperti harimau dan jurus-jurus sangatlah terlihat tidak nyata. Banyak adegan bertarung dan juga cerita-cerita mustahil yang terdapat di dalamnya. Seperti penggunaan jurus, mantra, dan adegan terbang macam kelelawar.
Lantas, apa sih yang membuat film tersebut bertahan ribuan episode dan menduduki ratting tinggi?
Karena penasaran, aku mengajukan pertanyaan pada bu Lili, istri pak Edo, sebagai penggemar pertelevisian khususnya sinetron. “Dari sinetron 7 manusia harimau ada pelajaran yang bisa dipetik gak sih, Bu?” tanyaku. Kemudian dijawabnya. “Hmmm.. film itu seru sih jalan ceritanya jadi membuat penasaran. Pelajarannya ya nggak ada. Bahkan filmnya sendiri kadang gak nyambung tapi enak aja ditonton. Aku jadi pengen punya jurus-jurus juga biar bisa terbang dan hilang hehe.”
Mungkin alasan lain sinetron tersebut bisa memiliki rating tinggi dan popular di berbagai kalangan karena adanya adegan romantisasi. Adegan tersebut banyak ditemukan di sinetron-sinetron di Indonesia. Banyak juga anak anak yang ikut baper menonton tayangan tersebut. Bahkan turut meng-upload status galau dan momen kesem-sem melalui facebook. Sangat lucu sekaligus miris jika membayangkan dan menyaksikan bagaimana perilaku anak saat ini.
Belum lagi, acara gosip yang sedang hangat dan ramai dibicarakan. Acara yang mengundang bintang tamu yang sedang viral, baik karena prestasi, maupun sensasi. Itulah acara itu banyak ditonton karena seru, menarik, dan juga ringan untuk ditonton diwaktu luang.
Acara Edukasi yang Kurang Diminati
Sebetulnya, tidak sedikit juga acara berkualitas di pertelevisian Indonesia. Tapi, karena penonton yang cenderung tidak tertarik, jadi beberapa acara tersebut tidak ditayangkan lagi. Acara- acara seperti kuis pintar untuk anak sekolah, reality show yang membahas permasalahan di Indonesia dengan baik, kajian agama, serta acara-acara yang mengandung informasi melalui diskusi cenderung sepi. Kenapa hal tersebut bisa terjadi?
Alasannya mungkin cenderung membosankan bagi beberapa orang termasuk anak-anak yang sangat bosan mendengar hal-hal yang mungkin menurut mereka tidak seru. Serta menyebabkan orang-orang tua dan masyarakat yang ingin menonton tv dengan tujuan refreshing, justru akan jenuh dan mengganti ke acara lain yang menurut mereka lebih seru dan menghibur.
Tak heran, pasaran televisi di Indonesia nyatanya memang seperti itu. Sulit untuk mengubah genre tontonan. Sesuatu yang viral dan ringan akan lebih menarik bagi audience daripada sesuatu yang bermutu. Acara seperti itu dijadikan sebagai pengisi waktu dikala bosan dan luang bagi sebagian orang.
Kebanyakan acara tv di Indonesia saat ini lebih mengutamakan kuantitas dibandingkan kualitas dari acara. Hal tersebut dikarenakan kuantitas akan menguntungkan bagi si pemilik stasiun televisi dan bisa menaikkan ratting. “Yang penting banyak yang suka jadi banyak yang nonton. Masalah bermutu atau tidak, ya gak apa apa lah.” Mungkin itu yang dipikirkan oleh sebagian creator.
Pertelevisian bagi Generasi Muda
Generasi muda atau generasi Z juga sudah mulai sedikit yang menonton televisi. Hal itu, karena mereka tau bahwasannya acara-acara televisi semakin kurang mendidik dan makin aneh-aneh saja. Sehingga, mereka lebih memilih menonton dengan platform yang lebih fleksibel dan dapat ditonton kapan saja. Selain itu, platform tersebut juga berisikan berbagai acara-acara yang bermutu dan menambah pengetahuan mereka. Contohnya seperti netflix, youtube, dan lain-lain.
“Kalau menurutku sih ya nggak papa nonton acara-acara begitu. Kalau, sekadar hiburan biar nggak stress. Tapi, ya sesuai batas dan jangan diikuti yang gak baiknya,” jelas bu Lili. “Tv juga ada berita-berita kok, jadi banyak tau kabar dari macem-macem jadi ya aku seneng aja nonton tv.” pak Edo menambahkan.
Zaman sekarang mayoritas ketertarikan masyarakat Indonesia menonton tv bukan karena ingin mengambil manfaat dari acara tersebut. Melainkan, ingin memuaskan kesenangan pribadi, seperti menjadikan tv sebagai sarana yang menghibur dan mengisi waktu luang.
Rahmania, sangat disayangkan memang, tapi apa boleh buat? Memang begitu yang terjadi di dunia pertelevisian di Indonesia.

Anniez
sangat menarik artikelnya, benar-benar hal yang terjadi di dunia pertelevisian Indonesia saat ini
yadi
anak muda skrg pada udh melek ya sama isu2 seperti ini 👍🏼
Rizqa Aulia
Artikel yang sangat bagus