f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
menikah itu

Ketika Televisi Tak Lagi Berguna

Sekarang, setelah bertahun-tahun lalu saya tidak menonton televisi, saya kembali memaksa menikmati program televisi gara-gara pandemi Covid-19 ini. Dan saya merasa televisi sudah tidak nyaman ditonton. Saya merasa menonton televisi hanyalah buang-buang waktu saja. Kenapa bisa begitu?

Program televisi tidak lagi keren. Beberapa waktu lalu, media sosial Indonesia ramai akibat ulah KPI yang melakukan blur di beberapa program siaran televisi. Ada 14 program dikenai sanksi olehnya. Dan salah satunya adalah program kesukaan saya, The Spongebob Squarepants Movie. KPI bilang ada adegan melempar kue tart ke muka. KPI menganggap itu tindak kekerasan. Jadi, itu melanggar UU.

Akhirnya, semua film berbau kekerasan cuma bisa ditonton di bioskop saja. Lalu, televisi hanya menyiarkan program ala kadarnya. SCTV cuma bisa mengandalkan film FTV, yang alurnya selalu ketebak penonton. Kompas suka update berita doank. Coba kalian sebutkan, apa program menarik sekarang?

Andai saja ada film Ip Man, Big Brother, One Piece, pasti televisi semakin banyak penonton. Sayangnya, film-film semacam itu pasti kena blokir KPI. Coba donk pikir lagi, Pak, Buk! Kan kalau televisi sudah tidak ditonton kalian tidak berguna. Kalian sendiri yang rugi, bukan?

Pemirsa Pindah ke Youtube

Nah, selain itu pemirsa, para artis sudah berpindah ke Youtube. Mereka bikin siaran sendiri lewat Youtube. Semua artis mumpunyai channel Youtube sekarang. Dari Sule si komedian, Deddy Corbuzier, Raffi Ahmad, dan masih banyak lagi. Ini bukan masalah kurang bayaran, tetapi karena Youtube sekarang lebih diminati oleh publik. Dan yang jelas, di Youtube tidak ada sensor KPI. Bhaha.

Saya sering melihat teman-teman atau orang-orang yang lagi kongkow di warung kopi. Mereka memanfaatkan koneksi wifi untuk melihat film di Youtube. Teringat kata teman saya yang hobi nonton film Barat, “Bro, aku habis download film keren, film Rambo. Ayok nonton ini aja, daripada nonton TV gak jelas”.

Baca Juga  Pengaruh Media Sosial Terhadap Akhlak Remaja

Ketika saya main ke kos teman saya itu, TV sudah dikerubung jaring laba-laba, tetapi masih bisa, masih normal, dan biasa saya pakai. Saya ganti dari channel satu sampai semua channel sudah saya buka, akhirnya saya memilih mematikannya dan ikut nonton film Rambo yang telah didowloadnya.

Stok tontonan saya bertambah banyak ketika meminjam Hp-nya. Banyak sekali unduhan dari Youtube, seperti konser amal Didi Kempot. Dia juga suka mendownload kajian-kajian Islam. Katanya, sekarang sudah banyak ustaz yang mengisi channel Youtube. Saya menonton kajian dari Quraish Shihab unduhannya. Itu memang tidak ada di televisi.

Kalau dipikir-pikir, televisi adalah teknologi kuno, sedang media sosial sekarang terbaharu. Saya sering mencari berita-berita di televisi. Ternyata, banyak berita yang sudah viral di media sosial lalu diambil oleh stasiun TV dan disiarkan ulang. Berita kebakaran, maling, pemerkosaan, itu sudah viral di Facebook, di Twitter, atau blog-blog pribadi.

Televisi seolah-olah menjelma sebagai mesin copy, yang mencetak berbagai laporan peristiwa atau kejadian di masyarakat. Program Tawa-Tawa Santai di Net, diambil dari media sosial seperti Tik Tok dan Youtube. Tak jauh beda dengan program On The Spot di Trans7, yang mengumpulkan video-video dari media sosial.

Kalah Cepat dengan Media Sosial

Apa-apa sekarang cepat viral, dan kecepatan media sosial tidak bisa dibendung. Ketika ada kejadian daging babi yang dijual sebagai daging sapi, malah lebih cepat viral di Youtube dan Facebook daripada diliput wartawan televisi. Setelah viral, para wartawan baru menuju ke lokasi kejadian untuk beraksi.

Berita tentang Kekeyi, misalnya, media sosial mana yang tidak ikut memviralkannya? Mulai dari Youtube, website, Facebook, Twitter, Instagram, dan terus tersebar luas. Televisi kapan beraksi? Setelah itu. Televisi benar-benar benar ketinggalan zaman.

Baca Juga  Manusia di Era yang Serba Teknologi

Kalian masih ingat kejadian susur sungai yang menewaskan banyak siswa di Sleman, Februari lalu? Itu sudah ramai di grup Facebook MMJ Jogja. Salah satu grup pemancing, yang sehari-hari update lokasi atau apapun tentang sungai, tentang ikan, tentang pancing. Dan lihat, siapa paling cepat bergerak di lokasi: pemancing. Baru setelah itu viral di berbagai platform media online, seperti detik.com, kompas, tribun, baru masuk televisi. Dan lagi-lagi, apa yang didapatkan di televisi, adalah semua yang sudah didapatkan di media sosial.

Kebayang aja, kalau sinyal internet sudah masuk ke pelosok-pelosok, dan semua orang bisa mengakses internet, televisi pasti sudah tidak ditonton, sudah tidak lagi berguna. Lalu, televisi dibawa ke tukang rongsok untuk dirupiahkan, biar bisa beli kuota internet, dan jelajah Youtube atau Google menjadi skala prioritas. Duh.

Belum lagi, anak-anak sekarang sudah pandai menggunaan gadget. Mereka bisa jelajah Youtube sendiri. Selain itu, mereka asik bermain dengan gadget masing-masing. Televisi seolah milik orang tuanya saja. Lagian, anak-anak kalau mau nonton televisi mau lihat program apa? Upin ipin? Yang ada pasti bosan. Itu-itu mulu ceritanya.

Ditambah hadirnya gim daring. Anak-anak, bahkan hingga orang dewasa, mereka memiliki gim di gadgetnya. Adanya permainan online juga mempermudah orang untuk bermain, tidak perlu keluar dari rumah. Dan waktunya, bisa kapan saja. Mereka menjadi gemar bermain dibanding menonton televisi.

Menyala Tapi Hanya Didengarkan untuk Pengantar Tidur

Beberapa waktu lalu, ayah saya mendapatkan hadiah televisi besar 16 inci dari bank. Setelah sampai di rumah, malah dijual 2 juta ke tetangga. Padahal televisi di rumah kami masih jadul, kotak, bahkan beberapa channel tidak terdeteksi. “Lah, kok malah dijual?” ucapku penuh keheranan.

Baca Juga  Perempuan, Internet, dan Terorisme di Indonesia

“La yang ini saja sudah jarang ditonton, kok mau ganti baru, buat apa?” jawabnya singkat, padat, jelas. Saya masih ingat betul, ayah dan ibu suka sekali melihat program lawak. Sejak ada program “Awas Ada Sule”, sampai munculnya Opera Van Java. Sekarang, waktu yang digunakan menonton tayangan itu mereka gunakan untuk istirahat. Televisi tetap menyala, tapi seolah radio, yang cuma didengarkan sebagai pengantar tidur.

“Ya sudah, sekalian aja yang ini dijual. Terus beli Hp android. Timbang televisinya tidak ditonton. Toh, Hp lebih dibutuhkan. Lebih berguna.” sahut ibu saya.

Bagikan
Post a Comment