Ketika Orang Tua Bermain Media Sosial
Beberapa hari yang lalu, ketika saya lagi asyik nongkrong di angkringan, saya mendengarkan dua bapak lagi beradu pendapat. Mereka berdua sedang membahas anak muda sekarang yang asyik dan suka viral karena media sosial. Menurut mereka, gadget menjadi penyebar fitnah yang besar, sampai-sampai anak salah satu di antara mereka berdua dibatasi dalam bermain gadget.
Saya jadi teringat pengalaman awal pandemi 2020 lalu, ketika semua kegiatan pembelajaran di rumahkan, semua kegiatan masyarakat ditutup, pasar ditutup, dan masih banyak lagi. Pada saat itu, saya memberikan HP kepada bapak-ibu biar mudah beraktivitas sehari-hari. Sebelumnya, mereka belum punya pengalaman menggunakannya.
Tentu saya tidak berhenti sekadar membelikan kedua orang tua saya HP. Saya juga harus mengajari mereka dari nol. Saya mengenalkan mereka WhatsApp, Google, dan aplikasi lainnya, karena mereka baru mengenal dunia gadget. Mereka belum tahu cara kerja Google, mengetik pesan WhatsApp saja masih pakai satu jari telunjuk, lebih-lebih aplikasi lain seperti Gmail. Benar-benar awam.
Bahkan pernah, suatu waktu ketika saya kembali merantau, mereka telepon saya karena ada kendala di HP mereka. Mereka menginstall aplikasi anti virus, eh, malah ternyata HP kena virus dan lemot. Dibawa ke tukang service tetapi takut dikibuli, bayar mahal. Bapak pernah cerita, tetangga yang baru beli HP baru dan minta tukang service instal-in aplikasi Al-Qur’an, eh, disuruh bayar 200 ribu-an. Padahal itu download gratis di playstore. Haduw!
Lima bulan kemudian, mereka sudah mempunyai kelihaian dalam bermain HP andoid. Bahkan sempat membeli HP baru karena fitur HP yang saya belikan dirasa kurang memadai.
Saat ini, mereka sudah menguasai betul HP android. Sudah bisa menginstal aplikasi sesuai kebutuhan mereka masing-masing. Dan kini saya merasakan betul manfaat dari penggunaan HP mereka. Dan saya rasa, orang generasi old pun memang wajib punya HP, terutama bermain media sosial. Kenapa? Ini yang saya temukan dari kedua orang tua saya.
Menyambung Tali Kekeluargaan
Ketika ayah dan ibu mempunyai WhatsApp, mereka langsung banyak grup keluarga. Ayah memiliki grup keluarga dari jalur keluarga sebelum menikah. Ibu pun memiliki grup keluarga dari jalur keluarganya. Sedangkan saya bisa masuk ke kedua grup mereka. Saya jadi lebih kenal dengan saudara dari jalur ayah. Begitupun saya banyak mengenali saudara dari jalur ibu.
Sebelum punya WhastApp, saya bersama kedua orang tua saya hanya memanfatkan momen Idulfitri untuk mengenal sanak famili. Saya dan orang tua mendatangi rumah ke rumah. Itu pun kadang tidak ada di rumah. Bisa dihitung, betapa sedikit yang saya kenal dengan sistem seperti itu. Mungkin, itu sebab banyak keluarga saat ini terputus tali kekeluargaannya.
Sebab, door to door tidak mesti ketemu. Kalau ketemu, mesti itu-itu saja, yang tua-tua saja. Yang muda-muda tidak ketemu karena sudah asyik berlibur dan bermain. Saya sampai pernah satu sekolah dengan saudara saya tapi tidak kenal kalau dia saudara saya. Sebab, selama saya berkunjung ke rumahnya, pasti dia masih merantau, atau kadang sedang main. Apakah kamu juga pernah begitu?
Namun, dengan kehadiran teknologi mutakhir saya jadi kenal lebih banyak. Cukup dengan WhatsApp saya bahkan akrab dengan saudara, bahkan yang sebenarnya nasabnya cukup jauh secara kekeluargaan. Keluarga yang dulu terlihat kecil, kini seolah menjadi keluarga yang sangat besar. Saat ada acara, share di WhatsApp bikin semua anggota hadir acara. Semua itu terjadi karena berawal dari kecanggihan bermain media sosial. Dan itu baru satu: WhatsApp.
Memudahkan Urusan
Di atas sebenarnya sudah sedikit saya singgung. Memang hadirnya teknologi super canggih ini harus bisa diikuti. Banyak banget manfaatnya. Termasuk orang tua zaman old, generasi Z ke belakang utamanya. Tidak hanya menyambung tali kekeluargaan saja. Tetapi bisa meneruskan jalur kekeluargaan berikutnya.
Saat kakak saya membutuhkan pasangan, keluarga saling share foto dan info. Tentu, keluarga jauh pun bisa andil mencarikan jodoh. Semua kerabat saling bantu tanpa sepengetahuan kakak saya. Otomatis, hasilnya cepat dan cari yang terbaik. Ketika kakak pulang dari perantauan, calon sudah ready, langsung ta’aruf, lamaran, dan nikah tanpa butuh waktu lama.
Loh, belum pernah ketemu, bagaimana kok langsung ta’aruf langsung ajak nikah pula? Pertanyaan ini lagi-lagi terjawab oleh kecanggihan teknologi dan keunggulan media sosial. Si calon mengenali dengan melihat media sosial kakak saya. Melihat aktivitas di dunia Instagram. Melihat cara berbicara di Facebook. Setelah ta’aruf jadi lebih dekat dengan WhatsApp.
Sedikitnya, inilah pentingnya bermedia sosial, terutama bagi orang tua zaman old, zaman generasi Z ke belakang agar andil bermain media sosial. Tentu, dalam dunia kerja pun mereka terbantu. Dan masih banyak lagi keuntungan yang bisa diraih setelah menguasai penuh media sosial. Jadi, masih mau ketinggalan zaman?
Lahir di Bantul, 22 tahun yang lalu. Menyelesaikan studi sebagai santri di Pondok Pesantren An Nur Bantul sejak 2009 hingga sekarang. Kuliah di Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta. Beberapa tulisan pernah dimuat di media, seperti: bangkitmedia.com, SantriNews.com, rahmad.id dan pernah juga menulis berita di Koran Kedaulatan Rakyat. Sekarang, ia tergabung dalam komunitas online Rumah Membaca Indonesia (RMI) dan komunitas-komunitas online baca-tulis lainnya. Dan tinggal di Pondok Pesantren An Nur.
