Cara Menyikapi Konstruksi Realitas Sosial di Media dan di Kehidupan Nyata
Salah satu hal yang membuat kita bersyukur sebagai umat manusia adalah memiliki kemampuan untuk berpikir dan bernalar. Meskipun kadang pikiran-pikiran ari beragam sudut pandang memenuhi kepala kita. Ada yang positif ada yang negatif dan ada yang tidak bisa menjelaskan namanya. Mungkin teman-teman yang kajian spesifiknya mengenai psikologi dan ilmu-ilmu lainnya yang mempelajari bagaimana cara kerja otak manusia dapat menjelaskannya. Sebagai anak ilmu komunikasi, izinkan saya untuk berbicara mengenai bagaimana pembentukan konstruksi realitas sosial saja sebagaimana yang sedang saya pelajari dan kemudian menjadi topik tugas akhir saya saat ini.
Singkat cerita, kenapa kita harus mengenal konstruksi realitas? Karena pada kehidupan sosial yang fana ini ada banyak sekali peristiwa sosial yang terjadi di sekitar kita; sehingga kita sangat bergantung kepada framing (cara membingkai) dalam menceritakan peristiwa tersebut untuk memaknai peristiwa yang ada di sekitar kita. Jika dahulu konstruksi realitas hanya disampaikan secara sederhana, yaitu dari mulut ke mulut. Namun seiring dengan kemajuan zaman saat ini penyampaian konstruksi realitas telah berpindah, bermula dari media elektronik seperti televisi, radio dan surat kabar cetak.
Dan sekarang telah berkembang dan semakin luas jangkauan melalui media sosial dan internet. Hal tersebut kita sebut dengan mediatisasi: masuknya logika dan wacana media dalam kehidupan kita sehari-hari. Meskipun belum melakukan penelitian secara empiris, namun berdasarkan pengalaman sehari-hari media sangat mempengaruhi perilaku dan pikiran kita.
Untuk itu kita harus berhati-hati terhadap konstruksi realitas baik yang secara langsung dalam kehidupan kita maupun yang dimediatisasi media. Karena semakin bertambah usia ada beberapa perkataan yang tidak relevan lagi menurut saya dalam kehidupan ini. Sebagai anak yang dahulunya bersekolah di MTsN. Salah seorang guru saya pernah memberi nasehat, “Kalau jadi anak perempuan harus menutup aurat di manapun berada, kita tidak pernah tahu nanti bahaya akan datang di mana saja jika tidak menutup aurat. “
Tetapi setelah beranjak dewasa, pada akhirnya kita mengetahui bahwa korban pelecehan seksual bukanlah salah pakaiannya; namun pikiran orang yang tega melakukan hal-hal tersebut. Dan bertahun-tahun saya berada dalam kesesatan pikiran tersebut, karena menurut komnas HAM pakaian perempuan tidak ada hubungannya dengan tindakan yang keji tersebut. Hal lainnya yaitu, ketika perempuan pulang malam. Sewaktu kecil atau SMA saya percaya saja bahwa perempuan memang tidak boleh pulang malam bila terjadi perempuan tersebut akan mendapat cap yang aneh-aneh.
Padahal saat ini, ada banyak pekerjaan yang mengahruskan perempuan berada di luar rumah sampai malam. Dan mereka memang bekerja bukan seperti pikiran-pikiran yang diwariskan oleh tetua kita. Tidak mudah memang memutus mata rantai tersebut, berkata kesetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam suatu keluarga yang telah mengagungkan kehidupan laki-laki adalah segalanya. Karena orang tua atau yang lebih dewasa dari kita pun telah dirawat dan dikonstruksi pemikirannya dengan demikian. Di sekolah pun ada segerombalan anak laki-laki yang merasa mereka memiliki power (relasi lebih tinggi) dan lingkungan mengamini saja. Karena memang pikirannya telah dikonstruksi secara demikian.
Namun pada saat ini kita tidak bisa melihat sisi negatifnya saja, perkembangan teknologi juga membawa sisi baik. Meskipun pada beberapa kasus kita harus tersadar bahwa kasus seperti bullying dan kekerasan lainnya juga berpindah dari ruang nyata ke ruang publik. Namun dengan adanya media sosial dan internet setiap users juga memiliki kebebasan untuk mengkonstruksi realitas sosial yang baru; seperti banyaknya gerakan yang berbasis dunia online di kehidupan kita sekarang. Intinya hanya, siapkah kita untuk membuka pikiran, mengkonstruksi nilai-nilai baru dan menganalisanya sehingga bisa menjadi manusia yang humanisme. Untuk itu adapun beberapa tips agar kita terhindar dari konstruksi realitas sosial tipsnya adalah sebagai berikut :
Satu : Menyadari bahwa Setiap Individu adalah Unik
Sebagai anak sekolah yang pernah dicela dan dirundung ketika sekolah, dan bukan saya saja ada beberapa teman lainnya. Menurut saya terkadang kehidupan tidak adil, mereka bisa tertawa dengan enaknya setiap pagi di sekolah. Tanpa sadar ada satu anak yang harus berangkat malas-malasan ke sekolah setiap harinya karena kepercayaan diri yang terus terkikis.
Hal tersebut menurut saya, terjadi karena satu anak yang tidak menyadari bahwa setiap individu adalah unik dengan fisiknya dan pikirannya; sehingga jika memiliki kulit putih tidak perlulah dipanggi casper dan lainnya. Begitupun dengan anak-anak yang perempuan jangan ikut-ikutan menertawakan sesama anak perempuan, hal tersebut rasanya lebih sakit karena sesama perempuan harusnya kita bersikap saling support.
Dua : Open Minded
Menurut saya ada banyak obrolan di dunia ini yang tiba-tiba terhenti atau menjadi konflik. Kemunculan pikiran dan rasa yang menganggap bahwa kelompoknya atau caranya berpikir merupakan paling benar menurut saya adalah konstruksi realitas yang menurut saya tidak harus dinormalisasi saat ini. Seperti yang banyak kita lihat dalam kehidupan media sosial; seperti perdebatan yang tidak penting mengenai ibu pekerja vs ibu yang tidak bekerja.
Ada beberapa yang mengatakan bahwa ibu yang tidak bekerja jauh lebih baik daripada ibu yang bekerja karena memiliki waktu yang tidak banyak dengan anaknya. Padalah konstruksi demikian belum tentu ada benarnya, karena yang tahu persis bagaimana strugglenya menjadi ibu adalah diri sendiri. Atau jika boleh curhat adalah mengenai perempuan yang menikah di usia muda dan di usia mapan. Ada banyak sekali perkataan yang mengatakan bahwa perempuan yang telah menikah lebih cenderung bahagia. Padahal kebahagian adalah hak mutlak yang harus dimiliki setiap orang berasal dari diri sendiri. Mau bersama atau sendiri kebahagian adalah hak setiap orang.
Tiga : Menganggap setiap individu maupun kelompok adalah setara
Menurut saya kesetaraan adalah hal penting yang harus dikonstruksi dalam kehidupan sosial kita. Kesetaraan menurut saya bukanlah tentang laki dan perempuan yang mendapat hak yang sama jumlahnya seperti 50% untuk laki-laki atau 50% untuk perempuan. Kesetaraan menurut saya adalah setiap orang haruslah memiliki kesempatan yang sama.
Jika misalnya pada saat ini fasilitas kesehatan atau publik lebih mengutamakan kelompok non-disabilitas; maka beberapa fasilitas seharusnya juga harus diberikan kepada kelompok disabilitas. Sehingga dalam menjalankan apapun seperti sekolah, ruang publik lainnya seperti perpustakaan setiap orang juga memiliki kemandirian dan otonom dalam dirinya sendiri. Untuk itu lah menurut saya, kita harus berhati-hati terhadap apapun yang ada dalam kehidupan kita.
Mengutip perkataan Luhmann yang merupakan seorang sosiolog modern dari Jerman mengatakan. Pada masyarakat modern nilai kebenaran sangat sulit untuk ditetapkan; dan kita haruslah memiliki kemampuan untuk menyeleksi konstruksi realitas yang begitu banyak di sekitar kita, terutama yang telah termediatisasi.
Mahasiwa Magister Ilmu Komunikasi (Pemintaan Studi Komunikasi) Universitas Gadjah Mada
