f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
nostalgia

Masa Lalu sebagai Masa Depan? Nostalgia atau Nostalgi(l)a?

Kadang, hidup ini lucu. Kita duduk di angkringan, minum teh panas, lalu mendadak hati kita nglangut hanya gara-gara lagu lawas yang diputar dari radio tua. Lha iya, kok bisa ya, suara kaset yang kadang kemeresek itu lebih menyentuh daripada pidato pejabat di TV HD QLED zaman sekarang?

Nostalgia, kata orang. Kangen masa lalu. Tapi jangan salah, kangen itu bukan cuma milik mantan. Negara dan sasyarakat juga bisa kangen. Bahkan para politisi kita—yang katanya hidup demi masa depan— ternyata seringkali lebih lihai menjual masa lalu.

Kangen-Kangenan Sekarang Ini

Lihat saja, hari ini banyak sekali narasi politik yang mengajak kita “kembali”. Kembali ke zaman Soeharto, kembali ke UUD 1945 versi orisinil, bahkan ada yang pengen kembali ke harga-harga sembako tahun 1990-an. Padahal waktu itu juga banyak yang hidupnya susah, tapi kenapa sekarang malah dirindukan?

Barangkali karena kita sedang capek. Dunia terlalu ribut. Semua serba tak pasti. Maka, masa lalu jadi oase. Dulu katanya stabil, tenteram, ekonomi maju, dan negara terasa “tegas”. Betul semua itu? Atau cuma bayangan kita yang lapar rasa aman?

Nostalgia Politik, Politik Nostalgia

Nostalgia dalam politik bukan barang baru. Svetlana Boym sudah bilang sejak 2001: nostalgia itu bukan cuma soal ingat masa lalu, tapi juga tentang cemas menghadapi masa depan. Maka ketika masa kini terasa centang perenang, masa lalu tampil bagai mantan ideal: indah karena sudah lewat.

Peristiwa tuntutan Forum Purnawirawan TNI yang baru-baru ini viral misalnya. Tuntutan mereka agar kembali ke UUD 1945 yang asli itu bukan cuma soal pasal-pasal, tapi juga kerinduan akan zaman di mana negara terasa utuh, disiplin, dan lurus lurus aja. Padahal kita tahu, zaman itu juga penuh luka—pembungkaman, kekerasan, dan ketidakbebasan yang disulap jadi ketertiban.

Baca Juga  Writerpreneur: Menggali Kreativitas Menjadi Produktivitas

Tapi kita ini memang bangsa yang mudah lupa, lalu mudah jatuh cinta lagi pada kenangan. De Vries dan Hoffmann (2018) menyebut nostalgia sebagai alat untuk meredam keresahan. Seperti obat penenang, meski kadang bikin kita halu.

Dan jangan dikira ini soal rakyat saja. Politisi pun pandai memetik dawai nostalgia. Dalam kampanye, mereka sering tampil seperti penyair istana kerajaan: mendayu-dayu tentang kejayaan masa silam, lalu menyisipkan janji akan membawamu kembali ke sana—asal pilih saya!

Mewaspadai Nostalgia

Padahal, kata Boym lagi, politik nostalgia itu berbahaya kalau terlalu manis. Ia bisa menyembunyikan fakta bahwa masa lalu bukan surga, tapi penuh paradoks. Orde Baru memang punya tol dan listrik, tapi juga punya penjara bagi mereka yang tak sepakat dengan penguasa.

Maka mari kita waspada. Jangan-jangan yang kita rindukan bukan masa lalunya, tapi rasa aman yang dulu sempat mampir. Jangan-jangan kita bukan benar-benar ingin kembali ke zaman Soeharto, tapi cuma ingin keluar dari kebingungan zaman ini.

Nostalgia boleh. Tapi jangan sampai jadi nostalgi(l)a—kerinduan yang menyesatkan. Karena masa depan tak pernah bisa dibangun dari bayangan kabur masa lalu. Ia hanya bisa tumbuh dari keberanian kita menghadapi realita, meski pahit, dengan mata terbuka.

Bagikan
Post a Comment