f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perceraian

Tumbuhkan Kreativitas di Kala Pandemi

Menggejalanya platform digital informasi (gelombang digitalisasi abad 22) di era pandemi  tentu menjadi sebuah catatan kemudahan tersendiri. Semua serba daring dan virtual dalam mendapatkan akses ilmu secara lebih terbuka. Banyak kesempatan bagi khalayak akademisi, mahasiswa dan para pegiat sosial memanfaatkan waktunya untuk mengikuti berbagai webinar dengan berbagai media baik itu zoom, google meet, youtube dan sejenisnya. Kemudahan dalam berjumpa virtual dengan kalangan tokoh sangat dimudahkan, belanja gagasan segar juga sangat dimudahkan. Hanya dengan klik-klik kode dan password kita akan langsung tersambung dengan saluran informasi, wawasan segar ter-update.

Inilah kecepatan (speed) penulis sendiri sangat menikmati prosesi berbagai silaturfikr (silaturahmi pemikiran saling silang pendapat dan upaya mencari berbagai solusi). Baik itu dengan para tokoh bangsa ataupun dengan para cendekiawan papan atas di Republik tercinta ini. Dengan maraknya diskusi dan seminar melalui daring, mau tidak mau suka tidak suka kita mempelajari banyak hal tentang teknologi informasi karena memang eranya adalah era industri 4.0. Bahkan banyak generasi Z yang menyebutnya society 5.0 adanya banyak kemudahan-kemudahan. Tentu harus diiringi dengan semangat terus belajar dan menyuntikkan nilai-nilai keagamaan yang positif.

Kehadiran dan Dampak Platform Digital

Banyak platform digital selama masa pandemi digencarkan untuk membantu sesama kita. Baik dengan berbagai perantara lembaga seperti kitabisa, LSM, Lembaga ZIS (Lazismu (MCCC), NU Care, Dompet Dhuafa, dan lainnya). Mereka berlomba-lomba digarda terdepan mencukupi kebutuhan masyarakat, sehingga pemerataan sosial terhadap bantuan bisa dirasakan semua kalangan. Terutama khalayak masyarakat menengah kebawah, sembari menunggu bantuan-bantuan yang digelontorkan oleh pemerintah. Dan banyak pihak yang terdampak secara langsung maupun tidak langsung oleh pandemi ini.

Sebut saja para buruh pabrik yang terkena PHK sampai-sampai mereka mencabut anaknya dari berbagai sekolah swasta. Dikarenakan mereka tetap harus membayar sedangkan orangtua mereka kehilangan pekerjaan. Akhirnya dipindahlah anak mereka ke Sekolah Dasar Negeri, padahal anak SD Negeri sendiri yang berada di desa-desa juga terkena dampak. Melalui curhatan ibu saya yang juga seorang guru SD Negeri, “anak-anak justru kotor-kotoran ikut bapak-ibunya kesawah, mereka tidak mau diam dirumah, karena hal inilah orang-orang tua mereka jadi susah dan ikut bingung dengan anak-anak mereka”. Ini bukti bahwa mereka tetap akan bergerak tanpa diam diri dirumah karena mereka tidak semuanya memiliki media daring (handphone).

Baca Juga  Orang Tua Permata Hidup Seorang Anak

Dimana benda canggih ini digunakan sebagai upaya alternatif dalam pembelajaran dan upaya-upaya bantuan sosial selalu diupayakan oleh pemerintah semaksimal mungkin, sehingga tidak terlalu terjadi goncangan sosial yang dahsyat. Karena kebutuhan dasar hajat masyarakat adalah kebutuhan pokok, maka sudah sewajarnya banyak webinar menjadi salah satu alat pemersatu bangsa. Diantaranya membahas tentang pandemi sebagai persoalan ujian sosial kebersamaan atas nama kemanusiaan. Sehingga nafas kegotong-royongan, nafas saling ta’awun satu sama lain terus didengungkan tiada henti. Karenanya mari terus saling tengok kanan kiri, saudara kita, tetangga kita dan semoga kita selalu berusaha agar di masa pandemi ini, banyak yang kita tolong. Dan tentunya kita ringankan beban mereka yang betul-betul sangat membutuhkan uluran tangan.

Saling Ulur Tangan adalah Kuncinya

“Andai hujan bisa menghapus kepedihan kaum mustadafin, Andai panas yang bersinar dari cahaya sang surya bisa menyingkirkan virus ganas mematikan, Andai manusia boleh berputus asa, Andai kegagalan menjadikan manusia berhenti berharap, Andai kehidupan tanpa ujian dan cobaan. Ada langit dan bumi, Ada kepedihan dan kebahagian, Ada kejahatan dan kebenaran, Ada laki-laki dan perempuan, Ada sehat dan sakit, Ada kesulitan pasti ada kemudahan, Ada kesulitan pasti ada kemudahan”,

“innamal usri yusro fainnama’al usri yusro”

“Innama satunsoruuna wa saturzaquuna biduafa ikum”

Bahwa kalian akan ditolong dan diberi rezeki oleh-Nya karena para kaum dhuafa yang senantiasa kita tolong. Hadirnya kita sebagai manusia tentu dalam rangka saling melengkapi dan memberi kebahagian. Tidakkah kita berfikir, adanya kejadian demi kejadian di alam semesta pasti atas kehendak dan atas izin-Nya, mampukah kita menangkap maksud dan pesan yang ingin disampaikan? Apakah kita sudah merenungi kesalahan-kesalahan kita sebagai manusia yang memang tabiatnya adalah keserakahan yang merusak bahkan kita telah telampau berlebihan bersikap sewenang-sewenang terhadap alam. Tidak ada ampun dan toleransi terus menjarah alam bahkan  kita terus merusak dan merusak, tabiatnya memang “Dzoharol fasadu fil barri wal bahri bima kasabat aidinnas”. Memang dasar potensinya menorehkan kerusakan di atas muka bumi, maka keseimbangan dan control menjadi sebuah yang sangat berharga di era penuh ketidakpastian. Menjaga keseimbangan agar tetap teguh berpendirian merawat bumi yang semakin hari masa depannya sempat terancam!

Baca Juga  Menghidupkan Dakwah Profetik
Solusi Gerakan Kreativitas kala Pandemi

Gerakan konservasi menjadi sangat relevan di era pendemi serba stay at home. Mari kreativitas kita tingkatkan dengan berkebun dan sejenis penghijauan agar kita kembali menjaga keseimbangan. Tak kalah penting gerakan bebas plastik dan sampah, penyakit masyarakat kita juga masih seputar hal ini. Pekerjaan rumah dari dulu sampai sekarang yakni menyadarkan masyarakat urban, baik di desa dan kota sama saja. Yang kita butuhkan adalah kesadaran kolektif dan mulai memproduksi benda-benda yang tidak berharga menjadi bernilai. Sebagai contoh usut punya usut provinsi Jawa Barat telah mengedukasi masyarakatnya agar sampah yang bisa daur ulang bernilai. Hasil yang bernilai ini dikonversi menjadi tabungan emas dan umroh. Tentu hal ini sangat menggiurkan dan kreatif, yakni investasi ala-ala sampah. Mari bergeser kepada kebiasaan yang unproduktif menjadi bernilai di masa depan dan bernialai ibadah tentunya.

Gerakan sadar baca tulis juga masih sangat amat relevan. Karena generasi sekarang sangat mengandrungi gadget tanpa hiraukan perpustakaan, tanpa hiraukan karya, bahkan tanpa hiraukan buku fisik. Bisa dibuktikan dengan sepinya pengunjung yang berselancar ke Gramedia,  atau tempat-tempat buku lainnya. Yang tidak kalah ramai dikunjungi oleh masyarakat kita baik tua maupun muda termasuk anak-anak adalah mall dan wisata serta kawasan-kawasan gerai elektronik. Inilah masyarakat kita Indonesia, maka mari perlahan-lahan kita geser tabiat yang tidak bernilai investasi menjadi investasi masa depan untuk generasi-generasi di masa yang akan datang.

Sebauh Harapan Mencapai Kemajuan

Mari perlahan-lahan kita rubah menuju kemajuan dan produktif, sembari memperingati 17 Agustus 2020 Indonesia. Sebagai momentum mengevaluasi dan merenungkan apa saja yang telah dicapai dan apa-apa yang masih menjadi catatan penting. Nantinya untuk segera direalisasikan sebagai bangsa yang besar yang telah merdeka. Kemiskinan, kebodohan, kedzaliman, kerusakan, dan hal-hal yang lainnya harus kita perangi dengan kebaikan-kebaikan. Sehingga berbanding lurus untuk mengangkat derajat bangsa Indonesia. Tetaplah optimis bahwa pandemi ini segera pergi dan berakhir sehingga kita akan kembali normal seperti sedia kala. Segera hapus air mata yang telah terlanjur keluar dan singsingkan lengan menjemput harapan demi harapan bahwa Allah senantiasa menemani dan mengiri bangsa “baldatun toyyibatun warobbun Ghofuur”, bangsa yang baik penuh ampunan. (Editor: Laeli)

Bagikan
Post a Comment