Di Balik Kesempurnaan Hijab
Sampai-sampai hal ini jarang terbahas lagi dalam wujud perilaku. Sederetan kalimat bijak “malu merupakan manifestasi iman”, hanya selayang pandang. Dibaca lalu diabaikan. Saking seringnya dianggap remeh oleh setumpuk akal manusia. Pada zaman di mana tatanan kehidupan kian memburuk. Sekelompok manusia dengan mudah mengurai martabatnya sendiri.
M. Quraish Shihab mengutarakan bahwa malu dari segi bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai perasaan tidak nyaman di dalam hati, akibat melakukan sesuatu yang dinilai buruk atau tidak wajar atau tidak benar. Dan jika merujuk pada literatur agama, maka malu dibagi menjadi dua macam. Ada malu yang lahir dari kesadaran dan dorongan akal. Ada juga malu yang lahir dari kepicikan dan kebodohan.
Pepatah berkata bahwa malu bertanya sesat di jalan, semestinya ketika mendengar hal tersebut, seseorang seharusya tidak malu bertanya, saat dia benar-benar tidak mengerti. Supaya tidak tersesat. Namun, ketika dia malu, maka hal tersebut lahir dari kebodohannya. Di sisi lain, saat seseorang merasa malu berjalan dengan terbuka auratnya. Berarti bahwa rasa malu itu lahir akibat kesadaran yang benar.
Rangkuman sederhana mengenai aurat. Lebih tepatnya adalah memasukkan rasa malu ke dalam salah satu jenis aurat. Nanti kemudian, menyambungkan jenis tersebut dengan akhlak dan hijab. Aurat secara istilah, dalam pandangan pakar hukum Islam, didefinisikan sebagai bagian dari tubuh manusia yang pada prinsipnya tidak boleh kelihatan, kecuali dalam keadaan darurat atau kebutuhan yang mendesak.
Begitupun rasa malu, sesuatu yang harus dipupuk sedemikian rupa sesuai dengan seberapa kita membutuhkannya.
عَنْ أَبيْ مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بْنِ عَمْرٍو الأَنْصَارِيِّ البَدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: صلى الله عليه وسلّم (إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُولَى إِذا لَم تَستَحْيِ فاصْنَعْ مَا شِئْتَ) رَوَاهُ اْلبُخَارِيّ
Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al Anshari Al Badri radhiyallahu ‘anhu dia berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Sesungguhnya termasuk perkara yang didapati oleh manusia dari perkataan nubuwwah (kenabian) yang pertama adalah jika engkau tidak malu maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Al Bukhari).
Perbuatan muncul dari sifat atau akhlak seseorang. Dan akhlak yang baik akan melahirkan perbuatan baik pula. Dalam sekelumit artikel ini, penulis mengambil objek perempuan untuk membicarakan akhlak, malu dan hijab. Malu dan akhlak telah disinggung di atas. Selanjutnya, penulis akan mengulas sedikit berkenaan dengan hijab. Yang nanti akan kita temukan kesatuan dari ketiga kata itu.
Berbagai pusat perbelanjaan di manapun berada, telah menyuguhkan beragam kain pembungkus kepala manusia. Mulai dari kualitas rendah sampai mutu tertinggi. Bisa dipilih yang serasi dengan kadar kantong masing-masing. Sebenarnya begitu mudah akses merangkul kehormatan diri. Namun, kelancaran peluang didistrosi oleh sejumlah kubu. Penutup yang semestinya rapi menghiasi panglima anggota badan. Dialih fungsikan. Sekedar menjadi selimut untuk mengharumkan nama baik.
Benar memang, bahwa mengadakan sesuatu itu dilakukan perlahan dan bertahap. Boleh juga dikatakan, bahwa memakai hijab merupakan tahap awal untuk memperbaiki diri. Namun umumnya, malah dijadikan tabir segenap keburukan. Bagaimana definisinya? Seyogyanya, botol berisi air ditutup rapat, agar isinya tidak tumpah. Begitupun hijab. Didesain menyandingi paras yang anggun. Guna ikut serta memperbaiki dan memelihara karakter. Agar sesuatu yang dihijab tidak meluap.
Lalu kira-kira apa wujud dari sesuatu yang dihijab? Ialah rasa malu. Ketika malu telah tersusun utuh. Maka akhlak yang lain pun mengikuti. Tetapi, aturan hidup selalu dirunyamkan. Dan beberapa wanita kini minim malunya. Merelakan mahkota kemuliaan demi sanjungan rekan lawan jenis. Membiarkan khalayak memata-matai gelagat yang tak terkondisikan.
Menyaksikan perpaduan wanita cantik berhijab sempurna dengan pria yang tak kalah bergaya alim sedang berbahagia senda gurau sembari menjeramah satu sama lain. Tanpa terikat akad resmi. Di mana fungsi penghalang diposisikan? Kalam sebatas kalam di bibir. Tidak memperkirakan makna yang seharusnya.
Artikel ini disajikan tidak bermaksud untuk mencoreng makna hijab ataupun mengunggulkan kalimat “lebih baik tidak berhijab daripada berakhlak buruk”. Tetapi lebih kepada penekanan atas konsep perbaikan diri. Sewajarnya memanjat pohon dengan tujuan mengambil buah, maka akan terus naik ke atas agar segera mencapai apa yang dimaksud. Tidak kemudian turun sebentar lalu naik lagi. Kecuali jika dia terpeleset, akibat tidak berhati-hati.
Q.S An-Nisa (4): 79
مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ
Artinya: “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allâh, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.”
Tafsir Ath-Thabari jilid VII halamn 356-357
Bisyr bin Mu’adz menceritakan kepada kami, ia berkata: Yazid menceritakan kepada kami, ia berkata: Sa’id menceritakan kepada kami dari Al Qatadah, tentang firman-Nya,
مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ
“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri, bahwa maksudnya adalah, “Hai anak Adam, itu adalah siksaan akibat perbuatan dosamu.”
Muslimah yang Allah muliakan, betapa akal telah Allah karuniakan sedemikian rupa. Sehingga manusia dapat mengoreksi mana yang benar dan mana yang kurang tepat. Mampu memahami tindakan-tindakan sesuai batas aturannya. Di balik kesempurnaan hijab tersimpan segala ikhtiar yang didasari penuh oleh kesadaran pikiran para wanita. Di mana seorang wanita sesungguhnya berada pada fase renovasi ketika dia memutuskan untuk berhijab. Mengapa demikian? Karena hakikat hijab adalah menjilbapi hati dan semua bentuk kehormatan.
Mahasiswa. Instagram: Ariij Ikbar Facebook: Ariij Ikbar.
