Belajar Menjadi Dewasa
Sudah menjadi kodrat bahwa manusia adalah makhluk yang dinamis. Oleh karenanya manusia akan senantiasa tumbuh dan berkembang. Salah satu komponen yang dimiliki manusia berupa fisik atau jasad ini jelas akan tumbuh dan berkembang; akan tetapi tumbuh kembang fisik manusia memiliki limit atau batas waktu tertentu, bahkan ada masanya fisik itu mengalami penurunan, khususnya dari segi kemampuan. Sedangkan komponen manusia yang lain seperti jiwa manusia akan senantiasa tumbuh dan berkembang. Ruh yang ditiupkan Allah Swt. kepada manusia kemudian akan menggerakan jasad untuk melakukan sesuatu; bernafas, mendengar, beraktivitas dll., yang selanjutnya dari proses tersebut akan sampai pada pengisian jiwa.
Di setiap rentang kehidupan, manusia memiliki tugas perkembangannya tersendiri, tentu dengan klasifikasi atau karakteristiknya masing-masing. Rentang kehidupan ini adalah sesuatu yang pasti, tidak bisa dirubah, dan tahapannya tidak bisa ditukar. Sebuah ketidak mungkinan ketika tahapan manusia setelah bayi langsung menjadi lansia atau manusia lahir langsung remaja. Oleh karenanya, fase perkembangan manusia ini bertahap mulai dari janin (pranatal), bayi baru lahir (neonatal), bayi, kanak-kanak awal, kanak-kanak akhir, puber, remaja, dewasa dini, dewasa madya, hingga akhirnya lanjut usia (lansia) (Hurlock, 1980).
Salah satu tahap pekembangan manusia adalah dewasa. Berbicara soal dewasa, beberapa orang merasa bahwa menjadi dewasa adalah suatu hal yang cukup menantang. Bahkan ada beberapa lagu yang menggambarkan perasaan menjadi orang dewasa seperti Beranjak Dewasa by Nadin Amizah, Menjadi Dewasa by Gari, dan Takut Tambah Dewasa by Idgaf. Berdasarkan lagu-lagu tersebut dapat diketahui bahwa dewasa adalah tentang begitu banyak hal yang berjalan tidak sesuai ekspektasi. Kemudian dewasa juga tentang memiliki berbagai macam tuntutan yang mengharuskan seseorang untuk tetap kuat. Selain itu, menjadi dewasa tidak jarang membuat seseorang harus mengorbankan kebahagiaan sendiri demi membuat orang lain bahagia.
***
Dalam buku Psikologi Perkembangan karya Elizabeth B. Hurlock disebutkan bahwa seseorang dikatakan dewasa ketika ia telah menyelesaikan pertumbuhannya (tuntas dengan tugas perkembangannya di fase sebelumnya) dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat bersama dengan orang dewasa lain. Fase dewasa identik dengan beberapa hal di antaranya masalah dan penyesuaian diri. Pakar psikologi perkembangan mengungkapkan, tugas perkembangan dewasa awal atau dewasa dini pada umumnya terkait dengan pemenuhan berbagai tuntutan dan harapan masyarakat (Dewi P. Sari, 2021).
Selaras dengan pendapat di atas, Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh pernah berkata dalam salah satu kesempatan di Sinau Bareng, “Pendewasaan berbicara tentang berani atau tidaknya seseorang untuk menghadapi rasa sakit”. Beberapa prosesi yang ada di Indonesia sebagai tanda bahwa seseorang dapat dikatakan menuju kedewasaan misalnya upacara mengikir gigi, khitan, dan tradisi Fahombo (lompat batu) juga melibatkan rasa sakit. Oleh sebab itu, orang dewasa dituntut untuk mampu menyesuaikan diri secara mandiri meski dengan rasa sakit sekalipun (Hurlock, 1980).
Penyesuaian diri adalah hal yang tidak mudah, apalagi untuk manusia dewasa dengan segala tugas perkembangan, tuntutan, dan harapan yang ada. Ada tiga alasan umum seorang manusia dewasa sulit untuk melakukan penyesuaian diri, di antaranya :
Pertama, tidak adanya bekal atau persiapan yang matang. Sebagai contoh, terkadang seorang orang tua selalu menyalahkan anaknya jika main handphone terus menerus atau ngeyel ketika diberi tahu. Jika ditinjau kembali, apakah orang tua ini sudah menggunakan metode yang baik ketika memberitahu anaknya? Apakah metode bentakan adalah cara yang efektif? Itulah salah satu pentingnya bekal dan persiapan yang matang agar seseorang dapat lebih mudah menyesuaikan diri.
Kedua, mencoba menguasai dua hal atau lebih dalam satu waktu. Manusia memang memiliki kebebasan atas dirinya. Akan tetapi ada beberapa hal yang mungkin perlu dijadikan pertimbangan. Misal, menikah ketika masih kuliah atau menjadi ibu bekerja. Penyesuaian diri menjadi sulit karena pada akhirnya harus berperan ganda menjadi mahasiswa sekaligus istri/suami atau menjadi ibu sekaligus pekerja.
Ketiga, minimnya bantuan bagi orang dewasa. Stigma orang ‘dewasa’ adalah seseorang yang paling tahu dan mampu melakukan segalanya menyebabkan orang dewasa ini minim bantuan untuk mengatasi dan memecahkan masalah. Padahal orang dewasa juga manusia biasa.
Menjadi dewasa memang tidak mudah, penuh dengan rasa takut, sakit, kecewa, sedih, bahkan seringkali menangis dibuatnya. Segala ekspektasi, tuntutan, dan harapan menjadi hal tidak terhindarkan. Ikuti, hayati, dan resapi setiap prosesnya. Bicara soal dewasa memang penuh rasa sakit, penuh tantangan, dan penuh air mata. Meskipun begitu, menjadi dewasa adalah sebuah proses yang harus dilalui entah bagaimanapun caranya.
Fase dewasa merupakan fase yang paling lama dilewati oleh setiap manusia, lebih dari setengah kehidupan manusia akan dijalani pada fase dewasa. Kita tidak bisa merubah, bahkan menghapus fase ini, yang bisa dilakukan adalah dengan menjalaninya dan menuntaskan tugas perkembangan ini. Oleh karenanya, bertahanlah dan bersabarlah!
Referensi :
Elizabeth B. Hurlock. (1980). Psikologi Perkembangan. Jakarta : Erlangga
Dewi Purnama Sari. (2021). Tingkat Ketercapaian Tugas Perkembangan Dewasa Awal: Studi
Deskriptif pada Mahasiswa IAIN Curup. Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam. 5 (2), 243-266.
