f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pasangan menjadi alif lam mim

Alif Lam Mim

Beranjak dewasa dan memahami tentang perasaan tentunya akan membuat kita menjadi lebih sering bertanya-tanya, lebih rajin memikirkannya. Sudah menjadi fitrah manusia untuk mencintai, selebihnya adalah bagaimana kita bisa memporsi diri untuk tidak melakukan sesuatu di uar jangkauan maupun rida Allah. Sebagaimana manusia yang beriman, hendaknya kita menyerahkan apa yang Allah telah janjikan, yaitu berupa: rezeki, jodoh, dan maut. Wallahu a’lam bish-shawab.

Memasuki umur dengan kesiapan menikah adalah tantangan yang berat, baik yang telah menemukan tambatan hati maupun yang belum. Tapi pernahkah terjebak di suatu keadaan yang membuatmu dilema; memilih untuk meyakininya atau ragu-ragu dan memutuskan untuk menunggu lagi. Ada saat-saat di mana kita berhenti sejenak, bahkan ada hal-hal yang membuat kita malah mundur. Sungguh pilihan untuk siap melaksanakan sunnah ini merupakan keputusan yang cukup membingungkan.

***

              “Alif Lam Mim, hanya Allah yang tahu.”

Begitulah kira-kira ungkapan yang tepat untuk menggambarkannya. Tapi perihal yakin dan menerima adalah pilihan kita setelah berusaha dan berdoa, sehingga Allah memperlihatkan sisi lain untuk mempertimbangkannya. Allah juga telah berfirman dalam Qur’an surah Al-Hujurat ayat 13:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa.”

Orang yang bertakwa adalah yang taat pada aturan Allah dan menjauhi larangannya. Sudah sepatutnya sebagai hamba kita berusaha untuk mencari seseorang dengan kriteria yang sudah Allah gambarkan, yaitu seorang yang mulia di sisi Allah dengan taat kepada seluruh perintahnya. Selain itu, Rasulullah juga menganjurkan beberapa kriteria dalam memilih jodoh, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Dari Abu Hatim Al Muzanni radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

Baca Juga  Sejarah dan Syariat tentang Baju Lebaran

إذا جاءَكم مَن ترضَونَ دينَه وخُلقَه فأنكِحوهُ ، إلَّا تفعلوا تَكن فتنةٌ في الأرضِ وفسادٌ

“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan di muka bumi” (HR. Tirmidzi no.1085. Al Albani berkata dalam Shahih At Tirmidz  bahwa hadits ini hasan lighairihi).

Dan dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تُنْكَحُ المَرْأَةُ لأرْبَعٍ: لِمالِها ولِحَسَبِها وجَمالِها ولِدِينِها، فاظْفَرْ بذاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَداكَ

“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.”              (HR. Bukhari no.5090, Muslim no.1466).

***

Sebagai muslim kita dapat berkiblat pada hadis tersebut, tidak hanya untuk membuktikan ketaatan kita kepada Allah dan sebagai pengikut Rasulullah, namun menjadi acuan dalam memilih pasangan hidup yang ideal. Menjadi pasangan dalam membina hubungan yang mendapat rida Allah—baik di dunia maupun di akhirat kelak. Seperti yang kita tahu, bahwa menikah adalah ibadah yang lama; membutuhkan imam yang dapat membimbing ma’mumnya, dan  sama-sama belajar sepanjang umur.

Memutuskan sesuatu tentunya butuh kesadaran; di mana hati dan akal sama-sama berkolaborasi agar mencapai tujuan yang diinginkan. Begitu juga dengan pernikahan yang tidak hanya tentang mencintai, memiliki, atau hanya senangnya saja. Justru pernikahan adalah awal baru untuk tumbuh bersama dan terus belajar seumur hidup, penyatuan dua manusia yang berbeda. Menjadi suami-istri yang bisa saling memahami dan terus belajar memperbaiki diri adalah pekerjaan selamanya.

Belum lagi jika dikarunia anak, maka di dalam rumah tangga tersebut dibutuhkan rasa mengalah yang tinggi, rasa mencintai yang bertambah, menghormati dan saling menyayangi. Tugas menjadi suami atau istri tidak hanya berhenti pada saat kewajiban-kewajiban kepada pasangan terlaksana, tetapi ada peran baru saat sudah menjadi ayah atau ibu—dimana perhatian sebagai orangtua harus cukup kepada anak, agar tumbuh-kembangnya menjadikannya manfaat untuk sesama.

Baca Juga  Bantulah Selagi Bisa, Karena Kita Tidak Tahu akan Mati dalam Kondisi Miskin atau Kaya

Setelah menikah dan berumah tangga, kita masih berperan sebagai seorang anak dari orangtua kita; baik yang masih hidup atau yang sudah wafat. Perlu banyak belajar untuk bisa membagi rata perhatian kita kepada orang-orang tersayang. Hal-hal inilah yang harusnya disadari sebelum memulai kehidupan baru untuk melaksanakan ibadah panjang itu. Ibadah penuh waktu bersama orang yang tepat, karena menikah adalah tentang menemukan teman untuk bertumbuh.

***

 Lantas, yakinkah dia jodohmu? Seseorang yang selama ini kita jadikan tujuan akhir pertanyaan atas perasaan. Seseorang yang telah menggenapi, membersamai langkah dan hari-hari. Apakah dia memiliki kriteria yang Allah dan Rasulullah gambarkan? Karena sekecil apapun keputusan untuk memilihnya akan membawa kepada jalan-jalan besar selanjutnya.

Perlu diingat bahwa menikah bukanlah perkara asal cinta, tetapi jauh lebih rumit dari sekedar perasaan suka yang sama. Menikah adalah tentang menemukan seseorang yang mampu melihat kelebihan kita, bahkan saat kita tidak dapat menemukannya. Karena terkadang, kita akan mengalami titik terendah dalam hidup, dan jika itu terjadi tentu membutuhkan seseorang yang dapat mengingatkan segala kelebihan yang kita miliki dan mengingatkan betapa berharganya diri kita.

Maka sebelum memilihnya, yakinkanlah dulu bahwa pernikahan menurutmu adalah tanggung jawab sepenuhnya. Baik dari segi materi, pikiran, sikap, agama, dan kesetiaan—segala hal itu perlu diperjuangkan dan dilakukan secara terus-menerus. Dalam pernikahan juga tidak ada benar atau salah; jangan pernah merasa paling benar, karena akan ada kebenaran lain versi pasangan kita.

Bisa saja kita mengalami hal yang sama, namun memiliki persepsi berbeda dari hal tersebut. Saat kita merasa benar dan pasangan kita salah, bisa saja pasangan juga merasakan hal yang sama. Jika sudah merasa seperti itu dan tidak ada yang mau mengalah, pada akhirnya malah membuat masalah menjadi semakin besar. Lalu, untuk apa mempertahankan ego yang demikian jika akhirnya akan sama-sama kalah.

Baca Juga  Luruskan Niat, Mengembalikan Fokus pada Tujuan
***

Untuk itu, meyakinkan diri bahwa dia adalah jodohmu merupakan hal yang harus sesadar-sadarnya diputuskan. Karena kehidupan baru akan dimulai ketika keputusan itu diyakini, dan jalan di depan sana masih sangat panjang untuk dilalui bersama. Yakinkah untuk menghabiskan seluruh hidupmu dengannya? Menghabiskan hari-hari dengan sedih maupun senang, dari segala alasan yang membuat diri kita yakin, kembalilah pada perintah Allah.

Salah satu tanda orang yang diberikan kebaikan oleh Allah adalah memiliki pemahanan agama yang baik. Maka pilihlah calon pasangan yang memiliki pemahaman tentang agama sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Orang yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapat kebaikan akan dipahamkan terhadap ilmu agama.” (HR. Bukhari-Muslim).

Bagikan
Comments
  • Nadira

    MasyaAllah Aishhh

    April 2, 2021
    • Aisy

      Mohon doa ya, Ra 🙂

      April 3, 2021
  • Yuliana

    Semangat Aisy!

    April 2, 2021
    • Aisy

      Terimakasih 🙂

      April 3, 2021
  • Pemy

    Semangat Aisy❤️

    April 2, 2021
    • Aisy

      Terimakasih kak Pemy 🙂

      April 3, 2021
  • Anonim

    Semoga segera mendapat jodoh ya dek🤭

    April 2, 2021
    • Aisy

      Diwaktu yg tepat ya kakak :’)

      April 3, 2021
Post a Comment