Kita Boleh Mengenang Masa Lalu Tapi Tak Boleh Mengutuk Waktu
Masing-masing kita tentu pernah merasakan bagaimana bebasnya menjadi seorang anak kecil yang kesehariannya hanya ingin bermain dan bermain.
Dan memang kita akui, di fase itulah kita bisa benar-benar merasakan kebebasan. Meskipun di kala itu kita tidak menyadari dan hanya membayangkan saat ini kita pernah sebebas-bebasnya dulu. Di lain waktu, mungkin kita lupa, semasa kecil juga punya titik menyesakkan di mana ketika kita lelah dan kalah hingga akhirnya kita marah sepulangnya dan melampiaskannya ke siapa pun di rumah terlebih kepada ibu.
Kelereng yang sebelumnya berjejal di dalam kantong celana yang khas dengan suara cetir-cetirnya, kini sudah habis dipertaruhkan. Bahkan karet kecil yang menggembung di plastik transparan yang siap untuk bertaruh di gundukan pasir pun sudah terkikis habis; atau merangkainya menjadi bahan bermain iyai-iyai lalu banyak putus akibat kenakalan seorang teman yang bermain asal-asalan. Di masa kecil, kita juga pernah kalah dan pernah kesal kepada diri kita sendiri bukan? Dengan muka merengut lalu kita pun pulang membawa kekesalan itu. Kita tidak langsung masuk dan memilih duduk sebentar di teras yang entah itu sedang mata meringis dan lelah bersama kejengkelan.
Sambil duduk memeluk lutut kita pun memerhatikan di jalanan banyak sekali pemuda-pemudi dewasa yang sedang berlalu lalang. Ada yang sedang berboncengan dengan kekasihnya sambil tertawa ria, ada yang baru pulang kerja dengan tampilan keren bersama seragamnya. Di lain waktu, kita juga pernah memerhatikan gerombolan pemuda dewasa yang sangat bahagia nongkrong di warung sambil menyecap kopi dan mengarsik sigaretnya dengan penuh kenikmatan. Beberapa pemudi yang sudah bebas ke mana saja tanpa larangan orang tua. Maka di saat itu pula kita punya keinginan untuk segera menjadi mereka; menjadi seorang dewasa yang bisa bebas-sebebasnya tanpa ada yang hardikan dari siapapun dan di mana pun.
**
“Aku ingin seperti mereka, bebas duduk di warung kopi, ingin merasakan bagaimana membonceng pasangan, merasakan kehangatan baju seragam kerja dan ketika salat di mesjid tidak ada orang lain yang menarik bajuku dari belakang menyuruh ke belakang. Aku ingin salat di saff depan, aku ingin begini, ingin begitu! dan ingin semauku!” ucap hatimu yang penuh kekesalan di sudut sore kala itu.
Dan kita tentu sangat membenci ketika seseorang melarang kita, “Hei! Anak-anak nggak boleh di sini, ini urusan orang tua. dek! Tidur sana, anak-anak nggak boleh begadang.”. Dan banyak lagi macam-macam larangan – walaupun pada saat itu, kita sangat menyenanginya dan ingin menyaksikannya sampai habis.
Lalu dari belakang akan ada seorang ibu yang akan mencubit telinga kita menyuruh mandi hingga akhirnya lamunan itu pun buyar dari pikiran. Seketika kita pun tersadar bahwa kini kita sudah dewasa. Kita terbangun dari ingatan semasa anak kecil yang barangkali juga akibat kejenuhan dalam menghadapi problematika dan tekanan hidup. Entah di ujung senja di tepi sungai, entah sedang duduk di halte bis, atau saat di teras rumah sambil menggenggam secangkir keresahan akibat dipecundangi dunia.
Di waktu yang berbeda terjadi lagi adegan yang sama dari sudut pandang lain masa. Saat sedang duduk juga – kita melihat anak-anak sedang bermain yang mengingatkan kembali bayangan serta anggapan kita bahwa menjadi anak kecil memang cukup bahagia. Tak punya beban hidup, kesibukan yang paling beratnya hanyalah untuk bermain. Sambil tersenyum sendiri kita membayangkan hal-hal itu terjadi lagi kepada kita, dan terkadang kita ingin ke dunia kecil lagi. Dan mulai bergumam sesal,
“Ternyata menjadi seorang dewasa itu tidak mudah, tidak se indah yang ku pandang ketika waktu kecil dulu. Ketika mainanku habis kupertaruhkan, tidak bisa sebebasnya duduk di warung menghabiskan waktu bersama teman, melainkan harus menjunjung tinggi kesibukan pekerjaan. Menjadi dewasa itu ternyata sungguh berat, ah sangat berat.” lirihmu memaki keadaan.
**
Suatu ketika, kita pun tersadar bahwa berada di fase manapun seseorang tentu punya titik jenuh dan melelahkan. Dan acapkali pada kebanyakan kita seringkali lupa bahwa satu-satunya yang kita butuhkan saat lelah adalah beristirahat dan rehat sejenak; atau bahkan mengambil napas baru untuk memulai waktu yang baru agar lebih tenang dan terarah dalam menyikapi segala bentuk kejengkelan.
Menjadi seorang anak kecil pun tentu tidak melulu soal bermain, saat jenuh dan kalah. Seorang anak kecil pun akan ingin sekali menjadi seorang dewasa, dan ketika menjadi seorang dewasa juga kerap kali kita ingin menjadi kecil lagi. Dan ini tentu sering terjadi pada hampir setiap orang. setiap aku, kamu dan kita.
Tapi lagi-lagi, kita hanya perlu rehat sejenak, merindui hal-hal yang sudah terlewat boleh-boleh saja; atau mengidamkan suasana esok hari pun nggak ada salahnya. Tetapi yang salah itu ketika kita menyangka bahwa apa yang kita lalui saat ini bukan pilihan kita.
Dan yang perlu kita sadari sekarang ini adalah ketika seorang dari diri kita membayangkan berada di masa-masa tertentu itu paling menyenangkan dan mengasyikkan lalu kita ingin sekali berada di masa tersebut saat itu juga, itu tandanya kita sedang lelah dan butuh istirahat. Kita tak perlu mengutuk waktu yang lambat atau terlalu cepat berlalu. Hanya cukup meluangkan waktu untuk bersyukur atas hidup yang kita lalui saat ini dan hanya perlu menjadi lebih baik esok dan nanti.
Kita tidak perlu memaki-maki keadaan sampai lupa bahwa suatu ketetapan yang dipilih Tuhan untuk kita itu merupakan sebuah kebaikan dan malah kita menganggapnya keburukan yang membawa kita pada sebuah penyesalan. Jangan sampai, Ya! Ketahuilah, baik aku, kamu dan kita semua adalah makhluk istimewa yang diciptakan Tuhan untuk terus berpikir secara jernih dalam menjalani hidup dan terus berupaya menjadi manusia yang sesungguhnya.
Seorang yang ingin bebas dari penjara diri sendiri

Wiwik
Tulisan dilahirkan jari jemari untuk dihidupkan oleh mata manusia.
Lanjutkann!!