Rumor Antara IPS dan IPA: Ketika Jurusan Jadi Barometer
Sekolah Menengah Atas atau SMA memiliki beberapa bidang studi atau jurusan sekolah. Umumnya memiliki dua jurusan yaitu, IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) dan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Namun, menariknya jurusan IPS selalu dibandingkan dan dipandang sebelah mata dari pada jurusan IPA, entah itu dari segi materi, siswa, sikap, dan lain-lain.
Padahal jurusan IPS bukan merupakan jurusan sembarangan atau buangan. Jurusan ini mempelajari, menelaah, dan menganalisis gejala dan masalah sosial di ranah masyarakat; dengan meninjau dari berbagai aspek kehidupan atau suatu perpaduan. Sehingga jurusan satu ini mencakup materi yang begitu luas dan langsung terjun kepada masyarakat.
Namun tetap saja, stigma kebanyakan menganggap bahwa jurusan IPA merupakan kumpulan pelajar pintar di bidang akademis dan cenderung lebih membanggakan. Sementara, jurusan IPS dianggap sebagai kelas buangan, di mana mereka dinilai kurang dalam kemampuan sehingga tidak bisa masuk kelas IPA.
Itu tentunya dari cermat penulis sendiri, merupakan masalah klasik dan mendasar. Diskriminasi yang terbungkus dalam sebuah stigma itu merupakan pola pikir sebagian orang yang merasa mereka bisa hidup dengan eksakta (ilmu yang bersifat nyata dengan penelitian sehingga dapat terbukti dengan pasti) semata.
Sudah jelas bahwa stigma itu sangat purba yang sama sekali tidak realistis. Pandangan mengenai IPS yang merupakan kumpulan anak bodoh, brandalan, nakal, atau anak sisa tidak sepenuhnya benar. Tidak itu saja, ada juga beberapa mitos yang selalu diyakini oleh sebagian sekolah, yaitu mengenai anak IPA lebih pintar berhitung sedangkan anak IPS hanya bisa menghafal.
Seolah-olah dunia pendidikan hanya bisa mengukur kecerdasaran seseorang berdasarkan berhitung dan hafalan, miris bukan? Bahkan, pada nyatanya konsep hitung-hitungan itu lebih dekat dengan pelajaran di IPS, sebut saja pelajaran akuntansi. Namun berangkat dari mitos dan stigma tersebut, ternyata ada juga beberapa rumor yang beredar mengenai sisi buruk dari jurusan IPS:
1. Persepsi jurusan IPS pabriknya anak nakal.
Pemikiran tersebut muncul karena sebagian besar anak-anak yang masuk IPS itu biasanya kebanyakan dari mereka cenderung suka bergaul dan bersosialisasi, di mana ketika relasi pertemanan mereka semakin luas, tidak menutup kemungkinan bahwa mereka juga akan sering di luar ketimbang hanya belajar di rumah.
Logikanya wajar saja, kalo anak IPS terlihat nakal atau malas. Tapi hal tersebut, tidak bisa serta merta anak IPS dicap lebih bodoh atau malas juga. Masih banyak juga anak IPS lebih pandai karena memang defenisi pandai itu nggak bisa cuman dibatasi pada IQ saja.
2. IPS dianggap Jurusan Buangan.
Rumor ini muncul ketika banyak pelajar yang ingin masuk jurusan IPA, namun tidak diterima. Kemudian terpaksalah mereka masuk jurusan IPS. Jadi dari sanalah IPS dicap sebagai jurusan buangan. Padahal, tidak semua anak IPS berasal dari mereka yang gagal masuk IPA. Banyak juga di antara mereka yang sengaja masuk IPS karna sesuai dengan passionnya.
3. Jurusan Kuliah IPS lebih sedikit dan sempit.
Ini rumor yang cukup menggelitik dan miris ya. Faktanya jurusan Soshum (IPS) dalam dunia perkuliahan itu lebih banyak ketimbang jurusan Saintek (IPA). Namun, karena banyak anak IPA yang lintas jurusan ke IPS. Sehingga menyebabkan tampungan bagi anak IPS cenderung lebih sedikit.
Tapi menariknya, mengapa anak IPA ketika memilih prodi perkuliahan cenderung lari ke jurusan IPS? kenapa tidak ke IPA juga? Dari sini dapat kita buktikan bahwa jurusan IPS juga tidak kalah menarik sehingga membuat anak IPA turut ikut bersaing mendapatkannya.
4. Rumor Selanjutnya Pelajaran IPS Terlalu Mudah.
Sebenarnya beban susah atau sulitnya pelajaran IPA dan IPS itu sama, cuman yang sedikit membedakan fokus pelajarannya. Jurusan IPA lebih ke ilmu-ilmu eksakta yang mempelajari bagaimana alam ini bekerja seperti kimia, fisika, biologi dll.
Sedangkan jurusan IPS lebih ngulik ilmu tentang interaksi sosial masyarakat seperti sejarah, ekonomi, geografi, dan sosiologi. Dalam masalah porsi dan fokus belajarnya memang beda, namun bukan berarti keduanya tidak memiliki beban.
Berangkat dari rumor itu semua, nyatanya IPS memiliki jurusan yang menjanjikan dan bisa menjadi prospek terbaik untuk mencari kerja. Sebenarnya apapun jurusannya, semuanya sama-sama penting. Setiap jurusan juga memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, sama seperti kita.
Baik itu jurusan IPA maupun IPS harus ada dan menjadi kebutuhan. Jangan jadikan jurusan sebagai barometer kesuksesan seseorang, menurut hemat penulis itu merupakan stigma yang sangat dangkal.
Antara IPA dan IPS keduanya merupakan dualitas keilmuan yang berbeda-beda namun saling membutuhkan serta melengkapi. Tanpa IPA, hidup akan hampa karena tidak ada penemuan-penemuan ilmiah yang tersembunyi di dunia. Dan tanpa IPS, hidup akan terasa asing karena tidak ada respon dan tanggapan terhadap problem-problem kemasyarakatan yang ada.
Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an Tafsir Mahasiswa UIN JAKARTA

sri
bagus ulasannya, saya setuju sekali bahwa jurusan ips masih dianggap jurusan sampah di kalangan siswa SMA, padahal jurusan ini menyimpan potensi luar biasa dalam dunia lapangan kerja