f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
penulis rasa redaktur

Penulis Rasa Redaktur

Berawal dari ketertarikan mengikuti penawaran kelas-kelas menulis online di berbagai media masa. Sebagai penulis pemula yang bukan siapa-siapa, tiba-tiba hanya dalam waktu beberapa minggu berubah sebagai penulis handal dan moncer. Siapa yang tidak terpukau dengan profesi itu? Apalagi dilekatkan dengan adanya jaminan tulisan-tulisan kita kelak akan diterima oleh media-media mainstream.

Kelas demi kelas pun berlangsung dengan penuh gegap-gempita. Para calon penulis menumpahkan segala ide serta gagasan masing-masing dipandu oleh seorang mentor dan beberapa admin pembantu. Sebagai salah satu peserta, saya mulai diperkenalkan tentang relevansi, opening, bahasa, komposisi dll yang berujung pada kesukaan pembaca agar tulisan-tulisan kita bisa diterima khalayak pembaca. Intinya kita diminta untuk mengeluarkan segala yang kita kuasai menjadi deret tulisan yang berperspektif sekaligus nikmat dibaca.

Degub jantung para peserta berdetak kencang ketika pengumpulan tugas penulisan kelas memasuki injury time. Penugasan yang dikhawatirkan namun sekaligus membahagiakan peserta karena setelah diendapkan satu atau dua hari semua berharap cemas menunggu ulasan sang mentor. Meskipun tidak ada yang salah dan benar, seluruh karya akan diberikan feedback sesuai standar dari media-media yang ada.    

Keyakinan peserta semakin besar dengan pengayakan mentor apalagi jika satu dua karya peserta lolos media. Sesuai kebiasaan karya-karya yang lolos tersebut di share ke telegram grup, dan selang beberapa hari kemudian disusul dengan notifikasi kalau honor penulisan telah diterima. Kondisi-kondisi seperti ini menimbulkan thrust luar biasa bagi sang mentor; bahkan kasak-kusuk di kelas saya mengatakan jangan-jangan mentor merangkap redaktur sebuah media.

Kepiawaian olah kata dan olah tutur kerap diperdengarkan melengkapi atributnya sebagai kolomnis tetap di beberapa mediacepat saji nasional, semakin mem-branding pesona sang mentor. Saya sendiri termasuk dalam kelompok pengagumnya, hingga satu waktu buku saya memerlukan ulasan pengantar darinya. Tapi karena satu dan lain hal, dia hanya berkenan menulis testimoni saja, meskipun bagi saya adalah sebuah keberuntungan.

Baca Juga  Peka dalam Berkomentar

Euphoria kemagnetan sang mentor semakin membubung, hingga setiap kali ia buka kelas selalu diminati banyak peserta. Platform media seperti Facebook, Instagram, Twitter dirambahnya guna membangun image atas perspektif-perspektif baru yang dikontenkan secara pendek namun apik. Beberapa pembaca beranggapan, konten-konten yang ditampilkannya merupakan embrio materi penulisan kolom mingguannya. Dan, dari sana menimbulkan hiruk-pikuk hingga mengerucut pada perspektif kebaruan oleh sang mentor.

Sejatinya tidak semua media menawarkan honor-honor bagi para kolomnisnya; ada yang memberikan apresiasi dalam bentuk karikatur, voucher, poin hingga hanya sebatas meloloskan dan menayangkan artikel tulisan kita. Jadi, meskipun dengan tingkat kurasi yang sangat ketat media-media yang memberikan honor tetap menjadi target utama para penulis online. Sampai pada satu waktu kita semua dikejutkan dengan isu penghapusan honor dari salah satu media impian penulis pemula seperti saya.

Selain memang kualitas penulisan saya yang masih cethek sehingga jarang dimuat di media tersebut, sehingga kabar penghapusan honor tersebut saya tidak merisaukannya. Saya bisa leluasa menulis di berbagai media dengan karakter dan kemauan redaktur yang beragam; dan dari sinilah saya menemukan merdeka menulis mendampingi merdeka belajar-nya Mas Nadiem. Seluruh materi yang dicontoh dan diperagakan mentor sebaiknya cukup menjadi dasar-dasar menulis kita, masalah pengembangannya terserah pada diri kita masing-masing.

Akhir-akhir ini, saya justru merasakan sembari menikmati ditolak tulisan-tulisan saya oleh berbagai media yang sebelumnya dikesankan minim kurasi dan minim editing. Walaupun hingga saat ini mereka tetap tidak memberikan honor, rasanya fenomena tersebut sekaligus membuktikan bahwa gratis-pun idealisme tetap penting. Dan, tentu penolakan-penolakan tersebut justru merupakan apresiasi bagi penulis untuk terus berkembang dan tidak bergantung kepada honor semata.

Baca Juga  Penulis dan Karya Fiksi

Kata mentor di salah satu sesi mentoring-nya, sebenarnya tulisan-tulisan kalian baru dikatakan berhasil jika memiliki tingkat keterbacaan tinggi, apalagi sampai diseminasi oleh banyak orang. Hal itulah yang melatarbelakangi kelas-kelas menulis online ini diselenggarakan ketimbang soal honor-honoran. Saya ingat betul dengan pernyataan tersebut meskipun saya lupa disampaikannya kapan.        

Sepak terjang mentor di berbagai platform media sosial adalah bagian dari testcase sejauh mana kontennya diseminasi orang banyak. Kultusisasi terhadap dirinya tentu bukan harapannya, meskipun tidak bisa dinafikan namun seiring waktu semestinya para penulis pemula bersegeralah mencari jati dirinya masing-masing. Beberapa kali saya mencoba gaya penulisan penulis lain ternyata tidak semudah menampilkan gaya kita sendiri sekalipun dengan topik yang sama atau mirip-mirip, terpenting kita mampu menampilkan perspektif berbeda.

Jika lolos tayang, tetap sah tulisan kita ditolak pembaca karena bisa jadi sudut pandang saya berbeda dengan sudut pandang pembaca atas sebuah permasalahan. Tinggal bagaimana kita meyakinkan sahabat, tetangga, bahkan keluarga sekalipun tentang sebuah topik melalui perspektif karya tulisan. Saya kira berperspektif jauh lebih terhormat daripada sebaliknya.

Sebelum lupa, hal honor-honoran tetap perlu tapi meyakinkan redaktur agar bisa duduk dan berdiri sederajat dengan penulis jauh lebih penting.

Sekian, terima kasih.

Bagikan
Comments
  • Gratis pun, idealisme tetap penting. Mantap, Pak. Salam KMO.

    Februari 8, 2022
  • wahyu agung prihartanto

    Terima kasih
    Salam KMO

    Februari 8, 2022
Post a Comment