Sudut Pandang Perempuan dari Berbagai Roman
Persoalan perempuan dalam isu kesetaraan gender tidak ada henti-hentinya dibahas dalam dunia modernisasi. Nasib perempuan kini adalah hasil dari kontruksi budaya kita yaitu budaya patriarki yang mengakar dalam masyarakat Indonesia.
Roman Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer terlihat menggambarkan bahwa kedudukan seorang istri tidak akan jauh dari mengurus rumah tangga. Hal ini menandakan bahwa realitas pemikiran sosio-kultural pada saat itu bersikap patriarki. Posisi perempuan tidak setara dengan posisi laki-laki, yang kekuasaanya dijalankan melalui institusi sosial, politik, ekonomi, dan agama.
Persoalan letak geografis di Indonesia tidak semuanya kota menjurus pada dunia modern melainkan lokalitas kedaerahan dan kesukuan tidak bisa dielakan. Dalam dunia dewasa kini persoalan perempuan masih terus di bahas terutama akan hak-haknya. Tidak satu atau dua orang yang memperjuangkan melainkan menjadi gerakan yang universal dalam memperjuangkan hak-hak perempuan di ruang publik terkait keterlibatan dan perannya.
Modernisasi dan digitalisasi adalah ladang untuk terus menyuarakan hak-hak perempuan atas hak tubuhnya, menentukan hidupnya dan memilih jalan untuk keberlangsungan hidupnya. Perempuan modern tidak hanya identik dengan gaya dan kecantikan melainkan harus kritis, cerdas sejak dalam pikiran.
Hak Kesetaraan
Begitupun, mengenai hak kesetaraan ada dalam novel Angin Timur dan Angin Barat karya Pearl S.Buck. Novelnya menggambarkan bahwa perbedaan budaya antara budaya Timur di China dan Barat menggambarkan budaya Amerika.
Kwei-Lan adalah seorang perempuan China yang sejak kecilnya dididik dengan adat istiadat dan selalu berkiblat pada tradisi-tradisi China kuno bahwa perempuan harus menjadi bunga dihadapan laki-laki. Ia dijodohkan antar keluarga terhormat di China akan tetapi suaminya tidak seperti pria China kebanyakan. Suaminya telah hidup jauh lebih modern tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya.
Saat malam pertama di ruang pengantin suaminya mengatakan “Kau memang tidak harus langsung tertarik kepadaku pada pandangan pertama, sama seperti aku, saat melihatmu pertama kalinya. Kau telah dipaksa masuk kedalam pernikahan ini, sama seperti aku. Dalam hal ini kita sama-sama tak berdaya, sampai saat ini. Tapi, sekarang setelah kita berdua saja, kita boleh mengatur kehidupan kita sesuai keinginan. Aku sendiri ingin mengikuti cara yang baru. Dalam segala hal aku ingin menganggapmu setara denganku. Aku takkan pernah memaksamu dalam hal apapun. Kau bukanlah benda milikku, semacam barang bergerak. Kalau mau kau boleh jadi temanku”.
Kwei-lan merasa terpukul apa yang dikatakan oleh suaminya, ia telah dididik dengan cara-cara lama dan perkataan suaminya berarti penolakan atas dirinya.
Dosa Perkembangan Zaman
Jika menurut Mahatma Gandhi kaum perempuan percaya kepada ajaran yang berpamrih pada kaum laki-laki. Juga anggapan kaum perempuan lebih rendah martabatnya. Namun, laki-laki yang berpenglihatan tajam menyadari kaum perempuan sebenernya sederajat.
Tidak dapat disangsikan bahwa pada satu titik terdapat persimpangan jalan. Sekalipun laki-laki dan perempuan pada pokoknya manunggal, harus diakui pula bahwa memang ada perebdaan utama antara kedua jenis kelamin ini. Karena itu tugas dan panggilan masing-masingnya pun berbeda.
Tugas sebagai ibu yang senantiasa diemban oleh mayoritas kaum perempuan, sifat-sifatnya yang khas yang tidak terdapat pada kaum laki-laki. Perempuan adalah mitra laki-laki yang telah dianugerahi kemampuan mental yang sederajat.
Perempuan berhak untuk berperan serta sampai pada hal-hal yang sederajat. Perempuan berhak untuk berperan serta sampai pada pada hal-hal kecil dalam segala kegiatan kaum laki-laki. Perempuan sama berhak atas kebebasan dan kemerdekaan. Perempuan berhak atas kedudukan tertinggi.
Budaya patriarki yang telah mengakar pada masyarakat kita seolah-olah sudah menjadi doktrin peradaban. Patriarki memandang bahwa perempuan persoalannya hanya dapur, sumur dan kasur. Selain itu juga memandang perempuan adalah kaum lemah.
Doktrin yang mengakar tersebut telah melukai peradaban kita sepanjang hari. Memandang perempuan tidak setara adalah dosa perkembangan zaman. Perempuan memiliki keistimewaan dan kelebihan sendiri hal itu bisa dilakukan dengan setara.
Masa Depan Ditentukan Perempuan
Perempuan sendiri harus meyakini bahwa mereka bukan kaum yang lemah. Saya yakin bahwa kaum perempuan itu akan jauh lebih berjasa daripada kaum pria dalam usaha menentang peperangan. Demikian Gandhi memandang bila yang dimaksudkan dengan kekuatan hanya kekuatan kasar, memang kaum perempuan kurang kasar daripada kaum laki-laki. Tetapi bila dimaksudkan dengan kekuatan moral, kaum perempuan mengungguli kaum laki-laki.
Bukankah intuisi kaum perempuan lebih halus, bukan mereka lebih rela mengorbankan diri, bukankah mereka lebih kuat bertahan, bukankah mereka lebih berani? Tanpa adanya kaum perempuan , kaum laki-laki tidak mungkin ada. Jika paham kekerasan dasar kehadiran manusia, masa depan ditentukan oleh kaum perempuan.
