f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
cita-cita

Meneropong Islam Berkemajuan di Muhammadiyah

Akhir-akhir ini, pembahasan mengenai Islam sangat beraneka ragam. Entah dilihat dari esensi maupun substansinya, banyak sekali orang-orang yang berusaha menggambarkan wajah Islam di bumi pertiwi ini. Ada yang namanya Islam liberal, Islam radikal, Islam nusantara, Islam Jawa, Islam berkemajuan dan masih banyak yang lainnya.

Penggambaran mengenai Islam tidak berujung pada kata final, bahkan gencar diperbincangan akhir-akhir ini. Baik di kalangan para ustadz, akademisi, aktivis, mubaligh, pendakwah bahkan di kalangan para Ulama. Muhammadiyah tentu saja akan terus berusaha untuk menjunjung tinggi nilai Islam di muka bumi. Yang dinamakan dengan Islam Berkemajuan.

Sejarah Awal Islam Berkemajuan di Muhammadiyah

Berbicara Islam berkemajuan pastinya tidak terlepas dari sejarah dan perkembangan Muhammadiyah. Di Indonesia sendiri memang organisasi Islam inilah yang memakai gagasan Islam berkemajuan sebagai suatu identitas lama, yang dideklarasikan kembali dan melekat sebagai ideologi untuk melaksanakan arah gerak dalam jati diri eksistensi Muhammadiyah.

Kita kembali menengok sejarah lahirnya persyarikatan Muhammadiyah, berangkat dari keprihatinan K.H. Ahmad Dahlan terhadap situasi dan kondisi global umat Islam waktu itu yang tenggelam dalam kejumudan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Kondisi saat itu semakin diperparah dengan politik kolonial Belanda yang sangat merugikan bangsa Indonesia. Dari situlah Muhammadiyah didirikan.

Wacana Islam berkemajuan saya rasa telah muncul sejak kunjungan KH.  Ahmad Dahlan ke tanah Makkah untuk melaksanakan haji dan mengemban ilmu disana, dan ide atau gagasan itu dimantapkan setelah beliau melaksanakan haji kedua. Dalam proses pembelajaran di Makkah beliau bertemu dan berinteraksi dengan pemikir-pemikir pembaharuan dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin Al-Afghani, dan Rasyid Ridha, serta Ibnu Taimiyah.

Buah pemikiran tokoh-tokoh pembaharu Islam ini menaruh pengaruh besar dalam pemikiran KH. Ahmad Dahlan. Jiwa dan pemikiran beliau disemangati oleh aliran pembaharu itu yang menampilkan corak keagamaan yang sama melalui Muhammadiyah. Hal itu tentu saja bertujuan memperbarui pemahaman keagamaan (keislaman) di sebagian besar dunia Islam yang masih bersifat ortodoks (kolot).

Baca Juga  Surat Untuk IMMawati

Kekolotan yang dialami oleh umat Islam pada saat itu dipandang menimbulkan kebekuan ajaran Islam, serta stagnasi dan keterbelakangan umat Islam. Oleh karena itu, pemahaman keagamaan yang statis itu harus dirubah dan diperbaharui, dengan gerakan purifikasi atau pemurnian ajaran Islam dengan kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadist.

Dengan berdirinya Muhammadiyah ini, Kiai Dahlan ingin mengadakan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. Beliau ingin mengajak umat Islam di Indonesia kembali hidup menurut tuntunan Al-Qur’an dan Al-Hadist.

Dasar Normatif Islam Berkemajuan Perpekstif Muhammadiyah

Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan Islam dakwah amar makhruf nahi munkar dan tajdid, bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan karakter tersebut, Muhammadiyah menegaskan dirinya sebaga gerakan Islam yang melaksanakan misi dakwah dan tajdid. Sebagai gerakan Islam, Muhammadiyah pun sejak awal berkomitmen dan berkiprah untuk memajukan kehidupan umat, bangsa, dan kemanusiaan universal. Karena itu, Muhammadiyah sejak kelahirannya memiliki watak berkemajuan.

Dalam sejarah berdirinya Muhamamdiyah, Kiai Ahmad Dahlan mendirikan persyarikatan ini karena memperoleh inspirasi dari ayat Al-Qur’an yaitu surah Ali-Imran ayat 104 yang artinya “Dan hendaklah diantara kamu segolongan umat yang menyeruh kepada kebajikan, menyeruh kepada yang makhruf dan mencegah dari yang munkar; mereka lah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali-Imran 104).

Pesan yang tersirat di dalam ayat tersebut memberikan perintah tersirat tentang wajib mendirikannya organisasi untuk keprntingan dakdwah islam. Pemikiran Kiai Dahlan tentu saja tidak persial, yang berdasarkan satu ayat saja dalam Al-Qur’an. Tentu saja saling mengaitkan satu sama lain. Dapat merujuk pula ayat-ayat yang lainnya termasuk tentang surah Al-Ma’un yang menjadi basis teologis amal usaha Muhammadiyah.

Baca Juga  Perempuan Millenial Memandang Islam Wasathiyah

Ayat ke-104 surah Ali-Imran memiliki rangkaian kesinambungan substansial dengan ayat sebelum dan sesudahnya sebagai prinsip-prinsip pergerakan dan perjuangan umat Islam untuk mewujudkan Islam sebagai jalan Allah SWT dan terbentuknya masyarakat yang dicita-citakan. Yang disebut sebagai “Khairu Ummah”.

Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman: “ Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Menyeruh kepada yang makhruf dan mencegah dari yang munkar. Dan beriman kepada Allah Swt. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka di antara mereka ada yang beriman. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (QS. Ali-Imran 110).

Makna Khairu Ummah disini adalah orang-orang yang menyeruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan beriman kepada Allah. Dalam ayat ini ada terkandung bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik. Atau bisa dikatakan umat yang unggul, terdepan, maju, dan berkemajuan. Sehingga konsep paradigma Islam berkemajuan bisa dinukil dari ayat tersebut.

Teologi Al-Ashr dan Islam Berkemajuan di Muhammadiyah

Selama ini identitas yang paling kuat diasosiasikan kepada Muhammadiyah adalah sebagai Islam modern, juga Islam reformis dengan etos atau filosofi yang menjadi dasarnya adalah surah Al-Ma’un. Sebetulnya ada narasi lain yang sangat penting bagi Muhammadiyah, namun selama ini tidak banyak dikenal yakni etos atau filosofi Al-Ashr yang didasarkan pada surah ke-103 pada Al-Qur’an.

KH. Ahmad Dahlan lebih sering mengajarkan tentang surah Al-Ashr daripada surah Al-Ma’un. Jika Al-Ma’un hanya diajarkan secara berulang-ulang selama tiga bulan, maka Al-Ashr ini diajarkan selama delapan bulan.

Kita pahami secara sederhana saja, jika teologi Al-Maun merupakan dasar dan filosofi dari Muhammadiyah sebagai gerakan Islam Modernis, maka teologi Al-Ashr adalah dasar dan filosofi dari Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan yang menjadi identitas yang melekat untuk dijadikan pijakan kerja dalam perjalanan Muhammadiyah abad kedua ini.

Baca Juga  Merahmati Perbedaan Awal Puasa

Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al-Ashr: 1-3)

Saya ingin beramsumsi mengapa  teologi Al-Ashr ini dijadikan filosofi dari gerakan Islam berkemajuan perspektif Muhammadiyah? Karena hal terkait dengan keidentikan antara semangat Al-Ashr dengan semangat berkemajuan. Dimensi waktu menjadi suatu yang dominan dalam keduanya.

Saya merasa sekarang ini kita hidup di suatu era di mana waktu menjadi sangat nisbi, terutama karena percepatan teknologi komunikasi dan transportasi.  Mungkin akan sulit untuk mencapai linkungan peradaban yang maju.

Menurut Ayahanda Prof. Haedar Nashir di dalam buku “Islam Berkemajuan untuk Peradaban Dunia” beliau memberikan gambaran bagaimana paradigma Islam berkemajuan Muhammadiyah di abad kedua ini. Menurut beliau, Islam berkemajuan di abad kedua ini harus mampu memancarkan pencerahan kehidupan.

Gerakan Islam yang berkemajuan dan melahirkan pencerahan secara teologis merupakan refleksi dari nilai-nilai transedensi, liberasi, emansipasi, dan humanisasi yang terkandung dalam pesan surah Ali-Imran ayat 104 dan 110 yang menjadi inspirasi kelahiran Muhammadiyah. Semoga terwujud tujuan mulia dari persyarikatan ini. Aamiin. (Editor: Ananul)

Bagikan
Post a Comment