f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
bapakku

Melihat Ke-Rahmatan Lil ‘Alamin-nya Islam, Apa Yang Salah?

Memasuki dasawarsa kedua abad ke-21, ketertinggalan umat Islam menjadi tontonan yang memalukan di panggung dunia. Ketertinggalan umat Islam dari umat-umat lain menjadi sangat mencolok dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Kalau kata “menjadi tontonan” dirasa kurang pas, penggambaran umat Islam hari ini bisa dikatakan masih terpuruk dan tenggelam dalam buritan peradaban.

Ada Apa Dengan Umat Islam?

Taukah Rahmania? Pernyataan bahwa Islam adalah agama yang baik, bisa jadi dibantah oleh sebagian kalangan, khususnya yang memiliki pandangan bahwa kekerasan dan keburukan lainnya selalu berkaitan dengan Islam. Namun sebenarnya pembacaan yang objektif terhadap Al-Qur’an yang menjadi sumber ajaran yang pertama dan yang utama dalam Islam dapat menunjukkan bahwa bantahan itu tidaklah benar.

Karena itu, pembicaraan tentang Islam harus dilakukan secara proposional dengan memperhatikan realitasnya yang kompleks. Namun yang terjadi, kadang kita sering geleng-geleng melihat realitas yang terjadi di sekeliling kita. Sebenarnya, apa yang salah? Bukankah Islam adalah rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin)?

Rahmania pasti tau dong, bahwa Islam tidak hanya sebatas pada agama yang didakwahkan Nabi Muhammad saja, tetapi juga dengan ajaran agama yang diajarkan nabi nabi sebelumnya seperti yang tersebut dalam  Q.S. An Nisa [4]: 163. Dalam ayat ini menunjukkan bahwa risalah yang ada di tangan umat Islam hari ini adalah kelanjutan dari risalah-risalah yang dibawa oleh nabi sebelumnya.

Namun, setelah turun dan diterima manusia yang memiliki otonomi dan kecenderungan berbeda beda, Islam menjadi agama yang berkembang sesuai dengan kodrat manusia. Ada variasi-variasi dalam penghayatan, pemahaman, dan pengalamannya. Hal ini muncul sejak awal sejarahnya.

Manifestasi Islam oleh Hamim Ilyas

Perkembangan mazhab-mazhab menandai berkembangnya perbedaan manifestasi Islam dalam pemikiran dan ide yang pada zaman nabi tidak ada atau hampir tidak ada. Perbedaan mazhab pada gilirannya akan menimbulkan perbedaan umat dalam menjalani kehidupan keagamaan dan sosial umat.

Baca Juga  Nilai Kesetaraan Perempuan dan Laki- laki dalam Islam

Perbedaan manifestasi Islam muncul dikalangan pemeluknya, ada 3 bentuk manifestasi yang dipaparkan Dr. Hamim Ilyas dalam bukunya, antara lain manifestasi dalam pemikiran atau ide, manifestasi dalam perbuatan dan manifestasi dalam keummatan. Yang kemudian berkembang menjadi bentuk-bentuk yang lain.

Ketertinggalan dan menjadi tontonan yang memalukan sudah tentu bukanlah yang diharapkan Allah yang mewahyukan  Al-Quran  dan Rasulullah lewat hadisnya. Dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 62 disebutkan bahwa:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Maka sudah barang tentu kita kembalikan kepada bagaimana Al-Qur’an dan hadis di tafsirkan. Apakah tafsir yang berkembang dalam ilmu ilmu agama Islam telah memberikan inspirasi kepada umat untuk mewujudkan hidup baik? Hidup dengan sejahtera, damai dan bahagia layaknya seperti ayat ke 62 surat Al-Baqarah atau belum? Itu perlu dijawab, atau kita akan tetap tenggelam dalam keterpurukan di belakang kemajuan zaman.

Meniti Jawaban

Dalam buku Fikih Akbar:Prinsip-Prinsip Teologi Islam Rahmatan Lil ‘Alamin, Dr. H. Hamim Ilyas mencoba menjawabnya. Menurutnya, hal ini memang berkaitan dengan tafsir agamanya. Islam normatif yang dilihat lewat Al-Qur’an dan hadisnya tentu saja bagus, nah tinggal tafsir agama yang biasanya diperoleh dari ilmu-ilmu agama Islam. Seperti ilmu tafsir, ilmu fikih, ilmu kalam, dan ilmu tasawuf. Yang mana ilmu-ilmu agama Islam itu memasok tafsir untuk umat. Apa yang ada dalam umat itu merupakan pelaksanaan dari tafsir yang diikuti.

Menurut beliau, krisis yang dialami umat Islam ini berpangkal pada ilmu-ilmu agama itu. Krisinya dimulai dari postulat atau asumsi dasar yang dipakai. Dalam postulat yang banyak digunakan adalah agama untuk Tuhan. Agama hanya berbentuk ritual fikih yang ditujukan kepada tuhan semata. Padahal bukan tuhan yang butuh agama, agama itulah yang diturunkan oleh tuhan untuk manusia.

Baca Juga  Delapan Tahapan Menuju Alam Akhirat

Agama Untuk Manusia, Bukan Untuk Tuhan

Tentu saja Tuhan tidak perlu agama. “wong Allah sudah maha dari segala maha” begitu kata Dr. Hamim Ilyas ketika membedah bukunya di kanal Youtube Maarif Institut. Sehingga Islam bukanlah agama untuk Tuhan. Sesuai dengan surat Al-Anbiya’ [21]: 107 yang menegaskan bahwa risalah Nabi Muhammad merupakan rahmat bagi seluruh alam.

Penegasan ini jelas menunjukkan bahwa agama Islam didakwahkan Nabi berasal dari Allah dan diwahyukan dengan tujuan untuk mewujudkan rahmat bagi alam, khususnya manusia. Ini artinya postulat lama harus direkonstruksi dengan postulat bahwa agama dari tuhan untuk manusia. Supaya manusia hidupnya baik.

Maka perlu kerangka baru. Kerangka yang biasa digunakan adalah kerangka akidah maka kerangka hukum. Menurut beliau itu tidak bisa, karena akidah hanya berhubungan dengan sistem kepercayaan yang masih terbatas. Ketika sudah berbicara tentang manusia akan berbeda, akidah itu membahas manusia itu berkehendak bebas atau tidak.

“Hari ini masih ngomongin terbatas atau tidak? Wong sudah jelas, manusia memang kemampuannya terbatas, tapi batasnya entah dimana” kata Dr. Hamim Ilyas, “termasuk manusia bisa hidup dibumi saja atau tidak? Karena pada akhirnya rahmatan lil alamin itu tidak untuk manusia yang tinggal dibumi saja, sampai Mars atau planet lain juga, kalau ada umat islam sampai kesana, masih menggunakan Islamnya nabi Muhammad.” tambahnya.

Karena postulatnya agama untuk manusia, maka diperlukan paradigma baru dalam ilmu-ilmu agama untuk menggantikan paradigma lama yang penerapannya telah menghasilkan krisis ilmu yang menghasilkan krisis multidimensial. Krisis yang tidak bisa dibantah dan terlihat realitasnya dimana mana.

Tawaran: Kerangka Kebudayaan Sebagai Syariat

Maka Dr. Hamim Ilyas lewat bukunya ini menawarkan kerangka kebudayaan. Yang mana sebenarnya, kerangka kebudayaan ini adalah syariat itu sendiri. Karena kebudayaan itu adalah kebiasaan yang dialami dengan belajar dan syariat itu adalah jalan untuk hidup yang dijalani dengan beradab.

Baca Juga  Islam Sumber Kedamaian bagi Kemanusiaan (1)

Pengembangan kerangka kebudayaan ilmu-ilmu agama Islam sebenarnya merupakan penggunaan kerangka syariat yang dikonsepsikan Al-Qur’an dalam Q.S. Al-Jatsiyah [5]: 18 : “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” Dimana ayat ini berkorelasi dengan 2 ayat sebelumnya yang tentunya tidak bisa dipisahkan.

Maka menurutnya, dari kesatuan ketiga ayat tersebut dapat dipahami ada syariat berdasarkan bimbingan Allah yang harus ditempuh yakni jalan al-kitab, al hukm, an-nubuwwah, rezeki yang baik (kemakmuran) dan keunggulan atas bangsa-bangsa lain.

Ketika ilmu-ilmu agama dikonstruksi dengan postulat agama untuk manusia, maka itu harus menghargai pengalaman manusia. Sehingga agama menjadi landasan teologis sebagai pembangun kemakmuran dan keunggulan, tidak hanya untuk ritual saja.

Bagikan
Post a Comment