Islam dan Sains Menurut Prof. Amin Abdullah
Gagasan penyatuan mengenai Islam dan sains (integrasi-interkoneksi) sebenarnya bukan merupakan fenomena baru dalam khazanah epistemologi keilmuan Islam. Pada dasarnya, Islam tidak pernah mendikotomi/memisahkan antara ilmu agama (ulum al-din) dengan ilmu-ilmu umum. Keduanya memiliki hubungan yang sangat erat dan saling menguatkan satu dengan yang lainnya.
Albert Einstein pernah mengatakan “Ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh”. Artinya, jika keduanya mengalami pendikotomian dan pengotak-an, maka agama dan sains tidak bisa memberikan jawaban atas pertanyaan zaman yang semakin kompleks.
Pemisahan atau persinggungan antara agama dan ilmu umum yang terjadi merupakan akibat persimpangan jalan antara agamawan dan para filusuf di masa Renaissance. Keduanya tidak mampu berinteraksi dan berdialog dengan baik.
Contohnya, persinggungan mengenai agama dan humanisme yang telah berkembang terlepas dari bimbingan keruhanian adalah komunisme. Sebagai suatu ideologi yang tampil akibat dari kegemasan para humanis dalam melihat berbagai ketidakadilan dan penindasan pada awal masyarakat industri. Rasa memanusiakan manusia yang sangat ambisius melalui program-program yang radikal sehingga terlepas dari nilai-nilai agama. Lebih-lebih agama Islam menjadi penyebab ketidakutuhan dalam memahami agama.
Konsep Jaring Laba-laba Keilmuan
Di era disruption ini, gagasan integratif telah bergaung menembus cakrawala pemikiran dengan menawarkan berbagai konsep dan teori. Semisal, islamisai ilmu pengetahuan, Islam sebagai ilmu, saintifikasi Al-Qur’an, objektifikasi ajaran Islam dan lain sebagainya.
Salah satunya adalah Prof. Amin Abdullah yang tampil dengan membawa semangat intelektual dan spiritual baru mengenai agenda besar “Integrasi-interkoneksi Islam dan Sains”. Konsep yang disajikan adalah “Jaring Laba-laba Keilmuan/spider web”, yang sebenarnya merupakan metafora simplikasi/pengarah konsep paradigma keilmuan Integrasi-Interkoneksi. Kemudian mewadahi dimensi pengembangan ilmu dalam melakukan pendekatan pengajaran pembidangan mata kuliah.
Hubungan dalam berbagai metode dan disiplin keilmuan yang tergambar di dalam spider web, bercorak integratif-interkonektif. Di mana terdapat garis putus-putus yang identik dengan pori-pori yang melekat pada dinding pembatas antar berbagai disiplin keilmuan.
Pori-pori yang terdapat di dalam spider web, menurut Prof. Amin Abdullah ibarat lubang angin pada suatu ventilasi, memiliki fungsi sebagai pengatur keluar masuknya udara yang saling bertukar informasi antar berbagai disiplin keilmuan, sehingga corak berpikir/world view dapat secara leluasa saling berkomunikasi dan berdialog.
Melalui proses sejarah intelektual yang cukup panjang dengan membuat pola pikir triadik; bayani, irfani, dan burhani dengan metodologi hermeneutical circle. Maka lahirlah istilah dalam integrasi epistemologi keilmuan, yaitu: hadlarah an-nas (mewakili sumber pengetahuan wahyu sehingga melahirkan ilmu keagamaan/ulumuddin), hadlarah al-falasafah (mewakili sumber pengetahuan akal yang mengaitkan muatan keilmuan dengan tanggungjawab moral etik dalam praksis kehidupan riil ditengah masyarakat, yang kemudian menumbuhkan rumpun ilmu pemikiran Islam/al-fiqr al-Islami), dan hadlarah al-‘ilm (mewakili sumber pengetahuan ilmiah dan melahirkan rumpun ilmu dalam studi Islam/al-dirasah al-Islamiyah).
Logical fallacy Kaum Puritan
Menurut Prof. Amin Abdullah, Al-Qur’an dan hadis tidak akan pernah memiliki makna jika tidak ada suatu metodologi. Dalam metodologi itulah yang kemudian menjadikan manusia menggunakan cara pandang puritan, purifikasi, liberal, konservatif dan lain sebagainya.
Sempat disinggung mengenai corak beragama puritanisme yang dianggapnya berbahaya untuk generasi saat ini dan generasi yang akan mendatang. Sebab, corak beragama seperti ini hanya loyal kepada kelompoknya saja sehingga anti terhadap kelompok lain, mereka memberikan pemahaman beragama dengan mengembalikan kejayaan umat Islam yang telah lampau, namum dengan memahami dalil secara literal.
Menurut Prof. Amin Abdullah, orang puritan hanya melek pada pembahasan keagamaan dan komputer tok, akan tetapi mengenai urusan humanistik dan sosial mereka buta. Perpisahan antara agama dan sains serta agama yang bercorak puritan tidak akan menurunkan keturunan yang sehat, hal ini yang dapat membuat kejumudan masal yang berdampak pada penjajahan dunia Islam atas supremasi Barat.
Sebagai suatu contoh yang dapat kita lihat adalah pada awal maraknya berita mengenai pandemi Covid-19. Karena tidak adanya pemahaman mengenai Integrasi-Interkoneksi antara wahyu dan ilmu-ilmu eksakta, tokoh agama dengan mudahnya berceramah lantang tidak mempercayai akan bahaya virus, padahal dengan jelas secara empirik mengatakan bahwa virus tersebut telah memakan banyak korban jiwa, sangat disayangkan jika seorang tokoh tidak mampu memberikan contoh serta pemahaman yang benar.
Melihat fenomena tersebut, seorang agamawan yang sesungguhnya tentu akan mengkaji ulang dengan mengintegrasikan-mengkoneksikan agama dan sains, serta mampu mendialogkan hal tersebut sehingga berimplikasi pada pencerahan pemahaman yang benar.
Konflik Klasik ahli hisab dan ahli rukyat
Secara periodik setiap tahun terjadi konflik dingin antara pemerintah dengan ormas, maupun ormas dengan ormas dalam penentuan awal bulan Ramadan dan perayaan hari raya Idul Fitri, konflik yang selalu dijadikan bahan tontonan yang menarik di ruang publik dan sampai detik ini belum ada tanda-tanda konflik itu akan berakhir.
Konflik itu disebabkan oleh perbedaan antara pengikut ahli hisab (melalui perhitungan rasional)dan ahli rukyat (melalui penglihatan secara empirik dengan mata telanjang yang dibantu dengan alat yang bernama teleskop) memang tidak bisa disatukan, karena masing-masing disiplin ilmu masih tetap berapologi mempertahankan identitas dan eksistensinya.
Namun begitu, alangkah baiknya dari berbagai disiplin ilmu itu tidak dibangun tembok pembatas yang kedap cahaya dan kedap suara sehingga disiplin keilmuan satu dengan yang lainnya dapat bertegur sapa. Ia harus membuka diri serta berkomunikasi, berdialog, menerima kritik dan saran, serta bersinergi di dalam keilmuan Islam, keilmuan alam, keilmuan sosial, dan humaniora.
Ketua Bidang Kajian Hukum Islam Himpunan Mahasiswa Prodi Hukum Ekonomi Syariah FAI UMS
