Kilas Balik Seorang Feminis
Sering kali, statement buruk tentang feminisme yang dikonotasikan negatif menjadikan banyak kalangan kebakaran jenggot. Pasalnya, beberapa kali saya membaca media sosial berbunyi seperti ini, “Sosok Ibu sering kali menjadi tempat curhat dan cerita seorang anak. Namun, akan sedikit berbeda ketika hal itu dialami oleh anak yang ibunya seorang feminis” dan “Seorang ibu yang sering marah-marah menjadi keyakinanku bahwa dia adalah feminis”
Pemikiran seperti itu, menurut hanya asumsi belaka. Hanya saja banyak orang membenarkan argumentasi tersebut. Namun bagi seorang feminis, tentu saja tidak akan terima dengan argumen tersebut.
Marah-Marah itu Tidak Selalu Diidentikkan dengan Feminis!
Feminis juga sering kali dipandang buruk di kalangan mahasiswa, terkhusus para laki-laki yang notabenenya adalah penggiat kajian intelektual. Padahal di balik pandangan buruk tersebut, ada banyak perjuangan dan itikad yang dilakukan oleh kelompok-kelompok feminis, baik untuk dirinya, keluarga, hingga masyarakat yang menjadi lokus perjuangannya.
Seperti yang pernah saya alami. Sewaktu kecil, Ibu saya hampir setiap hari marah-marah. Sampai sempat terpikir kalau dia membenciku. Tapi ternyata, pikiran itu tidaklah benar. Dibalik itu semua, ketika saya sudah tumbuh dewasa, ibu tidak lagi marah-marah. Maka muncul pertanyaan di kepalaku “kenapa ibuku tak pernah marah-marah lagi denganku?”, begitu pikirku.Saat kutanyakan padanya, “Mah, kok mamah udah nggak pernah marah lagi si sama saya?”. Sambil tersenyum ibu saya menjawab, “ya karena kamu udah tua, udah bisa berpikir secara utuh, mamah dulu sering marah karena sayang sama kamu“.
Tak hanya itu saja, perjuangan perempuan satu ini pun berlanjut. Sering kali ibu membantu pekerjaan ayah. Padahal ayah saya bekerja sebagai buruh singkong, dan bisa dibilang, pekerjaan itu lumayan berat jika dikerjakan oleh seorang perempuan. Jikalau dia tidak tangguh, mana mungkin dia dapat mengerjakannya.
Bukankah ibu saya dapat disebut sebagai seorang feminis? Karena begitu sayang dengan keluarga, ibuku rela melakukan itu untuk ayah. Hal itu yang membuat saya berpikir bahwa seorang feminis tidak selalu menunjukkan perjuangannya untuk perempuan-perempuan di luar sana. Tetapi juga untuk keluarga. Dan soal marah-marah, hal itu adalah cara masing-masing orang tua untuk memberikan pendidikan sesuai dengan karakter anak.
Feminisme itu Penting Untuk Perempuan Indonesia
Ketakutan terhadap feminisme sering kali terjadi pada diri seorang laki-laki ketika membayangkan kehidupan setelah berumah tangga. “Bagaimana nanti ketika istri saya malah menafkahi saya?” atau “Bagaimana jika istri saya yang mengatur rumah tangga nanti?” Pertanyaan karena ketakutan itu selalu muncul dan akhirnya membuat feminisme dipandang buruk bagi para laki-laki.
Menurut Kalis, feminisme sangat penting sebagai alat untuk membongkar penafsiran lama terhadap ayat yang dirasa tidak adil karena budaya patriarki. Hingga sekarang pemikiran terkait hal itu banyak sekali kita jumpai di Indonesia. Salah satu pemikirannya adalah kalau pemimpin itu sebaiknya laki-laki.
Tulisan ini hanya ingin meluruskan pemikiran laki-laki yang buruk terhadap kaum feminis. Karena sebenarnya jika patriarki dan feminis dapat disatukan, keadaan itu dapat saling melindungi daripada korban kekerasan seksual.
Lantas jika feminisme penting bagi perempuan Indonesia kenapa masih banyak orang yang menghakimi bahwa feminisme itu buruk karena merusak kewibawaan para laki laki.
Memiliki Wawasan Gender
Kesetaraan gender merupakan salah satu hak asasi kita menjadi manusia. Hak untuk hidup secara terhormat, bebas dari rasa ketakutan dan bebas menentukan pilihan hidup tidak hanya diperuntukan bagi para laki-laki, perempuan juga mempunyai hak yang sama.
Kesalahan pada diri laki-laki sebenarnya ketika beranggapan bahwa, perempuan itu lemah dan hanya menjadi sosok pelengkap. Terlebih lagi adanya pola berpikir bahwa peran perempuan hanya sebatas bekerja di dapur, sumur, mengurus keluarga dan anak, sehingga pada akhirnya hal di luar itu menjadi tidak penting.
Jika kita mengetahui hadis nabi yang diriwayatkan oleh Abu Daud yang artinya “sesungguhnya perempuan itu adalah saudara sekandung laki-laki“. Menurut Syekh Imad, pada dasarnya setiap apapun yang ditetapkan sebagai hukum bagi kaum pria, juga berlaku sepenuhnya bagi kaum perempuan. Kecuali jika ada dalil maupun nash yang menerangkan kekhususanya.
Tapi sebaliknya juga perempuan akan dikatakan salah ketika dirinya ingin menang sendiri dalam urusan gender. Contoh, ketika dalam berkeluarga karena laki-laki menjadi pemimpin dan tanggung jawab keluarga, istrinya malah menjadikan suaminya sebagai babu. Kamu harus bisa ini, bisa itu, dan diperlukan secara tidak pantas.
Segala hal itu ada petunjuk dan batasan-batasan pada diri laki-laki maupun perempuan. Sebagai makhluk ciptaan tuhan yang diberikan otak untuk berpikir, seharusnya diri kita dapat membedakan mana yang baik dan buruk.
Mahasiswa S1 yang sedang menempuh pendidikan di Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Semester 4 Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Aktif di Ikatan MahasiswaMuhammadiyah Cabang Ciputat, Sekretaris Bidang Senbura Asrama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Cabang Ciputat, Sekretaris Bidang RPK Pimpinan Komisariat UshuluddinCabang Ciputat.
