f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
fitnah perempuan

Perempuan adalah Khalifah, Bukan Sumber Fitnah (1)

“Waspadalah, fitnah terhebat kaum laki-laki adalah wanita”;“Semakin indah paras wanita maka akan banyak laki-laki yang tergiur dengan kecantikannya dan dengan banyak memposting foto-foto di sosial media maka akan menyulitkan laki-laki untuk menundukkan pandangannya”; “wanita adalah racun dunia”. Begitulah narasi-narasi yang sering diperdengarkan kepada kita bahwa perempuan adalah “sumber fitnah.”

Katanya, “perempuan kalau terlalu cantik maka fitnahnya akan semakin besar,”. Saya pun bergumam “cantik salah, jelek pun salah.” Katanya juga, “suara perempuan itu aurat, maka alangkah baiknya tidak digunakan untuk hal-hal yang mendekati fitnah misalnya menyanyi. Kemudian saya mengajukan pertanyaan kepada beberapa komunitas di WAG, bagaimana dengan qari’ah peserta MTQ? Alangkah baiknya tidak perlu ikut menghindari mudharat, jika ia perempuan bisa diikutkan lomba saat usianya belum baligh”. Dan akhirnya saya pun mengakhiri percakapan dan terdiam hehehe….

Yang paling menyedihkan ketika ada yang mengomentari korban kekerasan seksual: “Pantesan gak nutup aurat wajar aja dong digangguin, bajunya ketat sih, hijabnya gak kaffah (sempurna).”. Faktanya, pelaku kekerasan seksual tidak mengenal model pakaian yang dikenakan korban. Seperti yang pernah dialami teman saya, ia mengenakan niqab tertutup rapat mendapatkan perlakuan tidak pantas di dalam travel oleh seorang laki-laki yang duduk di sebelahnya.

Setiap manusia pada fitrahnya punya nafsu akan sesuatu. Untuk itu agama memerintahkan kita agar bisa mengendalikan diri, berbuat santun dengan memperlakukan orang lain dengan penuh martabat. Sampai kapan kita menyalahkan para korban kekerasan? Jika seperti ini, apa fungsi hati dan akal yang diberikan Tuhan.

Stereotipe dan Marginalisasi Perempuan

Pemahaman  literalis atas narasi perempuan sebagai sumber fitnah bisa masuk dalam kategori stigmatisasi dan marginalisasi perempuan (ketidakadilan gender). Perempuan juga kerap dijadikan standar moral masyarakat. Padahal baik perempuan maupun laki-laki sama-sama menjadi warga negara, sama-sama bertanggung jawab mewujudkan kemakmuran, sama-sama memiliki peran dalam pembangunan sosial dan moral.

Mengutip dari beberapa kanal media islami, setidaknya ada empat alasan mengapa perempuan disebut sebagai sumber fitnah. Pertama, secara fitrah pria diciptakan dengan tabiat menyukai perempuan. Pendapat ini berlandaskan pada hadis “Aku tidak meninggalkan fitnah (cobaan) yang lebih membahayakan bagi laki-laki (yaitu) dari perempuan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim). Kedua, perempuan sangat indah dipandang. Landasan pendapat ini adalah QS. Ali-Imran ayat 14 yang menjelaskan bahwa diperhiaskan kepada (laki-laki) dari hal perempuan.

Yang ketiga, perempuan secara fitrah diciptakan lemah. Meskipun perempuan diciptakan dengan kondisi akal yang lemah namun betapa banyak laki-laki dibuat lemah dan tunduk di bawahnya bahkan betapa banyak ahli ibadah dibuat lalai dari Tuhannya. Keempat, godaan perempuan seperti syaitan. Landasan yang digunakan adalah hadis yang berbunyi; “Wanita adalah perangkap setan, andaikan tidak ada syahwat (bagi laki-laki) naka perempuan tidak dapat menguasai laki-laki.” (HR. Abu Nu’aim)

Fitnah Perempuan Lekat dengan Aspek-Aspek Seksualitas dan Ketubuhannya

Husein Muhammad dalam bukunya Fiqih Seksualitas Risalah Islam untuk Pemenuhan Hak Seksualitas menjelaskan bahwa seksualitas adalah sebuah proses sosial budaya yang mengarahkan hasrat dan birahi manusia. Seksualitas dipengaruhi oleh interaksi faktor-faktor biologis, psikologis, sosial, ekonomi, politik, agama dan spiritualitas.

Abdul Munir Mulkhan dalam tulisannya “Perspektif Sosiologis Kekerasan Fiqih Terhadap Perempuan” in Islam dan Konstruksi Seksualitas, menjelaskan bahwa pangkal tindakan kekerasan dan ketidakadilan gender terjadi karena adanya ketimpangan. Pertama, tradisi Islam dalam fiqih  kerap menempatkan perempuan sebagai pelayan kebutuhan seksual pria. Kedua, kecenderungan konsumerisme tubuh perempuan dalam industri modern. Ketiga, tradisi lokal yang menempatkan perempuan sebagai kemuliaan laki-laki.

Teks-teks keagamaan yang kerap dijadikan legitimasi atas narasi perempuan sebagai sumber fitnah harus kita telusuri substansi persoalannya secara utuh, mengapa ia bisa muncul. Bukan semata-mata sudah ada landasan teologisnya lalu kita enggan melakukan pembacaan ulang secara kritis. Karena tidak bisa dinafikan bahwa interpretasi para mufassir klasik saat itu sangat dekat sekali dengan struktrur sosial dan budaya patriarkhal di mana posisi laki-laki lebih superior dari perempuan.

Jika masih melanggengkan ketidakadilan gender dengan basis asumsi bahwa sudah fitrahnya perempuan itu sumber fitnah, figur penggoda, racun dunia; maka sudah semestinya hal ini harus dihentikan karena bisa berimplikasi pada pandangan dunia terhadap perempuan.

Mendudukkan Makna Fitnah Perempuan dengan Perspektif Wasathiyyah

Dalam Ensiklopedi Hukum Islam, Al Qur’an menggunakan aneka ragam istilah untuk mengungkap makna fitnah diantaranya kekacauan, bencana, syirik, cobaan, ujian dan siksaan. Istilah fitnah juga kerap digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang dapat menimbulkan kesalahan, keburukan dan dosa.

Landasan normatif-teologis yang kerap menjadi legitimasi atas fitnah perempuan adalah QS. Ali ‘Imran ayat 14: Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Selain ayat di atas ada juga hadis Shahih Bukhari, dari Usamah bin Zaid Ra., dari Nabi Muhammad SAW bersabda; ”Tidak aku tinggalkan setelahku suatu ujian (fitnah) yang paling berat bagi laki-laki kecuali (ujian mengenai) perempuan.”

Menurut Asghar Ali Engineer dalam buku Hak-Hak Perempuan Dalam Islam, pesan Al-Qur’an harus kita posisikan secara proporsional sebagai aturan (norma dan nilai) yang universal, yang bersendikan keadilan, kemaslahatan, dan mengangkat harkat dan derajat kemanusiaan. Positioning ini perlu dilakukan, terutama, dalam memahami ayat-ayat yang berhubungan dengan seksualitas dan relasi gender. Ini dilakukan karena Al Qur’an diturunkan pada abad ke-7 M di kawasan Arabia yang, secara sosiologis, masyarakatnya memiliki konstruk dan persepsi kebudayaan yang diskriminatif mengenai perempuan.

Al Qur’an dan hadis menjadi landasan otoritatif dalam membentuk pandangan umat muslim dalam berislam. Dengan demikian, dalam memahami ayat dan hadis yang secara literalis memposisikan  perempuan sebagai sumber ‘fitnah’ harus dibaca dan difahami secara utuh agar tidak diskriminatif terhadap status kemanusiaan perempuan.

Bersambung….

Bagikan
Post a Comment