Di Mana Peran Masjid dalam Literasi ?
Suatu sore, setelah selesai melaksanakan sholat ashar berjamaah, saya duduk diam sejenak di masjid. Jelang beberapa menit berlalu, terasa tergerak hati saya untuk membaca Al-Qur’an, tapi disekitar tempat saya duduk tidak ada Al-Qur’an yang terlihat. Nah, kebetulan di samping pojok kanan, ada sebuah lemari yang besar agak lumayan. Muncul harapan bahwa isi lemari tersebut adalah hal-hal yang saya butuhkan untuk memperdalam pengetahun tentang agama.
Ketika saya membuka lemari tersebut, yang saya lihat hanya beberapa susunan Al-Qur’an. Ada yang masih baru dan ada juga yang sudah lama. Tetapi yang anehnya satupun di dalam lemari itu tidak ada menyimpan buku-buku bacaan. Baik itu buku-buku pengetahuan agama maupun pengetahuan umum.
Sejenak saya terpikir, “Ini lemari segede ini hanya untuk menyimpan beberapa Al-Qur’an dan minim sekali ya buku bacaan.”
Masjid adalah Ruang Pengetahuan
Sambil melihat suasana di teras masjid, sepintas saya teringat dengan suatu webinar literasi yang pernah saya ikuti 6 hari yang lalu. Salah satu materi yang dibahas adalah tentang peran masjid. Sang pemateri berapi-api menggambarkan selain tempat beribadah, masjid juga sangat berperan besar dalam sejarah peradaban umat manusia, terutama bagi umat Islam. Salah satu peran yang tidak boleh dilupakan adalah kontribusi masjid terhadap dunia literasi pada abad klasik dan abad pertengahan. Kalau kata para sejarawan, itu bisa dibilang masa keemasan.
Misalnya, pada masa Dinasti Abbasiyah, masjid dijadikan sebagai ruang pengetahuan, tempat tradisi keilmuan, tradisi buku-buku itu dihidupkan. Salah seorang penguasa Abbasiyah, Arun Ar-Rasyid membangun ruang belajar di samping masjid. Yang kemudian, jika tidak salah saya, itulah menjadi cikal bakal awal berdirinya perpustakaan terbesar dunia Islam, yaitu Baitul Hikmah, di Baghdad, yang menyimpan ribuan buku. Atau seperti Masjid Sufiyah di Allepo, Suriah. Pada masanya, mampu mengoleksi buku tak kurang dari 10 ribu volume.
Berapa buku itu ya? Ah, intinya pasti banyaklah. Dan beberapa masjid lainnya yang agak arogan jika saya sebutkan. Karena sangking banyaknya koleksi buku-buku sebagai sumber referensi untuk menghidupkan tradisi literasi.
Nah, sekarang kita tidak dapatkan lagi merasakan indahnya tradisi baca tulis di masjid-masjid, hampir tidak lagi kita temukan perpustakaan di masjid, masjid-masjid kita hari ini seperti ruang ritual yang sangat sakral, hanya sebatas tempat ibadah-ibadah formal.
Tradisi Keilmuan yang Hilang dari Masjid
Pergeseran waktu dalam setiap sejarah memang telah merubah banyak hal, tapi saya pikir tradisi keilmuan bagi umat Islam tidak boleh hilang dan lenyap begitu saja.
Sebenarnya sudah banyak himpunan- himpunan dan beberapa organisasi besar di Indonesia yang memiliki program-program menarik untuk memakmurkan masjid, tapi satupun belum pernah saya lihat program literasi ini bisa tumbuh berkembang di masjid. Masalahnya saya tidak tahu, tapi yang pasti, rak- rak buku lebih sedikit dari pada kontak-kontak infak di Masjid. Mungkin, tradisi sedekah kita memang bisa semakin tinggi, tapi tradisi literasi kita bisa saja semakin rendah dan lemah. Karena minimnya sumber bacaan di rumah-rumah Tuhan, padahal perintah “baca” itu sering sekali dilantunkan.
Jika seandainya masjid menjadi tempat penyimpanan buku-buku untuk dibaca, tentu itu sebuah investasi tak ternilai harganya. Dengan koleksi buku yang melimpah, tentu para pelajar atau jama’ah berbondong-bondong untuk menikmati berbagai buku bacaan yang tersedia. Mengingat jumlah masjid di Indonesia tidak sedikit jumlahnya. Misalnya saja, satu masjid menyimpan koleksi 1000 buku, jika satu kecamatan ada 10 masjid besar, berarti sudah ada 10.000 buku yang bisa dibaca, dikali dengan jumlah masjid yang ada di seluruh Indonesia. ah, kaya sekali buku bacaan yang bisa dinikmati di negeri ini.
Menambah Ruang Baca di Masjid
Para jama’ah yang datang pun ke masjid setidaknya memiliki dua alasan. Untuk beribadah dan sekaligus meningkatkan pengetahuan dengan tersedianya berbagai macam buku bacaan. Bukan hanya sekedar menangis meratapi diri yang hidup dalam kemiskinan, melewati do’a-do’a yang diucapkan, tapi menjadi tahu dan skeptis mengapa kemiskinan itu dihadirkan, pengetahuan itu tentu bersumber dari buku-buku. Ya, karena sampai sekarang saya masih meyakini, salah satu obat mujarab untuk mengurangi kemiskinan adalah pengetahuan itu sendiri.
Dalam hemat saya, masjid selain menyediakan kamar takmir, juga harus menyediakan perpustakaan. Tidak harus besar, ya, setidaknya bisa menampung 6-7 orang untuk duduk berdiam diri sambil membaca. Kadangkala seperti yang sering kita lihat, masjid pasti mempunyai ruangan yang penuh berisi peralatan yang sudah tidak terpakai atau tempat penyimpanan karpet, sebaiknya itu bisa dimanfaatkan sebagai perpustakaan kecil-kecilan.
Di teras-teras masjid tempat para jama’ah sering nongkrong atau duduk beristirahat, ada baiknya dikasi rak-rak buku (bukan raknya aja ya.hehe), bukunya juga loh, setidaknya waktu nongkrong para jama’ah yang sering ngobrol diteras bisa dimanfaatkan untuk membaca buku-buku yang tersedia. Jika sudah tersedia, pasti ada saja yang menyentuhnya.
Ditambah malam-malam besar umat Islam atau setidaknya Jum’at malam, selain kegiatan kajian-kajian keagamaan, adakalanya juga bagus diisi dengan agenda-agenda bedah buku.
Masjid adalah Pusat Literasi yang Strategis
Jika agak tabu dengan buku-buku umum, ya bagus juga diisi buku-buku islami. Seperti karya-karya ternama tokoh Islam. Seperti kitab “Ihya Ulumuddin” karya Al-Ghazali, kitab “Fihi Ma Fihi” karya Jalaluddin Rumi, kitab “Qanun fi Thib” karya Ibnu Sina, atau kitab kuning yang saya tidak tau siapa pengarangnya. Hehe. Yang pasti semua karya itu sudah banyak diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Termasuk bahasa Indonesia.
Setiap ada agenda sumbangan dari masyarakat dalam bentuk hibah atau apa, masjid juga harus mau menerima berbagai sumbangan buku-buku dari berbagai kalangan masyarakat. Jadi infaknya bukan sekedar uang saja, bisa juga buku-buku. Atau sebaiknya, masjid juga harus berani berdonasi buku-buku ke lembaga kemasyarakatan, atau komunitas-komunitas penggiat literasi. Bisa jadi- bisa jadi.
Sehingga peran masjid betul-betul membawa cahaya bagi masyarakat sekitar. Baru terasa peran masjid sebagai pusat bacaan, tempat dimana perintah pertama Tuhan itu diamalkan.
Jadi sejarah bukan hanya jadi cerita di masa lalu, tetapi bisa juga menjadi realita di masa kini.
Muncul satu pertanyaan besar. Kenapa masjid menjadi tempat strategis sebagi pusat literasi? Salah satu jawabannya karena masjid sebagai tempat yang tidak pernah sunyi dari pengunjung, setiap 5 kali sehari umat Islam menjalankan ibadah disana, artinya posisinya sangat strategis untuk tempat pembinaan dan pemupukan minat baca.
Apalagi masjid besar, yang tempatnya yang berada di kota pelajar. Yang sering kapasitasnya mencapai puluhan bahkan ratusan orang melaksanakan ibadah yang sering digelar. Setidaknya peluang buku untuk dilihat sangatlah besar. Loh, kok hanya dilihat? Ya, dilihat dulu, kan kata pepatah “Dari mata turun kehati.” Dilihat-lihat dulu, baru nanti jatuh hati. Hehe.
***
Ah, sudahlah. 30 menit lagi menjelang azan magrib, karena kondisi rumah dekat, ya, sayapun bergegas pulang. Dengan membawa angan-angan yang terus melayang-layang.
Alumni institut pertanian stiper jogjakarta; Seorang penggiat komunitas baca (kembul.id) di Yogyakarta.

heru
masjid adalah penggerak peradaban islam…… juga ada ilmu kehidupan lainnya disana
heru
masjid adalah pusat peradaban Islam…… selain literasi juga ada ilmu kehidupan lainnya dan sosial kemasyarakatan disana
Andika Chosy Pratama
Mantap
Andika Chosy Pratama
Semoga saja ada yg mau berinvestasi membuat masjid + perpustakaan masjid