Covid-19 dan Ujian Kepasrahan
Akhir bulan lalu, tepatnya tangggal 22 Agustus, sebuah pesan WhatsApp (WA) masuk ke grup keluarga kami. “Bapak, Ibu, Mas Aad, Mbak Runi, mohon maaf. Saya baru dapat kabar kalau saya confirm Covid-19. Insya Allah satu rumah akan ditracing swab dari PKU.” AllahuRabb. Kaget? Pasti. Tapi sejak awal pandemi, tinggal satu rumah dengan adik saya, yang keduanya merupakan seorang dokter dan apoteker membuat saya mau tidak mau harus selalu bersiap jika ada kemungkinan buruk terjadi.
Namun pasti tidak semudah itu. Pikiran atas segala kemungkinan buruk selalu bermunculan. Tapi kami bersyukur, dalam kondisi yang masih kaget karena mendengar berita tersebut, Bapak, Ibu, dan seluruh anggota keluarga saling support. Bapak justru menyemangati bahwa ini sudah menjadi resiko profesi. Tidak apa-apa, bismillah. Insya Allah akan sehat kembali. Khusnudzon billah.
***
Terhitung sejak adik saya positif, kami sekeluarga mengunci pintu rumah. Kami keluar rumah di tanggal 25 untuk melakukan swab di PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Total 9 anggota keluarga kami, termasuk anak-anak yang masih kelas 4 SD, TK, dan umur 4 tahun. Anak saya yang paling besar kami beri pengertian. Bahwa om nya positif covid, dan kita satu rumah akan diswab semua. Matanya sedikit berkaca-kaca. Entah apa yang ada dipikirannya. Gapapa kak. Om Alim sehat. Bismillah besok swab semoga kita negative semua ya kak. Hanya itu yang mampu kami jelaskan kepada si sulung. Saya menunggu respon apalagi yang akan dia berikan. Secepat kilat dia menjawab. Iya buk. Amin.
Sebelum berangkat menuju PKU, dua adiknya yang belum genap 5 tahun pun kami beritahu. Mbak, Dek..nanti kita ke PKU ya. Kita mau diperiksa. Pake yang kayak buat bersihin telinga. Nanti diperiksa lewat hidung. Gak boleh gerak-gerak ya.. Adiknya yang berumur 4 tahun menyahut. Buk, Mbak Diya sakit? Kok diperiksa? Aku yang sakit? Aku sehat kok gak batuk. Kenapa kita ke PKU?
Rasa penasaran anak-anak itu rupanya segera terkalahkan oleh rasa senang mereka karena mau diajak keluar rumah. Karena sejak pandemi ini berlangsung, tiga anak kami sama sekali tidak pernah kami ajak keluar rumah. Kecuali si kakak yang sekali dua kali keluar rumah karena ada urusan di sekolah. Alhamdulillah, proses swab berjalan lancar. Dan tidak ada drama dari anak-anak. Kami diberitahu bahwa hasil swab akan keluar dalam 4 sampai 5 hari.
Menanti Hasil Swab
Jika ada yang bertanya, bagaimana rasanya swab itu. Tes swab tidaklah sakit. Hanya sedikit tidak nyaman. Karena ada benda yang sengaja dimasukkan ke dalam rongga hidung. Menanti hasil swab lah proses yang mendebarkan. Selama berhari-hari menanti jawaban iya atau tidak. Positif atau negatif. Jika saya positif, lalu anak-anak negatif. Atau sebaliknya. Jika hasil positif semua? Pikiran-pikiran liar tersebut selalu mengggelayut.
Namun apalah daya, kita sebagai manusia hanya mampu berusaha sebaik-baiknya. Sebagai seorang mukmin kita diajarkan untuk tawakkal jika segala daya upaya telah maksimal. Seperti kata bapak, kini saatnya kita mempraktekkan Laa Haula wa Laa Kuwwata illa Billah. Segala ikhtiar kita dengan mentaati protokol kesehatan sudah dijalankan. Tinggal serahkan saja semua pada Allah. Pasti ada hikmah di balik ini semua. Apapun hasilnya nanti, jangan lupa selalu berprasangka baik pada Allah. Khusnudzon billah.
Hari yang ditunggu tiba. Pesan WA masuk dan mengabarkan bahwa kami semua negative, kecuali tantenya anak-anak yang harus menyusul untuk isolasi. Kekhawatiran kami belum berakhir. Selama menunggu swab, kami cukup erat berinterkasi. Apakah kami perlu swab lagi? Ternyata tidak. Kami berdelapan cukup melalukan isolasi mandiri di rumah secara ketat dengan pantauan PKU. Cek saturasi oksigen pagi sore. Dan konsumsi beberapa vitamin yang sudah disiapkan.
Ada hal menarik ketika kami mengetahui tantenya anak-anak terkonfirmasi positif dan kami semua negatif. Padahal sebelumnya kami satu mobil, dan beraktifitas memasak bersama. Ada dugaan, karena masker yang selalu digunakan meskipun di dalam rumah. Jadi kalau masih ada yang ngeyel tidak bermasker, kami sudah membuktikan keefektifannya.
Isolasi Mandiri (Isoman), Empati, dan Respon Warga
Setelah melakukan swab di PKU Muhammadiyah, tracing dari Puskesmas setempat mulai berjalan. Kami pun sudah bersiap atas segala kemungkinan terhadap respon warga sekitar tempat tinggal jika mengetahui anggota keluarga kami terpapar Covid-19. Selang sehari, datang pesan WA dari sesepuh warga yang menanyakan kebenaran berita tersebut. Intisari dari pesan tersebut memberitahukan bahwa satgas desa sudah menerima informasi dan meminta warga untuk tetap tenang karena seluruh anggota keluarga yang lain sudah melakukan isolasi mandiri. Di akhir pesan tersebut, sesepuh warga mendoakan kesehatan kami dan siap membantu jika kami memerlukan segala sesuatu.
Nyess, tidak ada lagi rasa khawatir di dada ini. Satgas desa menyampaikan informasi dengan baik. Kami pun memberanikan diri menyampaikan berita kepada keluarga, dan juga warga tempat tinggal melalui grup Dasawisma. Secepat kilat, segala untaian doa mengalir. Sehari setelahnya, Satgas desa Wirokerten dan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kota Yogyakarta melakukan penyemprotan disinfektan di rumah kami.
Selama 14 hari lebih proses isolasi mandiri, kami beraktifitas dari dalam rumah. Selama itu, PKU Muhammadiyah Yogyakarta, keluarga besar, tetangga, rekan dan sahabat mengirimi kami vitamin, buah-buahan, madu, kurma, hingga lauk pauk. Sungguh mengharukan, beginilah empati sesungguhnya saat wabah terjadi. Dukungan yang dibutuhkan, bukan penolakan.
Dua adik kami yang sedang nyantri di Pesantren Covid-19 Gedung PP Aisyiyah alhamdulillah juga dalam kondisi sehat. Setiap pagi olahraga, sholat berjama’ah, dan mendengarkan ceramah. Kami di rumah pun, tetap melakukan pengambilan gambar program Oase Kehidupan IruTV.
***
Sudah satu bulan pasca isolasi mandiri. Alhamdulillah kami sehat. Adik kami pun sudah kembali masuk kerja. Pasca kejadian ini, tentu banyak hikmah yang kami ambil. Pada awalnya saya sempat merasa marah melihat orang dengan santainya memposting foto liburan di sosmed. Mengapa? Sekuat tenaga kami menahan, memberi pengertian kepada anak-anak untuk tidak keluar rumah jika tidak darurat.
Praktis selama 7 bulan mereka tidak pernah kami ajak keluar rumah, karena kami rentan terpapar. Setelah dipikir-pikir, untuk apa marah. Saat seperti ini, kita hanya bisa memproteksi diri sendiri dan keluarga. Ini adalah bentuk ihsan yang bisa kami lakukan kepada sesama.
Pada akhirnya, kami ingin mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada PKU Muhammadiyah Yogyakarta, MDMC, Satgas dan Pemerintahan Desa Wirokerten, warga Dusun Kertopaten, teman, serta keluarga besar kami yang sudah memberikan dukungan moral, spiritual, bahkan material. Sehingga proses isoman ini mampu kami jalani dengan baik.
Wabah belum berakhir, kawan. Jangan Lengah. Salam Sehat.
Ibu pembelajar, sutradara kanal Youtube IruTV

DANANsaja
Tetap waspada, selalu bahagia, semoga kita selalu diberikan kesehatan dan terhindar dari wabah ini.
Ahsan Jihadan
syafaakumullah
semoga sehat semua