f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
covid-19

Covid-19 Itu Unik, Hingga Kisah Positif Berjamaah

Pada saat orientasi awal bagi penghuni baru, dr. Evan Gintang, Sp.PD dan dr. Muallim Hawari, dokter pendamping bagi peserta isolasi mandiri di gedung Pimpinan Pusat Aisyiyah (PPA), menjelaskan bahwa Covid-19 ini memiliki karakter yang unik.

Saat seseorang dinyatakan positif terpapar Covid-19, tidak perlu ingin tahu secara pasti, dari mana virus itu berasal. Apakah dari Si A, Bapak B, Ibu C atau saudara D? Sekedar menduga tentu sah-sah saja. Namun untuk memastikan, bukanlah hal yang mudah.

Ada beberapa contoh riil di lapangan. Kasus di RS PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta. Ada seorang balita, konfirm terpapar Covid-19. Mengingat masih bayi, tentu sang bunda rela berkorban untuk membersamainya, menyusui, menyuapi dll. hingga hari ke-10. Setelah hari ke-10, sang bunda diswab untuk mengetahui kondisinya. Hasilnya, NEGATIF. Kasus terbaru terkait dengan kantor Dapen Syariah Muhammadiyah, tracing dilakukan terhadap keluarga 14 orang pegawai yang dinyatakan positif. Hasilnya, semua keluarga dinyatakan NEGATIF kecuali satu orang, yakni putera saya, Fachri.

Jika penularan ini bersifat linier, maka yang berpotensi besar terpapar pertama kali adalah pasangan dari orang yang positif tersebut. Namun, ternyata hal tersebut tidak selalu terjadi, bahkan dalam berbagai kasus, lebih sering tidak terjadi.

Bagaimana Caranya Menghindari Terpapar Covid-19?

Lalu, antisipasi apa yang harus dilakukan untuk menghindari terpapar Covid 19? Pemerintah, melalui gugus tugas penanganan covid 19 dan berbagai gugus tugas ormas dan lembaga yang peduli terhadap Covid 19 ini, seperti MCCC (Muhammadiyah Covid 19 Command Centre), telah memberikan berbagai informasi terkait hal ini. Hal yang sangat ditekankan adalah 3 M (Mengenakan Masker, Mencuci Tangan dan Menjaga Jarak serta Menghindari Kerumunan).

Terkait 3 M ini, dokter pendamping kami bercerita bahwa sejak adanya Covid-19 ini, jarang sekali ada pasien yang datang ke rumah sakit dengan keluhan sakit flu dan batuk (baik berat maupun ringan). Ada 2 kemungkinan: (1) Kebiasaan mengenakan masker dan mencuci tangan membuat masyarakat menjadi terbiasa gaya hidup bersih dan sehat sehingga penyakit seperti flu  dan batuk menjadi sangat minimal terjadi; (2) Masyarakat takut berobat ke rumah sakit, meski mengalami flu dan batuk.

Semoga faktor pertama lah yang terjadi di masyarakat, yakni gaya hidup bersih dan sehat telah meminimalkan terjadinya batuk dan flu. Testimoni dari seorang sahabat bisa menggambarkan kondisi tersebut. Dia bercerita bahwa sejak wabah covid 19 ini melanda, dan keluarga mereka mulai membiasakan mengenakan masker serta rajin cuci tangan, putera mereka yang masih balita sangat jarang terkena flu (bisa dikatakan nyaris tidak pernah lagi). Padahal sebelumnya, sering sekali meler dan batuk.

Mengapa Bisa Terpapar Berjamaah?

Banyak kolega yang bertanya, apa sesungguhnya yang terjadi di kantor sehingga bisa terpapar bersama-sama? Apakah kami tidak menerapkan protokol yang benar?

Sebagai gambaran, kantor kami menerapkan pola Bekerja Dari Rumah (Work From Home/WFH) pada periode Maret – Mei 2020. Selanjutnya, meski masa tanggap darurat di DIY masih diperpanjang tiap bulan (terkini hingga 30 September 2020), kami mulai menerapkan pola Bekerja Dari Kantor (Work From Office/WFO) mulai awal Juni 2020 dengan cara on-off, sebagian masuk, sebagian libur.

Selanjutnya, mengingat ada pekerjaan yang harus diselesaikan dalam tenggat tertentu, kami memutuskan untuk masuk full team sejak Juli 2020 namun jam kerja dikurangi, tidak seperti biasanya. Jika dalam masa normal, jam kerja kami adalah dari jam 08.00 – 17.00 (lima hari kerja), maka pada masa pendemi ini disesuaikan menjadi jam 09.00 – 16.00. Dengan catatan, protokol kesehatan ditegakkan. Menggunakan masker, cuci tangan, baik menggunakan sabun maupun hand sanitizer dan menghindari kerumunan atau menjaga jarak (social distancing).

Alhamdulillah, kantor baru kami memungkinkan untuk melakukan jaga jarak. Ruang direksi di atas, masing-masing terpisah, staf ada yang di lantai atas dan di lantai bawah. Staf anak perusahaan juga di ruang terpisah. Terlebih security dan office boy, mereka memiliki ruang masing-masing.

Lalu, di Mana Bolongnya ?

Agak sulit menunjuk satu faktor saja yang dianggap sebagai celah sistem yang menjadi masuknya Covid 19. Namun, berdasarkan evaluasi yang kami lakukan, ada satu hal yang patut diduga menjadi celah masuknya Covid 19 ini, yakni pada saat makan bersama. Sejak pindah ke kantor baru di Jl. Pramuka No. 9 b, Pandeyan, Umbulharjo, Yogyakarta, ada satu hal yang berubah, yakni makan siang bersama. Saat di kantor lama, kami biasanya makan siang bersama, meski menunya berbeda-beda. Ada yang bawa bekal sendiri dari rumah, ada juga yang memesan via online.

Nah, sejak pindah kantor, kami merasa ada yang hilang, karena makan siang dilakukan sendiri-sendiri di ruang masing-masing. Oleh sebab itu, kami putuskan, sebagai wahana untuk saling menyapa, makan siang dilakukan bersama-sama kembali di ruang pertemuan bawah (di lantai 1). Patut diduga, situasi inilah yang menjadi celah penyebaran Covid 19 di kantor kami. Meski tetap menjaga jarak, namun pada saat makan kami tentu saja membuka masker plus saling bersapa dan bercerita. Hal lain, ruang ini adalah ruang ber-AC yang tertutup, sehingga jika ada Covid-19 terbang, tentu akan mengenai semua orang yang ada di ruangan tersebut, mengingat ruang pertemuan bawah ukurannya relatif lebih kecil dibanding ruang pertemuan atas.

Evaluasi WFO

Berdasarkan evaluasi yang kami lakukan, maka pascaisolasi ini kami akan menerapkan protokol baru yakni: (1) tidak ada lagi makan bersama dalam satu ruangan. Makan siang atau malam dilakukan di ruang masing-masing. (2) tidak menyediakan hidangan kepada tamu, baik  dalam bentuk teh hangat dalam cangkir terbuka atau makanan kecil dalam piring terbuka. (3) jendela ruang dibuka, pengunaan AC diminimalkan. Selanjutnya kami juga akan mengatur kembali jadwal masuk direksi dan staf.

Seperti kata seorang bijak: khudz al hikmata min ayyi wiain kharajat. Ambillah hikmah dari manapun itu berasal. Selalu ada hikmah di balik berbagai hal di dunia ini, termasuk dari musibah yang kami alami ini. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita semua

#wabahbelumberakhir #jagajarak #pakaimasker #rajincucitangan #bersamaperangicorona

Bagikan
Comments
  • Toto suparwoto

    Cerita pribadi yg telah mendapat gelar LC, smoga bermanfaat buat pembaca, sukses selalu pak dede.

    September 29, 2020
  • Masya Allah, semoga tetap semangat dan bermanfaat . Mantab. Matur nuwun.

    September 30, 2020
  • Syahdara Anisa

    Sehat semangat sukses selalu pak Dede…

    September 30, 2020
Post a Comment