f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
usaha tidak akan merugi

Usaha yang Tidak Akan Pernah Rugi

Di suatu minggu di awal Januari 2022, pagi yang cerah setelah hujan deras semalam suntuk. Sempat terbesit kekhawatiran akan adanya banjir di rumah kami seperti yang biasanya terjadi apabila hujan cukup deras. Tidak butuh waktu lama, sekitar 3 jam hujan deras biasanya lingkungan rumah kami akan banjir dan air akan masuk ke dalam rumah. Tidaklah mengherankan karena posisi rumah tempat tinggal kami yang berada di daerah lembah; dan posisinya paling rendah di antara tempat yang lain, berada di posisi cekungan kiri dan kanan, sehingga air tentunya akan lari ke rumah kami jika hujan turun.

Bukan tidak mensyukuri rahmat atas karunia hujan yang Allah berikan; tetapi dampak hujan akan berakibat fatal terhadap ternak ikan yang baru saja saya dan suami saya rintis sejak pandemi covid-19 merebak. Saya yang terbiasa sibuk, sejak pandemi harus selalu mengurung diri di rumah, dan beraktivitas melalui daring. Untuk mengurangi rasa jenuh, kami memulai usaha peternakan ikan gurami skala rumahan. Ikan gurami untuk konsumsi kami sekeluarga dan sebagian kami jual untuk menambah penghasilan, hitung-hitung mencari hiburan dan menghasilkan uang juga.

Pagi itu seperti biasanya aktivitas setelah salat subuh, saya membersihkan rumah dan memasak sarapan pagi. Setelah hari agak terang sekitar pukul 7 seperti biasa saya berniat memberi makan ikan-ikan di kolam kami. Tapi pagi itu tidak seperti biasanya, tidak terdengar riak air saat ikan muncul kepermukaan atau saat melompat. Tak terbesit akan cobaan yang akan kami dapatkan pagi itu. Di saat saya mendekati kolam ikan, saya terkejut melihat ikan-ikan kami sudah mengambang di air; kolam menjadi putih karena ikan yang telah mati dan membusuk mengapung di atas permukaan air. Astaghfirullah, saya kaget melihat pemandangan itu, tidak terasa air mataku jatuh melihat kenyataan itu.

Baca Juga  Umar Ibnu al-Khathab dan Pelajaran Darinya (2)
Menyertakan Allah Swt.

Suami saya datang mendekat dan menghibur saya, dia mengatakan bahwa saya tidak perlu terlalu bersedih atas cobaan ini. Bukankah sebelumnya kami juga pernah mengalami cobaan yang lebih berat dari ini dan kami bisa melewatinya dengan baik. Sambil duduk di pinggiran kolam saya termenung, mengingat kembali apa yang telah  saya lalui dalam tahun sebelumnya; dan saat merenung tersebut saya ingat bahwa ada hal yang lupa kami lakukan dalam memulai usaha ternak ikan kami, yaitu menyertakan Allah dalam usaha kami.

Saya teringat suatu kisah yang pernah  saya dengar di Youtube yang disampaikan oleh Youtuber bernama Nadia Omara pada tanggal 14 Desember 2021 tentang seorang pengusaha dermawan bernama Sholah Athiyah. Sholah Athiyah adalah seorang warga dari kota kecil di Mesir bernama Tafahna Al Asyraf di Provinsi Daqahliyah. Kota yang sunyi dan akses ke mana pun terbilang sulit. Sholah Athiya menurut dosennya di Universitas Al-Azhar Syekh Mustafa Dasuki Kasbah bahwa ketika kuliah Sholah hanya mempunyai satu celana panjang saja; tetapi Sholah Athiya ini memang memiliki jiwa dermawan yang tinggi sejak dulu.

Setelah lulus dan menjadi insinyur, Sholah mengajak 9 temannya sesama lulusan fakultas pertanian untuk berbisnis bersama. Mereka pun membuat bisnis peternakan ayam, tetapi terbentur modal. Kemudian mereka pun mengumpulkan modal dari penjualan tanah, perhiasan istri-istrinya, sampai meminjam uang pada saudara agar bisnis bisa berjalan. Bersamaan itu juga mereka mencari mitra ke-10 agar bisnisnya mampu berjalan; dan Sholah menyarankan agar memasukkan Allah sebagai mitra ke-10 dan disetujui oleh teman-temannya.

Keseriusan Sholah dan teman-temannya untuk memasukkan Allah sebagai mitra dituangkan ke dalam surat perjanjian kontrak resmi di notaris dengan memasukkan peran masing-masing mitra termasuk peran Allah dalam bisnis; yaitu Allah akan mendapat 10% dari keuntungan dengan tugas memberikan perlindungan dan pemeliharaan, keamanan dari segala wabah penyakit, dan Sang Mitra Terbaik tak pernah ingkar pada janjiNya.

Baca Juga  Ketika Tuhan Selalu Salah

Bukti ditepatinya janji mitra ke-10 adalah dalam satu musim bisnis itu pun meroket. Sejalan dengan pesatnya bisnis, keuntungan Sang Mitra terus dinaikkan dari 20% sampai 50%. Pembagian hasil itu bermuara kepada pembangunan sekolah dari SD hingga SMA untuk putra dan putri. Tapi keuntungan terus bertambah hingga akhirnya mereka membangun universitas Al-Azhar Tafahna; di sana lengkap dengan jalur kereta yang gratis bagi mahasiswa. Asrama putri berkapasitas 600 orang dan asrama putra berkapasitas 1.000 orang serta rumah sakit berdiri di dekat kampus dengan 5 fakultas itu.

Selain mengalokasikan untuk pendidikan, rumah sakit dan sarana publik lainnya; dana bagi hasil untuk mitra ke-10 ini dialokasikan untuk Baitul Mal yang bermanfaat untuk membantu kaum duafa untuk bisa menekan angka kemiskinan. Sehingga tidak ada lagi masyarakat yang kurang mampu di Tafahna. Puncak dari keikhlasan Sholah dan rekan-rekannya adalah memberikan 100% dari semua usahanya untuk Allah; dan mereka hanya mengambil gaji seperti karyawan lainnya, artinya mereka semua menjadi pekerjanya Allah. Masya Allah… saya sangat terharu mengingat kisah tersebut.

Mendengar nasihat suamiku dan mengingat kisah Sholah Athiyah, saya segera menghapus air mata saya dan mengucapkan Alhamdulillah, karena Allah telah memberikan kami ujian dengan kematian ternak ikan kami. Dan di saat yang bersamaan Allah memberikan hidayahnya kepada saya untuk  mengambil hikmah atas kejadian ini. Ujian ini mengajarkan banyak hal kepada saya tentang arti sabar, syukur dan ikhlas.

Tanpa saya sadari terkadang saat kita diuji dengan penyakit, kehilangan ataupun kemalangan kita merasa kebingungan, sedih dan merasa rugi. Padahal itu adalah cara Allah untuk menghapus dosa-dosa kita, mengangkat derajat kita ataukah Allah ingin memberi kita rezeki dengan cara memberi kita ujian untuk melihat mampukah kita bersabar saat kita mendapat ujian.

Baca Juga  Kesolidan Tercipta di Atap Negeri
Rasa Sykur Bertambah

Hikmah lain yang saya dapatkan dari kematian ternak ikan kami adalah semakin bertambahnya rasa syukur saya kepada Allah. Tanpa saya sadari sikap sombong dan merasa mampu memulai bisnis dengan mengandalkan kemampuan saya tanpa melibatkan Allah di dalamnya; membuat Allah mengingatkan saya untuk tidak terlalu berbangga dengan kemampuan saya, dan ujian itu adalah bukti nyata cinta Allah kepada keluarga saya. Subhanallah…sungguh karunia yang besar bagi saya dan keluarga.

Ujian ini juga mengajarkan saya untuk selalu ikhlas menjalani ketentuan Allah tanpa mengeluh ataupun berputus asa akan rahmatNya. Walaupun sulit tetapi saya selalu berusaha untuk belajar ikhlas. Karena ikhlas itu tidak hanya diucapkan tetapi harus dilatih dan dibuktikan dengan tidak berlarut-larut dalam kesedihan dan keputusasaan.

Kami memulai kembali usaha ternak ikan kami, tetapi kali ini dengan melibatkan Allah dalam usaha kami mulai dari awal, karena dengan begitu kami yakin usaha kami tidak akan pernah rugi. Semoga Allah jadikan kami untuk tidak akan lupa memberikan haknya Allah dari hasil usaha kami nanti dalam bentuk zakat, infaq dan sedekah apabila Allah izinkan usaha kami untuk mendapatkan hasil kelak. Aamiin.

Bagikan
Post a Comment