Soal Baking, Masak-memasak, Hingga Perasaan Kesepian
Oleh : Firly Annisa*
Rahmania, di masa awal kebijakan pemerintah Boris Johnson meminta warga untuk stay at home karena pandemic Covid-19, keberadaan tepung dan baking powder sempat raib di supermarket dan toko-toko di Inggris. Setidaknya itu yang saya temui ketika mencari tepung yang sempat out of stock satu minggu lebih dan baking powder yang baru saya dapatkan satu bulan kemudian (bahkan saya harus mencarinya melalui pembelian online). Menurut penjelasan staff supermarket, produk yang menjadi rebutan secara beruntutan setelah tisu toilet, handsanitizer, telur dan pasta, ternyata adalah tepung dan baking powder. Sepertinya melalui pengalaman empiris yang saya temui tersebut, saya dapat mengambil kesimpulan hampir semua orang di UK mengisi waktu luang dengan membuat kue.
Lalu, mengapa saat waktu luang individu akan cenderung menyibukkan diri dengan memasak, lebih spesifik lagi dengan membuat kue (dengan cara memanggang)? Pasti jawabannya, “ya mau apa lagi saat banyak waktu luang pasti ujung-ujungnya makan…” Hmm…pernyataan itu ada benarnya, namun apabila kita mencari tahu lebih detail, ada alasan yang lebih ilmiah untuk menjelaskan peristiwa ini.
Dalam kondisi lockdown atau social distancing yang lama seperti saat ini, manusia-manusia akan cenderung bosan dan dilanda kesepian. Hal ini dikarenakan individu memiliki perasaan emosi yang sama setiap hari, kehidupan yang sangat monoton dan landai-landai saja. Padahal manusia secara naluriah menginginkan pengalaman emosi yang dinamis, seperti sedih, bahagia, marah, cemburu, malu bahkan benci. Pengalaman emosi yang dinamis akan meningkatkan well-being (kesejahteraan) emosional karena tubuh akan diminta untuk memberikan respon terhadap situasi yang beragam pula.
Inilah mengapa saat kesepian individu akan berusaha mendapatkan stimulus emosi dari kegiatan kreatif. Kegiatan kreatif ini dapat berupa berkebun/bercocok tanam, bermain musik, menari, digital fotografi, creative writing hingga kegiatan memasak. Menariknya menurut jurnal psikologi yang berjudul “Everyday creative activity as a path to flourishing” (Conner, DeYoung dan Silvia, 2016), saat kesepian manusia secara insting akan berusaha mengaktifkan lima indera mereka, terutama indera perasa. Di sisi yang lain manusia yang sedang merasa kesepian akan cenderung menguji diri sendiri dengan ketepatan dan presisi. Sehingga proses emosi individu akan lebih tertantang karena memiliki goal atau tujuan, meskipun dalam waktu yang pendek. Hmmm menarik ya, kenyataan lain di Inggris banyak individu yang memilih untuk hidup sendiri, baik karena telah mandiri secara finansial maka tidak lagi membutuhkan support keluarga, individu yang memutuskan untuk hidup selibat (tidak menikah) dan secara budaya hidup secara mandiri bukan hal yang sulit dan tabu dipilih oleh para orang dewasa dan manula.
Akibatnya apa? Angka kesepian juga terus meningkat atas pilihan hidup seperti ini. Ternyata ini juga yang membuat kegiatan baking – membuat kue dengan memanggang sangat populer di Inggris baik untuk bertahan hidup (memproses makanan) atau untuk membunuh waktu luang, sampai ada jargon “British Culture: The Great British Bake Off”. Setidaknya ini bisa dilacak melalui rating program televisi “The Great British Bake Off’” dari tahun 2010 – 2018 yang sangat populer di tayangkan di stasiun Televisi BBC Inggris dan kalau di Indonesia bisa diakses di aplikasi berbayar Netflix. Acara ini berisi kontes membuat kue yang diikuti para kontestan amatir yang hobi mengolah tepung dan baking powder menjadi sajian istimewa.
Di Amerika menurut pakar Culinary Therapists Julie Ohana kegiatan memasak dapat membantu pasien untuk melawan depresi, kekhawatiran dan ketakutan atas lingkungan sosial, karena dalam kegiatan ini individu dipaksa untuk melakukan multitasking dari proses menyiapkan bahan makanan, peralatan memasak, memberikan takaran hingga mengimajinasikan hasil akhir makanan menjadi seperti apa. Proses memasak ternyata menyediakan perasaan emosi yang kompleks dalam satu waktu, penjelasan lebih detail soal ini dapat dibaca dalam artikel https://www.vice.com/en_us/article/jpkvkp/how-cooking-can-benefit-your-mental-health
Faktanya, menurut artikel https://www.euronews.com/2020/04/18/why-are-so-many-of-you-baking-bread-during-the-coronavirus-lockdown di seluruh dunia, pencarian Google untuk mencari resep roti dan kiat membuat roti sedang meningkat selama pandemi berlangsung, hal ini mengubah pasokan roti menjadi komoditas berharga. Masih dari sumber artikel yang sama pemerintah Spanyol baru-baru ini melaporkan bahwa penjualan tepung telah meningkat empat kali lipat, selama minggu ketiga COVID-19 negara itu melakukan lockdown. Di Inggris, produsen tepung telah menggandakan produksi, tetapi masih berjuang untuk memenuhi permintaan dan di Prancis, penjualan terigu naik sekitar 140%.
Berbeda dengan proses memasak makanan biasa (tanpa oven, tepung dan baking powder), baking atau dalam bahasa Indonesia berarti proses memanggang memerlukan ketepatan dalam menyediakan takaran resep, sekali meleset mencampur bahan-bahan maka dapat dipastikan hasilnya akan tidak menjadi sempurna, bisa bantat, gosong bahkan tidak bisa dimakan sama sekali. Inilah yang membuat kegiatan baking dianggap lebih menantang daripada memasak. Saat membuat kue, kegiatan untuk meracik resep agar pas dengan takaran, waktu memanggang dan besarnya api pada oven memerlukan kesabaran dan kejelian tersendiri. Otomatis saat kegiatan baking, emosi individu akan kompleks sejalan berbagai tahapan mengaplikasikan resep. Inilah agaknya yang membuat tepung dan baking powder menjadi komoditi paling dicari di Inggris dan Eropa saat ini.
Jadi pertanyaan lain kemudian muncul, Rahmania selama gerakan stay at home berbulan-bulan ini kalian sudah bisa memasak kue apa saja?
*) Firly Annisa ; pengajar ilmu komunikasi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Salah satu hobinya menuliskan pengalaman dan refleksi kehidupan sehari-hari dengan perspektif budaya dan media. Sekarang ia aktif menjadi mahasiswa PhD di Media, Communication and Culture, Keele University, United Kingdom. Melalui jarak jauh Firly juga aktif melakukan aktivitas gerakan literasi media digital dengan organisasi Japelidi (Jaringan Pegiat Literasi Digital).

Firly Annisa, Ph.D
Divisi Riset LPPA PP
Dosen Ilmu Komunikasi UMY
