f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perjalanan

Menghentikan Perjalanan

Hari ini, aku mencoba mengerti jalan pikiranku sendiri. Meskipun masih sulit untuk aku mengerti.

Setahun sudah, aku meninggalkan pekerjaanku dan memutuskan untuk berkarya menjadi ibu rumah tangga. Ternyata pilihan menjadi ibu rumah tangga tidak semudah yang aku bayangkan.

Menjalankan rutinitas seorang ibu dengan waktu 24 jam/ hari, adalah sebuah pilihan yang sulit dan menantang. Apalagi sudah dua puluh satu tahun, aku yang biasanya mandiri dan bekerja. Namun, seiring berjalannya waktu, aku mulai dapat menyesuaikan diri dan menikmati setiap detik waktu yang berlalu. Kelelahan dan kepenatan aku nikmati.

Terkadang terkejut dengan banyaknya pekerjaan di rumah yang tidak pernah selesai. Tibalah aku pada hari ini, satu tahun waktu yang sudah terlewati dan aku pun telah terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga.

Aku mengingat hari itu. Hari pertama pada saat aku tidak ke kantor lagi, aku merasa menjadi perempuan yang bebas. Aku tidak perlu memikirkan rutinitas pekerjaanku . Tidak perlu berada pada situasi yang sulit ketika tekanan terhadap pekerjaan datang menderaku.

Betapa lelah raga dan pikiranku, ketika harus melewati target dan standar pencapaian terbaik untuk menjadi role model dan panutan di kantorku. Pada saat itu juga, aku baru menyelesaikan studi S1 Keperawatan.  Menjadi seorang kepala perawat, adalah sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Sebuah pencapaian terbaik yang bisa aku buktikan pada diriku dan persembahan cintaku bagi kedua orang tua.

…

Sebuah peristiwa telah terjadi dalam kehidupanku. Peristiwa sedih yang tidak ingin aku ingat kembali. Sejak itulah, mimpiku untuk terus berkembang dalam dunia keperawatan, aku kubur dalam-dalam. Mungkin juga aku hanya seorang pemimpi yang terlalu pandai merangkai impian. Mungkin juga kehidupan itu memang keras dan butuh jiwa yang setegar karang.

Baca Juga  Menyemai Benih Nalar Beragama dari Sekolah

Ketika raungan tangisanku tak dapat lagi aku bendung dan lengkingan histeriaku; membahana di setiap sudut gedung yang menjulang itu, aku menyerah pada nasib dan takdirku. Tidak ada lagi semangat sekokoh karang, tidak ada lagi senyum tulusku.

Seketika sayapku patah dan menjadi sebuah onggokan tanpa makna di setiap sudut kamar gelap di mana nafasku hanya mampu menerbangkan sepotong kapas. Terbatas pada cinta untuk anak-anakku, suami dan orang tuaku. Itulah yang membuatku masih bertahan hidup.

Tidak terasa waktu terus berjalan. Pada Maret 2020, di mana dunia dikejutkan dengan pandemi virus SARS COV-2. Hati penuh rasa haru biru. Ingin rasanya kembali ke rumah sakit dan bergabung dengan teman-teman sejawat. Ingin kembali merasakan atmosfer adrenalin berpacu untuk menyelamatkan jiwa yang lain.

Akhirnya aku mendaftar menjadi perawat relawan pejuang kemanusiaan melawan Covid-19. Dalam prosesnya, aku tidak mendapatkan ijin dari suami, anak-anak dan orang tua.  Di satu sisi, aku merasa ada yang hilang dari jiwaku. Seorang penerus florence nightingale yang harus memilih melewati waktu dengan keluarga tercinta. Bukan bersama para malaikat putih tanpa sayap yang berjibaku di garda depan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang lain.  

Aku merasa dunia tidak adil. Mengapa sebagai perawat tempatku di rumah saja? Perbedaan pemikiran dengan suami dan orang tua, menunjukkan bahwa diriku pun bukan hanya milikku seorang. Masih ada mereka yang mencintaiku dengan caranya sendiri.

…

Aku mendoakan kalian semua para perawat tangguh. Allah selalu menyertai karya pelayananmu. Mungkin hanya sampai di sini saja panggilan jiwaku menjadi seorang perawat. Jalanku sudah terhenti.

Ketika pandemi Covid-19 melaju tak terkendali. Keberadaanku di rumah sangat berarti buat anak-anakku. Kami belajar online bersama. Awalnya kupikir singkat saja, ternyata belajar online diperpanjang dan entah sampai kapan. Banyak peristiwa suka dan duka terjadi selama kami belajar dari rumah.

Baca Juga  Mamaku Pergi sebelum Aku Tiba (1)

Aku, yang mendampingi dua orang anak SD dan satu anak SMP belajar online. Ingin menyerah, tetapi kepada siapa? Hidup terus berjalan. Hikmah yang diambil, ternyata aku bisa lebih pandai mengerjakan matematika SMP kelas 3 pada saat ini, dibandingkan ketika aku masih jadi siswa putih biru. Rupanya, ketika menonton video pembelajaran, aku pun ikut belajar. Ternyata dari semua sisi yang terjadi dalam hidup, kita bisa memetik makna baik dan buruk dari semua peristiwa yang sudah terjadi. 

Yang tidak kalah penting, kami mengalami keterpurukan dalam ekonomi, di mana kehidupan kami bergantung kepada orang tua yang menerima pensiunan PNS. Kami harus pindah dari kota propinsi kembali ke kampung halaman, kota kecil di sebuah kabupaten.

Pekerjaan suamiku di bidang travel agent, pengiriman barang dan logistik, juga terkena imbas dari pandemi Covid-19. Alangkah sulit hidup dipertaruhkan, sehingga uang sekolah anak-anak juga mengalami penundaan yang lama.

Aku pun berjualan roti manis dan kue donat. Tetapi ketika Covid-19 terus meningkat tidak terkendali, sekolah diliburkan, akupun tidak berjualan lagi. Kasihan anak-anak, ketika mereka membantu ibunya berjualan donat, bisa terkena transmisi lokal virus yang mematikan itu. Kedai makanan juga tidak lagi menerima titipan makanan. Kalau pun ada, jumlahnya terus turun. Karena jam buka toko atau kedainya yang di persingkat

Cerita tentang kegagalanku, ku buang jauh pada sudut otak paling belakang. Menekannya pada sebuah kotak hitam di kepalaku, yang tidak ingin aku panggil kembali, meski ada kesempatan kedua untukku.

…

Waktu yang terus berjalan memasuki tiga ratus enam puluh lima hari, menyadarkan aku bahwa aku berhak untuk bahagia. Bahwa hidup terus berjalan dan anak-anakku butuh makanan yang bernutrisi baik dan memenuhi segala kebutuhan primer mereka.

Baca Juga  3W sebagai Wujud ‘Syukur’ Saat Pandemi

Aku ingin sekali mengembalikan senyum riang mereka dan keceriaan untuk menikmati masa anak dan remaja yang bahagia. Bahagia menurut mereka adalah ketika permintaan kecil mereka dapat terpenuhi. Sesederhana mereka meminta kue donat dan segelas susu coklat panas.

Setahun terpuruk dan akankah terus jatuh? Pertanyaan yang terus bergulir di kepalaku. Hari ini, aku memutuskan untuk bangkit, tinggalkan semua masa lalu yang kelam, tetap maju ke depan, berjuang kembali dari awal.

Apabila aku tidak memperjuangkan kembali hidup dan kehidupan yang sudah terlanjur mati ini, akankah aku dapat bertahan dalam kancah lembah duka ini? Hanyalah diriku yang mampu menjawabnya. Semoga Allah Yang Maha Kuasa memberikan kesempatan kepadaku untuk bertobat dan berusaha bangkit dari kejatuhan jasmani dan rohani.

Hikmah apa yang aku petik dari peristiwa ini? Jangan pernah mengambil keputusan di saat marah. Mengampuni dirimu sendiri dan sesamamu, seburuk apapun peristiwa yang sudah kamu alami. Berjuanglah sampai titik darah penghabisan karir yang sudah engkau bangun. Ketika sebuah keputusan sudah di ambil, bertanggung jawab lah dengan keputusanmu, bangkit dan terus berjuang sampai garis finish. 

Bagikan
Post a Comment