f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
dengan teladan

Mendidik dengan Teladan

Alif, putra kami yang baru beranjak dua tahun, tiba-tiba terbangun tengah malam. Dia menangis begitu hebat meminta ibu bapaknya untuk menyalakan video anak dalam gawai. Mau tidak mau, kami menurutinya. Membuka aplikasi facebook dan mencari video idamannya.

Ternyata masalah belum selesai, Alif masih tantrum, menangis sejadi-jadinya karena video yang kami putar tidak sesuai dengan keinginannya. Kami mengalah, dan akhirnya membiarkan dia menangis keras tengah malam kemudian diam dengan sendirinya karena kelelahan. Bagaimana lagi, kami kehabisan akal.

***

Keesokan harinya, saya dan istri saya tanpa diskusi, tiba-tiba sepakat akan satu hal: menahan diri untuk tidak bermain gawai di depan putra kami. Sibuk mengajaknya bermain, mengalihkan perhatiannya dari gawai.

Ajaib, kami berhasil. Sekalipun kami seperti manusia purba yang tidak pernah bermain gawai, dan istri saya sampai meminta maaf kepada para reseller-nya karena slow-respon. Namun, hasil yang kami dapat benar-benar istimewa, putra kami berhasil melupakan sama sekali gawai ayah ibunya.

Kami begitu lega, sambil mengharu biru. Kami sebunyikan gawai kami dan tidak pernah menampakkannya selain dalam keadaan yang benar-benar darurat dan aman dari pengelihatannya.

Peristiwa ini mengingatkan kepada saya atas sebuah kisah hikmah dari seorang Kiai Bangkalan Madura, Kiai Khalil.

Syahdan, Kiai Khalil ditemui oleh beberapa orang tamu, satu keluarga, orangtua dan satu anaknya yang masih balita.

Setelah Kiai mempersilahkannya masuk, tamu itu duduk dan menjelaskan tujuan kehadirannya.

“Kiai, kami gelisah, karena anak kami sangat menyukai gula. Apapun yang dia minta, kalau tidak permen, ya gula. Kami takut terjadi apa-apa dengan kesehatan anak kami.”

Kiai Khalil diam sejenak. Tidak menjawabnya, Kiai malah balik bertanya, “Kamu suka minum kopi?”

Baca Juga  Di Sekolah, Anak Nggak Harus Pintar!

“Suka, Kiai, setiap pagi saya meminumnya,” jawab Sang Ayah.

“Pakai gula?”

“Iya, Kiai. Saya tidak suka pahit.”

“Hmmm … Anda pulang saja dulu, kembali ke sini tiga hari lagi,” pinta Kiai tanpa memberikan apa-apa.

***

Sang Ayah sebenarnya kebingungan, maksud dan tujuan sebenarnya hanya meminta doa, atau segenggam garam yang mungkin bisa menjadi wasilah ‘kesembuhan’ anaknya. Namun membantah perintah kiai tidaklah elok. Sang Ayah pun pamit dan kembali tiga hari kemudian.

“Ini saya yang Jenengan suruh kembali tiga hari yang lalu, Kiai,” Sang Ayah membuka percakapan, setelah duduk nyaman di ruang tamu.

“Owh … Iya, mana putramu?”

“Sana, Nak. Dipanggil Mbah Yai.” Sang Anak serta merta mendekat kepada Kiai. Begitu dekat hingga Kiai Khalil meraih kedua pundaknya.

“Nak. Kamu nggak boleh lagi makan gula, ya.” pinta Sang Kiai.

“Nggih, Yai.”

“Ya sudah, sana kembali ke bapakmu.”

Sang Anak kembali ke bapaknya. Sang Ayah pun heran dengan apa yang dilakukan Kiai Khalil. Mungkin, dalam hatinya ada kekecewaan karena hanya mendapatkan nasihat, yang sudah biasa dia lakukan kepada anaknya.

Ajaibnya, selepas sowan dari Kiai Khalil, Sang Anak benar-benar berhenti dari kebiasaannya memakan gula. “Bagaimana mungkin, hanya dengan nasihat yang singkat begitu, anakku bisa berhenti makan gula.” Penasaran, sang Ayah pun sowan kembali kepada Kiai Khalil.

“Kiai, maaf, sebelumnya, terima kasih, anak saya telah ‘sembuh’ dari kebiasaan makan gula. Tapi bagaimana bisa anak saya sembuh hanya dengan nasihat 4 detik itu, Yai. Kalau (hanya) begitu saja, saya sudah setiap hari, Kiai.” Sang Ayah tidak sabar.

“Anda tahu? Kenapa saya suruh pulang terlebih dahulu dan menunggu tiga hari lagi?”

Baca Juga  Indok : Kasih Sayang dan Kepolosan Seorang Ibu

“Tidak tahu, Kiai.”

“Seluruh keluarga saya harus berpuasa menjauhi gula terlebih dahulu selama tiga hari sebelum saya menasihati anakmu. Untuk itu, mulai hari ini, sebelum menyuruh putramu alangkah baiknya, Anda mulai dari diri sendiri dulu.”

“Siap, Kiai. Insyaallah, akan saya laksanakan nasihat Jenengan.”

Sang Ayah mengucap terima kasih, dan pamit untuk pulang.

***

Rahmania, sering kali, kita sangat sadar bahwa, memberikan contoh teladan ialah metode pendidikan paling ampuh selama ini. Ratusan kali ahli parenting mengingatkan bahwa anak itu sangat mudah meng-copy apa saja yang dia lihat dan dengar dari orangtua mereka. Hingga dalam Al-Qur’an maupun hadis nabi Muhammad berkali-kali memberikan petuah bahwa jangan melupakan diri-sendiri dalam sebuah kebaikan.

Ini menjadi tanda bahwa memberikan teladan jauh lebih baik daripada memberikan tausiah berapi-api. Namun, metode ampuh itu tidak lah tanpa cacat sama sekali. Kelemahan metode ini ialah betapa sulitnya kita memulai segala nasihat dari diri sendiri. Dan dalam waktu yang sama, nafsu kita untuk menasihati orang lain begitu tinggi.

Kita masih ingat juga saat kita berapi-api mengatakan, menyatakan untuk menegakkan syariat, menegakkan keadilan, dan berbuat kebaikan. Namun, sudahkah kita mensyariatkan diri sendiri? sudah adilkah kita kepada diri, dan keluarga kita? Sudah baikkah kita pada orang yang paling dekat dengan kita?

Dan tiga jari itu pun tetap mengarah kepada kita sendiri.

Bagikan
Post a Comment