Berdosa Demi Gaya Hidup dan Gengsi
Pada zaman sekarang ini para remaja lebih sering mengutamakan gaya hidup dan gengsi dari pada kejujuran. Kenapa begitu? Ya, sebab banyak remaja saat ini yang rela melakukan segala hal demi bias mengikuti trend dan terlihat keren dimata temannya. Hal tersebut merupakan sebuah goals bagi dirinya. Padahal seperti yang kita ketahui bahwa remaja yang sesungguhnya ialah mereka yang mampu menjadi diri sendiri serta berkomitmen dalam memilih gaya hidupnya.
Sebagian besar remaja sekarang ini menyalahgunakan gaya hidup, salah satunya remaja yang tinggal di kota metropolitan. Sebagian besar dari mereka lebih senang mengikuti trend modern yang saat ini sedang gempar di media sosial. Contohnya, berpakaian ala-ala Korea, rambut disemir bagaikan rambut jagung, dan nongkrong di club malam. Bukankah semua hal tersebut membuat diri kita menjadi terbebani? Seperti halnya saya, seorang wanita berhijab, tetapi ingin disemir biar kelihatan nyentrik dan gaul seperti anak zaman now. Aneh sekali rasanya jika saya memutuskan untuk mewarnai rambut, tetapi tidak bisa pamer ke media sosial.
Pencurian Helm Cargloss
Dahulu, saya punya teman satu kelas ketika duduk di bangku SMA, sebut saja Rendi. Dia adalah seseorang yang terkenal lumayan nakal, jail, dan bandel pada zamannya. Bolos, berbohong, dan keset merupakan kegiatan yang sudah menjadi hal yang wajar baginya. Suatu hari, salah satu teman dari kelas sebelah mengeluh karena kehilangan helm. Keadaan masih biasa saja, “Ya, mungkin dipinjam orang tanpa izin, toh nanti juga bakal balik,” anggapan orang-orang di sekitarnya.
Namun, beberapa hari kemudian bukan lagi teman satu angkatan, melainkan adik kelas saya yang masih duduk di bangku kelas sepuluh. Kabarnya, ia juga kehilangan helm barunya yang sedang trend saat itu yaitu helm cargloss. Berita tersebut langsung terdengar di segala sudut sekolah, bahkan sampai ketelinga bapak dan ibu guru. Sayangnya, pihak sekolah tidak mengambil tindakan yang tegas mengenai hal tersebut. Pihak sekolah hanya mengingatkan untuk berhati-hati dan harus izin terlebih dahulu kepada pemilik helm sebelum meminjam. Bagaimana tidak kesal? Walaupun hanya helm, tapi setidaknya-kan harus merogoh kocek yang bisa dikatakan jumlahnya lumayan nampol. Upsss..
Di kemudian hari saya dan se-komplotan teman saya iseng mencari info cctv parkiran sekolah karena keingintahuan kami yang begitu dalam mengenai siapa pelakunya. Dan akhirnya, terungkap sudah! Tampak dalam video itu terlihat si Rendi ini mengambil helm persis dengan helm yang hilang, Cargloss. Sontak saja kita geram melihatnya dan saat itu juga teman saya nekat melaporkan kepada Kepala Sekolah.
Mencuri untuk Memenuhi Gaya Hidup
Beberapa jam kemudian si Rendi ini dipanggil oleh Kepala Sekolah, entah lah diinterogasi bagaimana. Yang jelas setelah itu dia hanya diminta untuk mengembalikan helm tersebut dan meminta maaf tanpa ada hukuman apapun yang diberikan kepada pelaku. Geram rasanya hmm… Sekilas cerita, motifnya mencuri helm adalah agar terlihat ‘wahh’ di mata orang karena ‘gonta-ganti’ helm,wkwk norak. Padahal hal seperti itu justru membuat orang lain menjadi benci dan geram, rasanya ingin menelan orang tersebut. Bergaya ‘sok’ punya padahal hasil dari mencuri. Mirisnya milenial zaman sekarang.
Pada sisi lain, ketika kami para pejuang kelas dua belas sedang merancang BTS (Buku Tahunan Sekolah). Si Rendi ini terpilih menjadi panitia, entah mengajukan diri atau menyogok temannya agar dijadikan panitia. Heran… sudah ke-gap dan dicap pencuri namun tak punya malu masih mau menampakan diri di dalam forum besar angkatan.
***
Di akhir masa sekolah, buku tahunan sudah mulai dirancang dan hampir menuju kata finish, namun kejanggalan mulai berdatangan. Berawal dari teman saya,sebut saja Dewa. Ia mengeluhkan bahwa uang BTS milik kelasnya yang ia simpan di kamar dan ditaruh di sebuah gelas besi, hilang. Uang dengan nilai lumayan banyak, lima juta rupiah. Hilang tanpa sisa, kebingungan semua panitia semakin mobal. Setelah diselidiki diambillah kesimpulan si Rendi yang mengambil, karena pada saat sebelum hilang si Rendi ini sempat menginap di rumah Dewa.
Dewa pun sempat melampiaskan kesalahan ini bahwa memang Rendi lagi-lagi pelakunya. Namun, dengan sangat terkejut dugaan kami itu salah. Kenapa? Ya, ternyata Dewa dan Rendi sudah berniat me-nilep uang tersebut. Namun konyolnya si Dewa malah hanya menuduh Rendi seakan-akan dialah yang salah dan Dewa tidak mengakuinya. Kesal,kesal,kesal yang dirasakan panitia, namun mereka juga tak bisa berbuat apa-apa namanya juga teman sendiri, mau di laporkan hukum juga nanti repot sendiri.
Uang yang diambilnya juga sudah dipakai Rendi dan Dewa untuk membeli handphone. Sangat tidak manusiawi sekali mereka ini dan seperti tak punya malu. Pada akhirnya, sepakat panitia hanya meminta ganti rugi sebesar apa yang telah Rendi dan Dewa ambil. Ya, dengan kemelasan mereka hanya bisa meng-iyakan permintaan panitia.
***
Dari pengalaman yang saya ceritakan, sebenarnya kita hidup tidak harus memenuhi gaya hidup atau hasrat orang lain agar memuji kita. Cukup menjadi diri sendiri dan menonjolkan apa yang menjadi kelebihan masing-masing akan lebih bisa membuat orang kagum terhadap diri kita. Kalau hidup hanya untuk bergaya-gayaan lalu untuk apa kita sekolah? Membuang-buang duit saja. Untuk apa kita belajar kejujuran? Bukankah kejujuran adalah suatu sikap yang paling utama bagi manusia? Sekali nya kita berbohong orang lain akan sulit menimpa kepercayaan kepada diri kita.
Berperilaku jujur itu sangat mudah dan di segala aspek sosial kehidupan kejujuran itu sangat penting. Cobalah hidup dengan kesederhanaan yang ada dan bersyukur atas apa yang kita punya. Dari sini kita bisa merasakan nikmatnya hidup tanpa beban, tanpa memikirkan harus begini ataupun harus begitu. Mengalir saja kawan… tidak usah dipaksakan. Apalagi sampai melakukan hal yang tak ‘sronok’ untuk dicontoh banyak orang.
Ubahlah pola pikir kita untuk terlihat ‘wahh’ di mata orang lain, tidak usah bergaya ‘sok’ kalau realitanya kita sendiri kesusahan dan terbebani. Berdandan sewajarnya, jangan ‘sok-sokan’ di depan orang lain, kalem saja. Orang lain akan melihat sisi kebaikan diri kita dengan sendirinya, tanpa kita mengatakan ‘ini lho aku tu begini,aku tu begitu’. Basi gaes, orang lain malah akan illfeel terhadap sikap kita yang ‘sok-sokan’ padahal realitanya kita tidak se-good itu, wkwk. Kunci dari permasalahan ini yaitu jadilah diri sendiri dan belajarlah bersyukur atas apa yang kita miliki. Rahmania, marilah kita berkomitmen akan diri kita masing-masing, pandai dalam mengambil keputusan, dan jangan pernah menjadi orang lain hanya untuk orang lain.
Mahasiswa
