f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Berutang

Kebiasaan Berutang, Kebutuhan atau Keinginan?

Melihat fenomena dalam kehidupan sehari-hari, banyak kasus orang tua yang memanfaatkan anak mereka untuk memperoleh simpati dari orang lain. Seperti kejadian yang sering kita dijumpai, yaitu orang tua yang menyuruh anaknya berkerja di jalanan untuk mencari uang di usia sekolah.

Ada lagi, orang tua yang memanfaatkan anaknya, namun untuk mencapai keinginan anak tersebut. Misalnya, anak dijadikan alasan untuk memperoleh simpati dari orang lain. Yaitu ketika orang tua ingin berutang kepada tetangganya sambil membawa anaknya yang sedang sakit.

Orang melakukannya, karena tekanan ekonomi dalam keluarga untuk memenuhi kebutuhan dasar, sedangkan orang tua memiliki kendala juga hambatan dalam memperoleh pekerjaan.

Sehingga, pilihan lainnya, kebutuhan anak terkadang dijadikan alasan untuk orang tua berutang. Padahal sebenarnya hanya untuk memenuhi keinginan mereka saja. Kejadian tersebut pernah saya temukan di lingkungan sekitar rumah bahkan saya pernah melihatnya secara langsung.

Kisah Berutang

Pagi itu, saya dan ibu saya sedang menjemur pakaian di halaman samping rumah. Tiba-tiba ada seorang ibu yang datang bertamu dengan wajah sedih sambil menangis. Tentu, kami merasa terkejut karena saat itu masih terlalu pagi sekitar pukul 6. Kemudian, ibu itu lalu mengluh tentang kondisi ekonominya yang sedang memburuk terutama saat pendemi Covid-19 saat ini. Beliau menangis dan memohon bantuan pada kami agar meminjamkan uang sebesar 500 ribu untuk biaya kebutuhan anaknya yaitu membeli kuota sekolah, berobat anak balitanya, dan membeli makanan pokok.

Sebenarnya keuangan kami saat itu juga sedang sempit, karena ibu saya sempat diliburkan selama satu bulan lebih, namun karena merasa tidak tega akhirnya kami memutuskan untuk memberikan pinjaman pada ibu itu dengan uang tabungan kami. Sebelum pergi dari rumah kami, ibu itu berjanji akan mengembalikan uang tersebut dalam dua minggu. Setelah menerima uang itu akhirnya ibu tersebut pulang ke rumahnya.

Baca Juga  Pendidikan Kesetaraan Gender pada Anak dalam Keluarga
***

Sore harinya, saya bertemu dengan ibu itu di sebuah toko baju, ketika akan membeli jilbab saya terkejut karena melihat ibu itu sedang berbelanja beberapa pakaian mewah bersama dengan anaknya. Saat itu saya baru sampai di toko baju dan ibu tersebut sudah mengantre di kasir. Namun ibu itu pura-pura tidak melihat kedatangan saya dan justru menghindar saat saya sapa.

Setelah menemukan jilbab yang saya butuhkan, saya bergegas pulang. Saat di jalan saya melihat ibu itu dan anaknya masuk di sebuah restoran. Saya sempat bertanya-tanya dalam hati. Padahal pagi tadi ibu itu menangis saat meminjam uang pada ibu saya karena sedang krisis ekonominya, tetapi sore ini malah berbelanja barang-barang mewah dan makan di restoran.

Saya sempat mendengar keluh kesah dari beberapa tetangga juga, saya mengenai kebiasaan ibu tadi yaitu sering berutang. Bahkan orang yang memberikan pinjaman bagaikan orang yang mengemis haknya sendiri karena harus menagih uangnya yang dipinjam tersebut. Tetapi tetap saja ketika ibu itu datang lagi untuk meminjam uang, mereka tidak tega karena selalu alasannya adalah untuk kebutuhan si anak.

***

Tahukan ayah ibu? Kebiasaan tersebut dapat berpengaruh pada anaknya. Kebiasaan berutang dan senang berfoya-foya; padahal sedang mengalami krisis keuangan. Mereka tetap ingin makan enak, pergi jalan-jalan tanpa memikirkan keuangan keluarga; padahal orang yang memberikan pinjaman juga memiliki kebutuhan keluarganya sendiri. Mereka berusaha menolong atas dasar kemanusiaan; namun justru dimanfaatkan untuk bersenang-senang.

Ketika mau menagih uang tersebut, ibu saya merasa serba salah dan tidak enak. Namun ibu saya memberanikan diri untuk menanyakan uang itu, karena sedang membutuhkan apalagi saat itu sudah lewat dari batas waktu yang dijanjikan. Ibu saya sangat terkejut karena mendapat reaksi yang tak terduga. Si ibu itu malah memaki ibu saya dengan kata-kata yang kurang enak bahkan sampai menyindir seakan-akan ibu saya menindas orang yang lemah.

Baca Juga  Pendidikan Seks pada Anak Usia Dini

Mendengar hal itu saya merasa gereget, sudah ditolong bukannya minta maaf dan memberi alasan karena terlambat mengembalikan pinjamannya malah memaki dan memberikan reaksi yang kurang enak. Tidak hanya itu, saat bertemu pun ibu itu tidak pernah menyapa atau menyicil pinjamannya. Padahal setiap hari sudah bisa berbelanja dan makan enak di restoran. Bahkan ini sudah sampai berbulan-bulan.

Akhirnya, setelah enam bulan, kemudian tiba-tiba anak ibu itu datang ke rumah saya untuk mengembalikan uang yang dipinjam ibunya. Si ibu tidak berani datang sendiri ke rumah saya dan menyuruh anaknya. Saat itu uang yang dikembalikan baru 300 ribu saja.

Dampak dari Berutang

Membiasakan diri berutang pengaruh buruk pada anak. Yaitu hidup boros dan tetap bersenang-senang walaupun uang yang dipakai adalah uang pinjaman. Kebiasaan orang tuanya akan dicontoh anaknya ketika sudah dewasa.

Berutang itu boleh, ketika dalam keadaan yang mendesak dan terpaksa harus berutang. Tetapi saat berutang menjadi kebiasaan, apalagi hanya untuk memenuhi keinginan saja; yang sebenarnya bisa dihindari namun tetap dilakukan. Apalagi sampai menjadikan kebutuhan anak sebagai alasannya itu menjadi contoh yang buruk bagi anak-anak.

Selain itu, baik hutang kepada tetangga, maupun berutang pada bank atau lembaga lain menyebabkan kehidupannya selanjutnya dipenuhi utang. Ketika orang tua terlilit utang dan sudah meninggal, maka anaknya yang harus melunasinya. Kebiasaan itu jika tertanam dalam diri anak dan ketika sudah dewasa. Misalnya, ketika kelak anak menjadi seorang pejabat, bisa saja melakukan korupsi. Sebab kebiasaan berutang bukan karena terpaksa itu hanya bersifat keinginan semata.

Bagikan
Post a Comment