Musibah Bapak Tidak Seberapa!
Luka itu pengalaman, bukan pengetahuan. Kalimat itu saya kutip dari Chatib Basri, seorang penulis dan juga mantan Menteri di Kabinet SBY. Kalimat itu menegaskan bahwa rasa sakit yang sebenarnya hanya dapat dipahami oleh yang pernah mengalaminya, dan tidak akan sama rasanya bagi orang yang hanya sekedar tahu namun belum pernah mengalaminya. Demikian juga dengan terpapar covid-19. Bagi yang hanya kena namun tanpa gejala apalagi tidak pernah terkena Covid-19 sama sekali, akan sulit memiliki rasa yang sama dengan orang yang pernah sakit covid-19 dengan gejala sedang hingga berat.
Bagi yang bergejala berat, setelah sembuhpun masih ada sisa yang biasa disebut sebagai Long Covid. Ibarat luka, bekas luka itu akan terbawa entah sampai kapan. Tentang Long Covid, mungkin banyak yang sudah tahu, tapi kita tidak akan benar-benar paham rasanya bila belum mengalaminya.
Meski sudah sembuh lebih dari setahun yang lalu dari terpapar covid-19, namun saya belum 100% pulih. Long covid yang saya saya alami, menjadikan saya sulit untuk berjalan meski jaraknya pendek.
“Harus naik kursi roda lagi.” Saya berkata dalam hati. Saat itu saya baru turun dari KRL, tiba di Stasiun Bogor, namun dua kaki saya terasa sangat berat untuk dilangkahkan. Salah seorang petugas stasiun Bogor yang memperhatikanku terengah kepayahan, datang menghampiri, “Bapak perlu kursi roda?”
“Iya benar.” Jawabku. Alhamdulillah, ada yang membantu, ujar saya dalam hati. Petugas tersebut mendorang saya menggunakan kursi roda dari peron hingga gerbang keluar Stasiun Bogor.
Setelah saya duduk di mobil online yang saya pesan, supirnya bertanya, “Tadi pakai kursi roda, kenapa Pak?”
“Saya gak bisa jalan dari KRL ke pintu keluar Pak,” jawab saya singkat.
“Bapak itu sebenarnya tidak seberapa.” Sopir itu melanjutkan obrolan dengan kalimat yang mengejutkanku. Saya perhatikan sekilas Pak Sopir itu fisiknya sehat. Berarti dia tidak membandingkan saya dengan dirinya.
***
“Saat kecil saya polio, sehingga kaki saya kecil sebelah. Kemudian saya ditabrak oleh motor sehingga kaki saya patah. Di tahun 2013 kedua kaki saya terbakar, dan setahun yang lalu saya kena covid-19, sehingga dua kaki saya semakin lemah. Musibah ke kaki saya berkali-kali Pak.” Saya mencoba menjelaskan musibah yang terjadi pada saya.
“Bapak gak seberapa.” Respon supir, kembali menjawab dengan singkat. Saya menahan diri untuk tidak menjawab atau berkomentar, menunggu penjelasannya. Saya bukan orang yang ingin dikasihani atau senang dengan respon surprise orang lain. Namun menerima respon seperti ini, rasanya kok aneh juga ya.
”Bapak Alhamdulillah masih bisa bergerak, keluar rumah dan bepergian. Berbeda dengan anak saya. Anak saya lumpuh seluruh badannya. Bahkan untuk memindahkan posisi tangannya saja, perlu bantuan orang lain.” Sopir itu melanjutkan kalimatnya yang membuatku tersentak.
“Awalnya anak saya normal, bisa berlari, naik sepeda, dan bersekolah seperti anak-anak yang lain. Namun setelah usianya 10 tahun, kelumpuhan mulai menggerogotinya, hingga hanya bisa tergeletak pasrah di tempat tidur.” Urai sopir itu yang membuatku tak bisa berkata-kata.
“Kami sudah mencoba segala macam obat baik modern dan tradisional, namun ternyata itu penyakit langka yang belum ada obatnya. Dokter menyatakan usianya tidak akan panjang. Dan benar, di usia ke-24 tahun, ia sudah meninggal.” Ucapannya mulai bergetar, nampak ada kesedihan di ucapannya.
“Dan perlu Bapak ketahui, kelumpuhan itu terjadi kepada 3 anak saya. Anak-anak saya hanya ada 3, dan semuanya menderita penyakit yang sama”. Ujarnya sambil mengacungkan tiga jarinya seolah menegaskan,” Penyakit yang mereka derita semacam penyakit genetik. Dua anak saya sudah meninggal dan anak bungsu saya yang berusia 17 tahun kini masih berbaring di kasur menunggu takdirnya.”
***
Saya kembali terdiam. Hati saya berguncang keras. Saya membayangkan, setelah merawat dua orang anaknya yang berakhir dengan kematian, maka bila takdirnya sama, Pak sopir dan istrinya masih harus merawat satu anak lagi sekitar 8 tahun. Suatu beban yang tidak ringan pada waktu yang tidak sebentar!
Seolah mengetahui apa yang saya pikirkan, pak Sopir itu melanjutkan,” Sekarang saya sudah pensiun. Dulu, saat saya masih aktif sebagai pegawai, setiap hari tidur saya hanya sebentar. Waktu itu saya bekerja dengan sistem shift, dansaya sering mendapat bagian untuk pulang kerja pada pukul 2 pagi. Orang lain mungkin akan segera tidur nyenyak saat sampai di rumah. Selain karena memang waktunya untuk tidur, juga karena sudah lelah bekerja seharian. Tetapi saya tidak. Anak-anak ternyata masih ada yang belum tidur dan butuh bantuan saya, walau hanya untuk sekedar menggerakkan tangan karena pegal, terus-menerus pada posisi yang sama. Saya baru bisa tidur setelah subuh, saat ada yang menggantikan saya.”
“Bila dibilang berat. Memang berat. Saya tidak pernah bertanya-tanya, mengapa ini terjadi pada saya. Mengapa kok yang sakit tiga-tiganya, atau mempertanyakan mengapa tidak ada satupun anak kami yang bisa tumbuh sehat seperti yang lain. Namun Alhamdulillah saya selalu bersyukur. Ada tiga prinsip menghadapi kondisi ini: Ikhlas, bersyukur dan sabar. Dan dari yang saya alami, sabar itu ternyata tidak ada batasnya.” Ujar sopir itu penuh inspirasi.
***
“Saya bersyukur bisa melampaui ujian tersebut hingga saat ini. Kalo istri saya beda, kadang-kadang kesabarannya habis dan kadang-kadang mengeluarkan kata-kata yang mungkin menyinggung anak-anak saya. Namun si Sulung almarhum malah menjawabnya sambil tersenyum, “Bu, kami yang menderita penyakit ini saja sudah menerima kok keadaannya. Tidak apa-apa. Ibu Alhamdulillah, tidak sakit seperti kami”. Kata-kata itu sering menghujam saya dan menjadikan saya selalu berusaha bersyukur sebanyak-banyaknya.” Sekali lagi, perkataan pak sopir itu menginspirasi saya.
Tak terasa, mobil telah sampai ke rumah. Rasa Lelah karena berangkat kerja bakda subuh dari Bogor Ke Jakarta dan pulang pukul 8 malam dengan penuh perjuangan, terobati dengan obrolan penuh inspirasi.
Dengan mengalami mendapat musibah berkali-kali: polio, patah tulang, terbakar dan yang terakhir terpapar covid-19, terkadang saya tergoda untuk mengeluh dengan berkata “Kok saya dapat musibah lagi? Apa tidak cukup musibah yang saya terima?” Meski hal tersebut jarang terjadi, namun saya akui, godaan untuk protes itu ada. Pengalaman dengan mendapatkan cerita dari Pak Sopir tersebut, menambah amunisi saya untuk makin tegar, pantang mengeluh dan fokus berkarya.
Sebagaimana kalimat yang dikutip dari Chatib Basri di awal tulisan ini, memang benar, orang yang kena musibahlah yang akan paling tahu rasa sakit atas musibah yang dialaminya. Namun demikian, jangan kemudian menjadi pembenaran untuk mengeluh dan merasa paling menderita di dunia ini. Ternyata, masih banyak orang yang lebih menderita dari kita, namun tetap bisa bersyukur, mengapa kita tidak?
***
Editor: Imam Basthomi

Dina
Jazakallah khair Pak Iwan… memang sabar itu tanpa batas.. dan setiap orang mendapat ujian kesabaran seringkali di sisi yang dia paling lemah ttg hal tersebut… Mudah2n Allah memberi kekuatan bagi kita semua utk bersabar dalam setiap ujianNya dan lulus dengan nilai yang baik dalam pandanganNya, dan hanya kepadaNya kita semua mengharap pertolongan n Dia sebaik2 pemberi balasan
Winurdin
Masya Allah,
Semoga Allah melimpahkan kesabaran, kesehatan, dan keberkahan kepada kang Iwan sekeluarga
Nur
TErima kasih Pak IWan atas kisah inspiring-nya.