Enteng-Entengan, Membaca Kesetaraan dari Hidangan Sahur
Oleh: Ghifari Yuristiadhi*
Rahmania, ketika kurang dari dua pekan yang lalu Rahma.id launching sebagai portal media inspirasi muslimah, yang ingin menyuarakan perspektif perempuan dalam melihat banyak hal, terbesit di hati saya untuk turut berkontribusi menulis.
Tema yang saya akan angkat ini pun enteng-entengan saja. Begitu kekhasan bahasa yang sering dilontarkan alm. Abdul Rozak (AR) Fachruddin dalam setiap mendiskusikan permasalahan agama.
Tentu, maksud enteng-entengan bukan untuk meremehkan dan menganggap urusan agama itu kecil dan gampang, tetapi menjadikan sesuatu yang seakan rumit menjadi sederhana, yang berat terasa ringan, dan yang sulit terasa mudah.
Itulah Islam. Karena agama ini sejatinya sederhana, ringan, dan mudah diamalkan.
Bulan Ramadan adalah bulan yang pas untuk membicarakan kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam keluarga. Mengapa? Karena ada banyak contoh yang bisa kita bincangkan sekaligus praktikkan dalam kehidupan kita.
Terlebih karena kita masih harus #stayathome, tinggal di rumah saja, karena pandemi Covid-19 yang tak kunjung selesai, maka relasi antara suami dan istri akan terus terjadi dalam intensitas yang lebih intens. Kalaupun sesekali suami atau istri keluar rumah untuk keperluan sesuatu, bisa dipastikan tidak selama hari-hari biasanya sebelum pandemi.
Contoh yang ingin saya sampaikan dalam membaca kesetaraan suami dan istri adalah dari penyajian hidangan sahur. Mari kita renungkan, selama ini siapa yang lebih terbebani untuk menyiapkan hidangan sahur di rumah kita? Mungkin kita akan menjawab pembantu rumah tangga. Iya, jika kita memang punya.
Namun, jika yang tinggal di rumah adalah suami dan istri plus anak-anak (jika sudah dikaruniai), beban menyiapkan sahur ada pada siapa? Dengan berat hati dan harus kita akui adalah istri.
Bagi suami yang selama ini sering bangun ketika mepet imsak, maka perlu banyak-banyak introspeksi dan merenungkan. Jam berapa kira-kira istri harus bangun menyiapkan sahur. Anggap saja jika waktu Subuh adalah 4.30 maka, setidaknya jam 3.00 tau lebih sedikit, istri harus bangun.
Istri kita mulai merebus air, mencuci piring dan gelas kotor sisa semalam, mususi beras dan memasukkan ke mesin penanak jika malam harinya terlupa, dan tentunya memasak sayur dan lauk pauk sahur yang sangat berkorelasi antara kerumitan masaknya dengan durasi waktu yang dibutuhkan.
Maka, ketika suami sudah dimasakkan istri hidangan sahur dengan segala keribetannya kok masih komplain menu dan lain-lain, misalnya.
Tentu perlu merasakan sendiri bagaimana heboh dan tidak mudahnya menyiapkan hidangan sahur. Belum lagi jika istri kita tidak bisa cepat tidur karena anak kita rewel dan belum mau tidur-tidur misalnya, atau punya tugas dan pekerjaan pribadi yang harus diselesaikan.
Bahkan, jika istri harus beberapa kali terbangun di malam hari karena anak kita menangis. Tentu hal ini akan semakin berat dirasakan istri dan mengurangi rasa sakinah (ketenangan), mawadah (cinta) dan rahmah (kasih sayang). Naudzubillah.
Saya menulis artikel ini karena pernah mencoba sendiri. Setidaknya jika saya bangun jam 3 dan mulai melakukan tugas memasak, yang kebetulan menu yang diminta istri juga tidak terlalu rumit, hanya telor dadar sayur dan sayur bayam saja ternyata saya butuh waktu sekitar 45 menit.
Belum ditambah mencuci piring dan alat masak. Secara keseluruhan hampir 1 jam. Setelah jam 4 siap, baru saya bangunkan istri dan kita makan sahur bersama. Luar biasa capek tapi setidaknya saya belajar betapa tidak mudahnya menjadi istri yang secara “given” memang memiliki tugas memasak.
Meski demikian adanya, apa salahnya jika kita meringankan beban istri dengan memasak bersama saat sahur. Pernah mencoba? Tentu sangat romantis.
Hari gini kok masih masak? Order makanan lewat ojol dong! Mungkin pikiran itu terlontar di benak pembaca. Bagi suami istri yang menyepakati hal tersebut untuk sama-sama menghilangkan beban memasak ini, menurut saya silahkan saja. Tetapi saya kurang yakin kita punya saldo unlimited untuk selalu bisa order makanan lewat ojol.
Mumpung Ramadan masih menyisakan 17 hari. Membangun ketenangan, cinta dan kasih sayang suami istri di rumah selama bulan suci ini sangat bisa upayakan.
Berapa banyak orang curhat selama harus #stayathome justru tersiksa karena selama ini komunikasi suami istri tidak berjalan baik, yang kadang terpancing karena hal-hal sepele.
Maka sebaliknya, kita juga harus bisa membangun ulang komunikasi suami istri dengan lebih baik lagi dengan cara enteng-entengan seperti menyiapkan sahur bersama istri.
Dari hal kecil itu, suami akan belajar bahwa dalam banyak hal, urusan rumah tangga menjadi ringan ketika masing-masing suami dan istri bisa bersinergi dan tidak merasa mendominasi dan terdominasi.
Wirokerten, 13 Ramadan 1441 H
*Penulis adalah Suami pembelajar
